
“Saya mau masuk dulu, Mbak. Maaf, tapi saya mau mastiin Anha, Mbak,” kata Ikram mencoba masuk secara paksa tanpa meminta persetujuan dari pemilik rumah.
“Eh, nggak bisa gitu, dong. Nggak boleh masuk di rumah orang, seenaknya.”
Aku menelan ludahku, dapat kusimpulkan dari sini pasti saat ini Mai sedang mencoba menahan Ikram dengan sekuat tenaga supaya Ikram tidak merangsek masuk ke dalam.
“Mas!” kata Mai dengan nada keras dan mungkin kali ini Ikram memang sudah berhasil memaksa untuk masuk.
Tubuhku membeku ketika merasakan langkah seseorang yang mulai mendekat. Jantungku bergedug kencang. Tidak, tidak mungkin itu suara langkah kaki Ikram, bukan?
Aku mencoba melangkah mundur ke belakang kemudian aku memejamkan mataku erat-erat.
Saat ini aku benar-benar sedang tidak ingin bertemu dengan dirinya!
Setelah itu aku mendengar suara barito lain dari arah luar dapur.
"Ada apa ini? Kok, ribut-ribut?" kata seseorang laki-laki yang kuyakini pasti lelaki itu adalah suara dari suami Mai yang merasa terganggu. Aku yang masih gemetar di dalam dapur hanya mampu menebak-nebak apa yang saat ini sedang terjadi di ruang depan sana dari percakapan yang terdengar oleh indra pendengaranku.
"Umi... Umi. Bukannya gaboyeh, ya, masuk-masuk ke lumah olang lain? Kan, kata Umi ga sopan. Iyakan, Umi?" kata Shiren yang tertangkap oleh telingaku.
"Ma-maafkan saya. Saya tadi lagi cari…” suara Ikram terputus seolah tersadarkan akan ucapan anak kecil tersebut. Mungkin saat ini Ikram tersadar jika apa yang baru saja ia lakukan sudah keterlaluan, merangsek masuk ke dalam rumah orang lain.
"Anhanya nggak ada di sini, Mas. Mana mungkin juga saya ngumpetin dia. Kalau emang ada di sini pasti sudah saya panggilin dari tadi," kata Mai berbohong kepada Ikram.
Aku mengembuskan napas begitu lega. Aku sangat bersyukur meskipun aku belum menceritakan semua masalahku kepada Mai namun Mai seolah mengerti jika saat ini aku sedang ada masalah dengan suamiku dan sedang tidak ingin bertemu dengannnya untuk beberapa waktu sampai aku tenang.
"Maaf, Mbak. Sekali lagi saya minta maaf. Saya lagi kalut banget. Anha dari semalem nggak pulang ke rumah. Saya udah cariin dia di rumah Mamanya tapi dia nggak ada di sana. Akhirnya saya ke sini karena emang nggak banyak kenalan Anha yang saya ketahui. Tolong kalau seumpamanya nanti Anha ke sini, bilangin kalau saya sama Mamanya khawatir banget sama dia."
Aku menelan ludahku mendengar hal tersebut. Kenapa Ikram membawa-bawa nama Mama juga? Apa jangan-jangan Ikram semalam ke rumahku untuk mencari diriku?
Berarti itu artinya saat ini Mama juga sedang mengkhawatirkan diriku?
Apa yang nanti harus aku lakukan?
Aku menggigit jari telunjukku. Bingung.
Mungkin nanti aku harus menghubungi Mama jika aku saat ini sedang baik-baik saja dan sedang berada di rumah sahabatku supaya Mama tidak khawatir denganku.
Setelah itu aku sudah tidak lagi berfokus dengan percakapan yang terjadi di luar sana. Tetapi dari apa yang baru saja kudengar, sepertinya Ikram sudah berpamit pulang ke pada Mai setelah meminta maaf kepada Mai dan dengan suaminya juga.
Aku menelan ludahku. Menggigit bibir dalamku cukup kuat. Sekarang malahan aku yang merasa begitu tidak enak hati karena keributan yang terjadi barusan itu di sebabkan karena diriku ini.
Dari balik jendela dapur yang letaknya yang berada di sebelah kanan rumah Mai dan tembus langsung menghadap ke arah jalan depan. Aku dapat melihat Ikram yang sedang berjalan ke arah mobilnya yang terparkir tidak jauh dari depan rumah Mai.
Penampilan Ikram saat ini nampak begitu parah tidak seperti biasanya. Dia terlihat begitu berantakan, seolah semalaman tidak tertidur saja, cara jalannya sempoyongan sampai tangannya merambat pada body mobil agar tidak terjatuh. Rambutnya pun terlihat begitu acak-acakan. Benar-benar kusut seperti orang yang tak tau arah tujuan.
Aku hanya mampu terdiam saja.
Jika saja saat ini Ikram menengok ke arah kiri, pasti saat ini dia menemukan diriku yang sedang menatapnya dari balik kaca jendela dengan keningku yang menyentuh kaca jendela dan napasku berembus pelan membentuk embun pada kaca jendela.
Tanganku menempel pada kaca seolah hendak menyentuhnya dari jarak kejauhan.
Kalau boleh jujur, aku masih amat mencintai dirinya.
Rasanya saat ini setiap kali aku menatapnya, bayang dirinya yang sedang telanjang dan berhubungan intim dengan selingkuhannya di kamar hotel Patra seolah terputar kembali di otakku, seolah begitu nyata, membuat dadaku begitu sesak.
Kini Ikram yang sudah berada di dalam mbil nampak menutup matanya dengan tangan kanannya sendiri. Dia menangis. Seolah begitu hancur akan kepergianku.
Sama seperti diriku yang tanpa sadar juga menitikkan air mata hingga jatuh di pipiku. Aku dapat melihat dengan jelas dirinya dari sini karena kaca mobil Ikram tidak tertutup. Ikram memukul stir mobilnya dan mengusap air matanya.
Apa benarkah dia perduli kepadaku dan menyesal akan kepergian diriku dari sisinya.
Hampir saja aku berempati kepadanya. Namun aku mencoba menepis rasa yang sekelebat hadir itu.
Hingga akhirnya dia menyalakan mobilnya dan pergi dari kediaman Mai.
Sebuah tangan menepuk lembut pundak kananku membuatku tersadar dari kesedihanku. Aku berbalik badan. Ternyata Mai dengan wajah cemas yang tadi baru saja mengusap bahuku.
"Kamu nggak papa, kan, An?" tanyanya. Aku mengangguk dan buru-buru mengahapus air mataku.
"Aku nggak papa, kok. Maaf, ya, aku malahan ngerecokin kamu, Mai," kataku sambil menunduk dan memainkan jemariku.
"Maaf juga udah bikin ribut-ribut kayak tadi."
"Nggak, kok. Nggak papa. Kita, kan, sahabat deket," katanya sambil memegang tanganku membuatku menaikkan pandanganku yang semula menunduk kini berubah menatap Mai dengan mata berkaca.
Kemudian setelah itu aku memeluknya begitu erat dan menumpahkan air mataku lagi.
Aku menganggukkan kepalaku dan menghapus air mataku.
"Aku boleh, ya, nginep di sini sampai aku udah mampu ketemu sama Mamaku lagi? Aku nggak berani pulang," kataku meminta izin kepada Mai. Mai mengangguk dan tersenyum dengan lembut.
"Kamu jangan sungkan sama aku, kamu boleh, kok, tinggal di sini selama yang kamu mau. Dan kamu juga nggak boleh sungkan-sungkan sama aku."
Aku menatap Mai lama-lamat sambil masih menangis. Mai… dia memang selalu baik dan selalu lembut sejak dulu padahal dulu aku jahat dan judes sekali dengannya. Tapi lihatnya, pada akhirnya aku malahan meminta pertolongan kepadanya. Malunya aku.
Memang benar kata kebanyakan orang di luar sana. Kau bisa melihat mana sahabatmu ketika kau sedang dalam keadaan kesusahan.
Jika saat ini dia hidup dengan suaminya yang begitu mencintainya dan dua anak lucu seperti malaikat yang begitu memesona. Aku yakin itu semua karena karma baik yang dia dapatnya dari masa lalunya.
Begitupun diriku… perceraianku dengan suamiku, perselingkuhan suamiku terhadapku, Ibu mertuaku yang membenciku. Aku juga yakin itu semua buah karma dari masa laluku.
Tangisku malahan semakin terisak lagi membuat Mai malahan semakin kebingungan dengan diriku yang tiba-tiba menangis hebat. Aku memeluknya dan berbisik kepadanya…
"Aku janji, nggak bakalan judes lagi sama kamu," kataku sambil menangis seperti anak kecil yang tidak dibelikan permen oleh orang tuanya.
Tubuh Mai nampak bergetar sedikit menahan tawa. Jika dulu aku yang judes pasti akan langsung memarahi Mai karena menertawakanku. Namun kali ini tidak. Aku membiarkan saja Mai menahan tawanya.
"Umi-umi. Kok, Tante nangis? Hihi cengeng," kata Shiren ketika memasuki dapur dan melihatku menangis sambil memeluk Uminya. Kini Mai tidak dapat lagi menahan gelak tawanya.
Aku buru-buru melepaskan pelukanku kepada Mai kemudian menghapus air mataku. Gengsi.
Shiren menghampiri Mai kemudian meminta untuk digendong. Hatiku seolah tersentuh melihatnya. Membayangkan bagaimana rasanya menggendong buah hatiku nanti, membayangkan aku yang saat ini sedang berperan menggendong anakku yang lucu seperti Mai.
Jika Ikram tidak selingkuh, mungkinkah saat ini seharusnya aku sudah memiliki bayi lucu dengannya?
Tetapi bayangan Ikram yang telanjang, berhubungan intim dengan selingkuhannya di kamar hotel kembali membayangiku lagi untuk ke dua kalinya. Aku *** rambutku dan memejamkan mataku erat-erat mencoba mengusir kenangan menyakitkan yang seolah menghantuiku itu.
Mai memegang lenganku melihat tingkah anehku.
"Kamu nggak papa?" tanyanya.
Aku menggelengkan kepala.
"Aku nggak papa."
"A-aku udah cerai, Mai," lanjutku dengan suara begitu lirih karena masih ada Shiren di gendongannya. Tubuh Mai menegang, matanya melotot terbuka lebar, seolah kaget dengan apa yang baru saja kuucuapkan.
"Serius?!" kata Mai dengan cukup keras karena syok sambil menutup mulutnya yang terbuka dengan telapak tangannya.
Aku mengangguk. Mai menelan ludahnya kemudian mencoba menurunkan Shiren dari gendongannya.
"Shiren, Sayang. Coba kamu tengok Dek Marwa udah bangun apa belum," kata Mai dengan lembut kepada anak kecil tersebut dengan tujuan agar Shien keluar sebentar dari dalam dapur ini. Shiren mengangguk dengan semangat kemudian berlari melewati pintu dapur.
Lucu.
"Kamu serius? Kok, bisa? Padahal hubungan kalian, kan, kelihatannya baik-baik aja, An, selama ini!"
Aku hanya tersenyum getir mendengar perkataan Mai barusan. Hubungan suami istri yang terlihat di depan publik romantis dan baik-baik saja bukan berarti mereka di belakang juga sedang baik-baik saja. Sekarang aku paham, ini semua mirip seperti pasangan artis yang di depan media terlihat romantis dan baik-baik saja namun setelah itu baru terungkap berita tentang perceraian mereka, bukan?
Mai terdiam sejenak. Manik hitamnya menerjab seolah mengingat sesuatu namun bibirnya kesusahan dalam mengungkapkannya.
"A-An. Se-sebenernya tadi…"
Mai menggantung ucapannya sejenak, agak ragu ketika hendak mengucapkan perktaannya kepadaku.
"Tadi suamimu…Suamimu kayak bukan yang dulu."
"Kenapa?" tanyaku yang semakin penasaran dengan ucapan Mai yang terbata itu.
"Ta-tadi. Kayaknya suamimu matanya merah banget. Da-dan kecium juga bau alkohol. Makanya tadi aku maksa dia biar nggak masuk ke dalem rumah."
Mataku membulat tidak percaya. Aku hanya mampu terdiam.
Tidak mungkin.
***
Kutekuk lututku dan aku menyangga daguku di atasnya. Saat ini aku hanya duduk terdiam sambil melamun di samping rumah Mai yang memang memiliki tempat kosong sebagai pembatas dari rumah Mai dengan rumah tetangganya yang ia rubah menjadi taman kecil serta tempat untuk menjemur pakaian di siang hari.
Entahlah, bahkan saat ini aku hanya melamun saja tanpa ada hasrat untuk memikirkan hal-hal lain. Meluangkan waktuku sejenak untuk menunggu pergantian hari dari sore ke malam.
“Nih, daripada ngelamun aja,” kata Mai yang tiba-tiba datang dari arah belakangku sambil mengulurkan satu cup cokelat hangat kepadaku. Aku tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepadanya.
Kemudian setelah itu Mai menekuk lututnya dan ikut bergabung duduk di sampingku.
Aku meminum setegak cokelat hangat ini. Rasanya begitu enak dan cocok di lidahku, Mai begitu pintar membuat minuman ini padahal selama hidupku aku lebih menyukai kopi dibandingkan cokelat hangat. Rasa cokelat ini manis. Begitu berbanding terbalik dengan kisah hidupku yang amat terasa pahit dan getir.
“Sekarang udah mau cerita?” tanya Mai menagih janjiku untuk menceritakan semua hal kepadanya. Aku mengangguk. Awalnya aku urung untuk bercerita, tetapi setelah kupikir-pikir lagi Mai termasuk tipikal orang yang baik hati dan tentu saja dia pasti dapat dipercaya.
Bahkan siapa tahu mungkin Mai memiliki solusi untuk masalahku ini? Tidak mungkin juga, kan, Mai membocorkan masalah yang sedang aku hadapi kepada orang lain?
Aku menganggukkan kepala. Pelan-pelan aku mulai berani menceritakan masalahku kepada Mai. Ya, meskipun aku bingung hendak memulainya dari mana.
“Aku cerai Mai sama suamiku. Belum, sih, sebenernya. Tapi pasti dalam dekat ini,” kataku sambil menatap cokelat di dalam cup ini.
Mai hanya diam saja, tidak seheboh seperti waktu pertama kali tahu jika diriku sudah bercerai dengan suamiku ketika di dapur pagi itu.
“Aku bingung gimana caranya ngejelasin ke kamu. Soalnya ceritanya cukup panjang banget.”
Mai tersenyum ramah kepadaku. Senyuman itu tidak pernah berubah sejak aku mengenal dirinya dari sejak kuliah dulu. Mai yang baik hati, Mai yang solehah, Mai yang lemah lembut.
“Aku bakalan dengerin, kok.”
Mai menyimak dengan saksama setiap kata yang keluar dari bibir merahku, tanpa berkedip sama sekali, tanpa menyela sama sekali, sehingga percakapan ini lebih cenderung aku yang bermonolog.
“Kamu tahu sendiri, kan, Mai kalau aku ini udah nggak virgin sejak kuliah?” tanyaku kepadanya. Mai mengangguk pelan sebagai jawaban. Mai juga termasuk orang yang tahu kebusukanku luar dalam karena dia juga salah satu orang yang pernah memergokiku sedang berhubungan badan di kamar mandi dengan Ray—mantanku ketika kami masih duduk di bangku kuliah dulu.
“Terus?” tanya Mai sambil menyeruput sedikit cokelat miliknya.
“Mas… Ikram…” Aku menelan ludahku, menggantung ucapanku sejenak.
“Dia… dia nggak bisa nerima diriku yang udah nggak perawan lagi, Mai. Itulah awal dari semua badai di rumah tangga kami.”
Mai tersedak mendengar perkataanku barusan, kemudian setelah itu Mai mengusap bibirnya yang basah menggunakan ujung lengan bajunya.
Aku menatap ke arah atas. Melihat awan yang sudah berganti dengan semburat jingga yang hendak menenggelamkan matahari.
“Tapi aku nggak munafik, Mai. Di sini emang akunya yang salah. Karena sebenernya Ikram sendiri sebelum nikah udah ngasih kode ke aku kalau dia penginnya dapet istri yang masih perawan. Ta—tapi… tapi aku nggak jujur sama dia, Mai. Aku bener-bener nggak bisa.”
Aku menggigit bibir bawahku. Mai membuka mulutnya seperti hendak mengatakan sesuatu namun setelah itu mulutnya mengatup lagi, menelan kembali kata-kata yang hendak ia ucapkan kepadaku.
**
Yang kepo sama akunku. Nah, ini akun sosmedku, ya:
Instagram: @Mayangsu_
Wattpad: @Mayangsu
Email : Mayangsusilowatims@gmail.com
Storial: Mayangsu
Mangatoon: Mayangsu