After Marriage

After Marriage
Nasib Dewi



Ketika Anha membuka dompetnya yang berwarna gliter tersebut untuk mengambil ponsel hendak mengirimi pesan kepada Hasan jika dia hendak pulang saja ke rumah setelah ini, batal mampir ke rumah orang tua Hasan.


Namun, suara bising di luar bilik toilet ini menyita perhatian Anha yang hendak menuliskan pesan untuk Hasan.


“Dasar sialan banget. Bikin emosi aja!” kata seseorang. Dan Anha tahu suara tersebut adalah suara dari Mama Erin.


Anha menelan ludah, kurang sial apa dia sampai terjebak di kamar mandi ini dengan Tante Erin lagi?


“Bener bener mantu sialan! Bikin kesel aja!”


Tak heti hentinya Tante Erin bersumpah serapah dari tadi. Dengan rasa penasaran yang menyeruak dalam hati. Anha bergerak pelan untuk membuka pintu bilik toilet sampai terbuka sedikit dan dia dapat melihat Tante Erin dari dalam sini.


Ternyata Dewi berada di sebelahnya. Apa jangan jangan hubungan Dewi dengan Tante Erin dekat, ya? Tidak seperti hubungannya dengan mertuanya tersebut.


Tante Erin memberikan tasnya kepada Dewi yang berada di sampingnya dengan kasar.


“Nih, pegangin!” kata Tante Erin seperti memberikan tas tersebut kepada kacungnya saja. Entah mengapa Anha terbawa perasaan sampai ikut kesal juga. Kalau itu Anha, pasti sudah dibuangnya tas tersebut. Benar benar tidak menghargai orang sama sekali.


Tante Erin mengibaskan tangannya di depan wajahnya seolah sedang kepanasan karena terbakar emosinya sendiri. Setelah itu Tante Erin mencuci tangannya sambil mulutnya masih aktif mengomel. Dewi yang berada di sampingnya hanya diam dengan wajah yang kasihan sekali.


“Heran, deh, sama Ikram. Kenapa, sih, pilihan ceweknya nggak ada bagus bagusnya sama sekali. Malahan semakin lama, kok, kualitasnya semakin menurun, sih.”


Anha menutup mulutnya mendengar hal tersebut menggunakan telapak tangannya. Setengah tidak percaya juga lantaran nasib Dewi tidak jauh beda dengan nasibnya dulu.


“Ini lagi mantu nggak guna. Heran kenapa juga Ikram nggak buruan nyerain cewek kayak kamu. Sial banget punya mantu nggak ada bagus bagusnya semua,” gerutu Tante Erin kemudian meningalkan Dewi sendirian di kamar mandi ini.


Anha masih mengamati dari celah bilik toilet ini, tidak berani keluar jika Dewi belum pergi dari kamar mandi.


Anha mengeryit, apa matanya salah lihat pemandangan di depannya tersebut? Bahkan Anha mengucek matanya siapa tahu dia salah lihat.


Tampak di depan sana Dewi mengusap air matanya. Dia menangis?


“Nggak papa Dewi. Yang penting kamu masih sama Mas Ikram,” kata Dewi dengan lirih namun masih dapat tertangkap oleh telinga Anha. Nampak Dewi masih menyeka air matanya. Dia berusaha menguatkan dirinya sendiri.


Anha meringis, dia pikir Dewi akan Bahagia dan hidup enak serta diperlakukan seperti ratu ketika menikah dengan pria kaya raya seperti Ikram. Tetapi kenyataannya tidak seperti itu. Nasib Dewi ternyata tidak ada bedanya dengan nasib Anha yang dulu.


Tanpa perlu diberitahu pun Anha sudah dapat menebak bagaimana Dewi disia siakan di rumah besar itu. Apalagi ekonomi Dewi dibawah Anha waktu itu. Pasti kenyang dia makan makian ibu mertuanya.


Entah harus senang atau sedih. Anha lebih memilih untuk tidak simpati kepada Dewi. Itu bukan urusannya. Setelah Dewi sudah berjalan keluar dari kamar mandi baru Anha keluar dari dalam bilik ini.


 


***