
Sepanjang perjalanan dari apartement Hasan sampai ke rumah Anha. Hasan terus saja menggenggam tangan Anha seolah tidak mau dilepaskannya sama sekali.
"Kamu itu, lho! Pakai dua tangan, ih, kalau nyetir. Bahaya tau!" omel Anha sambil mencoba menarik tangan kanannya yang masih digenggam erat oleh Hasan namun hasan hanya menahan senyum saja dan malahan tangan kirinya semakin erat menggenggam tangan Anha.
"Malah senyum senyum," kata Anha sambil memanyunkan bibirnya seperti anak kecil yang sedang merajuk karena tidak dibelikan permen oleh orang tuanya.
Tahukan Anha jika dia saat ini begitu imutnya di mata Hasan? Membuat Hasan sangat gemas. Ingin rasanya Hasan mengangkat Anha dan menjatuhkannya di ranjangnya saja. Kalau tidak ingin juga rasanya Hasan mencium bibir merah yang dimanyun manyunkan itu dan menghimpit Anha di pojokan mobilnya.
Bercinta di mobil? Astaga.
Hasan menggelengkan kepalanya mengusir pikiran yang semakin lama semakin berbahaya itu. Bagaimanapun man always be man. Mereka setiap detik pasti terbesit pemikiran seperti juga.
Tapi Hasan akan berpuasa dan menahan adegan panas di ruang tamunya yang tertunda tadi. Demi merasakan keindahan yang sah dan tidak menimbulkan dosa. Dia sayang dengan Anha, dia tidak akan merusaknya dan akan lebih berhati hati lagi supaya tidak khilaf seperti tadi lagi.
Hasan terkekeh sendiri. Jika mengetahui Hasan berpikiran yang tidak tidak seperti itu. Bisa bisa kepalanya kena jitakan seperti tadi sore Anha menjitak kepala bocah tengil itu.
Anha mengeryitkan keningnya melihat tingkah aneh Hasan yang senyum senyum sendiri tidak jelas itu. Jangan bilang Hasan jadi gila karena lamarannya di tolak? Tidak lucu sama sekali, bukan?
“Mikir apa kamu?!” selidik Anha penuh curiga sambil menyipitkan mata.
Hasan menggelengkan kepalanya.
"Nggak mikir apa-apa, kok,” kata Hasan sambil menatap sejenak Anha yang berada di sampingnya sambil menahan senyum agar tidak pecah.
“Jangan bohong kamu!” desak Anha penuh curiga.
Pipi Anha memerah medengar hal tersebut. Dia tersipu. Bahkan Hasan sudah berkayal seperti itu.
Setelah sampai di depan rumah Anha. Hasan membukakan pintu mobilnya untuk Anha.
Mama yang mendengar suara mobil berhenti di luar rumah melangkah ke arah pintu depan untuk menengok apakah itu suara dari mobil tersebut adalah suara mobinya gebetan anaknya yang baru itu.
Dan ternyata benar. Mama tersenyum bahagia. Senyumnya amat mengembang melihat dua insan sedang kasmaran itu sedang berjalan beriringan melewati pagar halaman rumah mereka.
Semoga Anha dilancarkan sampai ke tahap pernikahan, agar Mamanya ini dapat menimang cucu yang menggemaskan dari mereka berdua. Pasti sangat membahagiakan.
Pasti rumah kecil ini akan terasa ramai. Megingat rumah ini sejak dulu sepi karena Anha hanya anak tunggal dan mamanya selalu jarang di rumah karena selalu sibuk bekerja.
Bayangan anak laki laki kecil berlari ke arah neneknya dan berteriak memanggil ‘nenek, nenek’. Setelah itu Mama menciumi kedua pipi tembam cucunya itu yang menggemaskan.
Mama akan menjadi nenek yang nanti memberi cucunya uang jajan untuk membeli es krim dan mereka berdua bersekongkol jangan sampai ketahuan Anha yang galak dan protectif sekali ke anaknya sambil terkikik geli.
Kepingan angan angan yang indah dari seorang ibu untuk putrinya yang kelak akan membina rumah tangga dengan lelaki yang amat dicintainya.
***
Cuma ngingetin, jangan lupa tinggalkan votes/likes/komen, ya. Siapa tahu kalian keasyikan baca jadinya lupa. Hehe. Mwah. #ciumsatusatu