
Hah! Kenapa si bocah ingusan ini ada di mana mana, sih?!
"Tante pasti ngikutin aku, ya, sampai sini? Ya, ampun. Aku nggak nyangka kalau Tante ini kelakuannya sama aja kayak temen temen cewekku yang hobinya stalker dan ngefans abis sama aku ini. Hehe," kata Sean sambil tersenyum bahagia sekali.
Dasar si bocah tengil ini!
"Kok, kamu bisa di sini?" tanyaku dengan terheran heran kepadanya. Sean mengeryitkan dahinya. Sama seperti ekspresiku saat ini.
"Loh, seharusnya aku yang nanya kayak gitu ke Tante. Kenapa Tante bisa ada di sini? Pasti Tante ngikutin aku kan, ngaku aja, deh, Tan. Jangan malu malu kayak gitu. Tante, mah, jinak jinak merpati ternyata. Kalau dikejar kejar nggak mau, tapi kalau aku menjauh malahan Tante sendiri yang ngejar ngejar aku," kata bocah ini sambil menyengir kuda.
Aku yang kesal dibuatnya langsung menarik dasinya dan mengencangkan dasinya sampai dia tercekik dan terbatuk.
"Jahat banget, sih, Tante. Tapi aku cinta, sih. Hehe."
Uh! Si tengil ini tidak pernah kapok sama sekali, sih, menggodaku. Kenapa juga seleranya dia tante tante seperti aku?
Kan, teman perempuannya pasti bayak yang mendekatinya bukan di sekolahannya?
Kenapa dia tidak berpacaran dan menikmati masa mudanya saja dengan teman temannya itu.
"Sekolah yang bener kamu. Jangan hobi ngegodain Tante Tante. Dosa," kataku dengan sewot.
"Jutek banget, sih! Pengen cubit pipinya! Gemas!"
Aku yang ilfeel dengannya mulai bergerak menjauh sebisa mungkin.
Takut juga apabila orang yang lewat akan berpiran macam macam tentang kami berdua jika mendapati wanita dewasa berdiri berdekatan dengan bocah SMA seperti ini.
Sean yang mengerti dengan gelagatku itu kemudian dia bergerakmundur menjauhi diriku satu langkah.
Aku mengembuskan napas lega.
Bersyukur dia tahu kondisi juga.
"Tante lagi nungguin ojek online?" tanyanya ketika aku masih sibuk menkuri ponselku.
Kini aku menaikkan pandanganku dan menatap diriya yang selalu tidak pernah bosan menampilkan wajah datarnya.
Menurutku. Tidak baik jika aku terlalu jahat dengan bocah ini. Dia kan hanya menggodaku, tidak sampai kurang ajar terhadapku.
"Iya. Lagi nungguin ojek online tapi tadi di cancel mulu," kataku dengan wajah kusut.
"Gimana kalau Sean anterin Tante pulang ke rumah?" tawar anak ini dengan antusias. Aku yang semula hendak menolak kini malahan terdiam saja. Sebenarnya tidak ada salahnya juga menerima bantuan dari anak ini.
'Menjalin hubungan baik dengan banyak orang tidak ada salahnya sama sekali, bukan?' Tanya gadis batinku dalam hati.
Aku menganggukkan kepalaku dan Sean tampak terlihat bahagia bukan main.
Sean menatakan dia hendak mengambil motornya di parkiran terlebih dahulu dan Sean menyuruhku untuk menunggu dirinya di depan sini.
Aku mengangguk. Ternyata motor Sean jenisnya moge alias motor gede vixion. Aku menelan ludah karena saat ini aku mengenakan rok span sedangkan tidak mungkin sekali aku membonceng miring pada motor vixion itu.
Sean menggaruk kepalanya karena tahu apa yang saat ini sedang aku pikirkan.
"Gimana kalau kamu pakai jaket aku buat nutupin rok kamu kalau kesinkap?" tanya Sean kepadaku.
"Eh?" kataku yang sedang telmi.
Bukan karena aku tidak paham apa maksudnya barusan tetapi karena tadi dia baru saja memanggil namaku dengan sebutan 'kamu', bukan dengan sebutan Tante lagi.
"Iya, pakai jaketku aja," katanya sambil berusaha melepaskan jaket denimnya.
Aku menggelenggkan kepalaku dan mencoba menolakya secara halus.
"Nggak usah. Tetep aja nggak bisa nutupi. Lagian aku nggak bisa melangkah juga. Rokku, kan, ketat kayak gini," kataku sambil melihat ke arah bawah, lebih tepatnya saat ini aku sedang menatap rokku.
Sean menelan ludah, kemudian mengangguk.
Kalau dipikir pikir kasihan juga dia sudah niat sekali mengantarkanku pulang namun aku menolak hanya karena masalah ini.
Ditambah lagi dia sudah susah payah mengeluarkan motornya dari parkiran.
"Gimana kalau kita berdua naik taksi aja?" karanku kepada Sean ketika aku melihat taksi blue bird yang sejak tadi nge teem di depan jalan ini.
Senyum Sean mengembang. Kemudian dia mengatakan kepadaku hendak memarkirkan motornya di dalam dulu lagi.
Aku menangguk. Namun setelah dia pergi aku baru menepuk dahiku sendiri. Lalu nanti dia pulangnya naik apa dari rumahku?
Pikirku dalam hati dan itu telat sekali ketika si bocah tengil itu sudah berlari dengan senyum mengembang ke arahku. Aku yang hendak menanyainya tentang hal tersebut(bagaimana nanti dia pulang ke rumah dan lainnya lainya) malahan kini aku hanya terdiam saja ketika Sean menggenggam tanganku dan mengatakan kepadaku:
"Yuk, buruan," katanya dengan semangat sekali.