
"Kan, bisa Mama buatin teh sama Mama ajak ngobrol gitu. Gercep banget kamu ternyata bisa cari calon sendiri. Hebat kamu, An," kata Mama menerocos sambil menyikut lenganku.
Aku memanyunkan bibirku kesal. Untung saja aku sudah makan bersama Hasan tadi.
Bayangkan jika aku belum makan dan pulang pulang sudah diinterogasi oleh Mama seperti ini pastinya aku akan stress bukan main.
Dan satu lagi, apa bila ada lelaki yang hendak main ke sini pun aku tidak akan pernah lagi mengenalkannya kepada Mama.
Kapok bukan main.
Takut jika nantinya Mama akan menginterogasi lelaki tersebut seperti yang dulu pernah mama lakukan kepada Ikram ketika Ikram main ke rumahku.
Mama itu tipe ibu yang sangat protektif bukan main.
Ya, maklumi saja, sih, mengibgat aku ini anak perempuan satu satunnya di tambah lagi masa laluku terbilang buruk.
Makanya mama kini menjagaku dengan hati hati.
Tapi, sayang nya mama itu kelewatan over protectif kepadaku.
Jika ada lelaki yang main ke rumah pasti mama akan menyakan banyak hal mulai dari kenal Anha dari mana? Kamu apa pekerjaannya? Umur berapa? Udah punya pasangan apa belum? Dan lain lainnya sampai menginterogasi ke akar-akarnya sekaligus hingga lelaki itu mati kutu dibuatnya.
"Serius tahu, An. Mama ini kepo banget sama cowok yang nganter pulang kamu tadi," kata Mama sambil menepuk pelan lenganku.
Aku hanya cemberut dan mamang aku ini sedang malas membahas hal ini dengan Mama.
"Ah, udah, ah, Ma. lagian juga nggak penting penting amat, kok. Anha capek banget, Ma. Anha mau tidur."
"Jam empat sore mau tidur mau jadi apa kamu?! Sana bantuin Mama masak," kata Mama sambil berkacak pinggang dan melotot tajam ke padaku.
"Nggak mau, Ah, Ma. Lagian Anha tadi udah makan sama dia, kok, di jala--" aku menutup mulutku karena baru saja keceplosan.
Uh! Bodohnya diriku.
Dan lihat saja! Kini Mama tersenyum semringah puas sekali dengan tentu saja penasaran sekali denga apa yang saat ini ia dengar.
Intinya topik mengenai Hasan yang mengantarkanku pulang ke rumah di mata Mama sangat menarik sekali pokoknya.
"Kalian makan apa? Tadi bahas apa aja sama dia? Terus..."
"Ah, Ma, udahlah, Anha capek banget."
Aku mulai merengek kepada Mama agar dibiarkan memasuki kamarku dan agar Mama melepaskan tangannya dari lenganku.
Mama tertawa geli karena mengerjai diriku ini.
"Capek kenapa, sih. Ayo, An, ngobrol dulu sama Mama, hari ini mama izinin kamu nggak masak, deh. Tapi kamu harus ceritain soal cowok tadi ke Mama, oke?" kata Mama mencoba merayuku namun aku tidak akan mau sama sekali memakan umpan yang di berikan oleh Mama.
"Ma. Anha lagi badmood banget, nih. Tadi Anha habis dipecat," kataku mencoba mengalihkan perhatian Mama dari Hasan dan akhirnya berhasil juga.
Mama menutup mulutnya tidak percaya dnegan apa yang baru saja aku katakan kepadanya.
"Yang bener kamu! Serius?" tanya Mama kepadaku untuk memastikan ulang.
Aku menganggukkan kepalaku pertanda iya.
"Hobi banget, sih, An, kamu dipecat. Kayaknya kamu kalau kerja langganan dipecat mulu, deh," komentar Mama malahan semakin membuat kulesu saja.
"Yaudah-yaudah. Sana kamu masuk kamar terus sesegera mungkin tidur. Kasihan kamunya kalau Mama omeli terus."
Dan, pada akhirnya akupun akhirnya bisa lolos dari Mama.
***
Katanya orang cantik akan di permudahkan di dalam segala hal.
Contohnya mudah mendapatkan pekerjaan dan mudah mendapatkan jodoh pula.
Namun lihatlah aku! Aku merasa bahwa kecantikanku ini sudah mulai tidak berguan lagi karena pada kenyataannya entah pekerjaan ataupun pasangan keduanya tidak aku dapatkan sama sekali.
Saat ini aku hanya mampu menatap layar ponselku dengan tidak percaya ketika aku mendapatkan pesan panjang di whatssappku yang berisi bahwa aku tidak lolos interview di perusahaan yang kemarin aku masuki.
Gila saja! Hampir satu bulan lamanya aku diberi harapan palsu oleh perusaahaan itu tapi pada akhirnya aku ditolak juga.
Dan kenapa pula sebegitu banyaknya perusahaan yang kumasuki tetapi aku sampai saat ini aku masih saja belum mendapatkan email balasan hasil interview.
Sekarang aku menyesal sendiri karena kenapa juga dulu aku keluar dari perusahaan asuransi tempatku bekerja jika mengetahui mencari pekerjaan akan sesusah ini ternyata.
"An, dicariin orang, tuh! Buruan keluar, gih!" kata Mama berteriak dari arah luar kamar membuatmu menggerutu sendiri dalam hati.
Siapa, sih, memangnya yang kurang kerjaan bertamu pada jam sepagi ini?Di hari minggu, pula.
Apa lagi aku belum mandi juga. Ditambah aku saat ini sedang kesal bukan main karena lamaranku ditolak oleh pihak perusaahan incaranku itu
"Anha cepetan! Nggak baik bikin tamu nunggu lama," kata Mama berteriak tidak jelas sangat mengganggu sekali indera pendengaranku.
"Sabar dong, Ma!" kataku dengan kesal.Tapi tidak sampai berteriak, kok.
Dan dengan langkah gontai aku berjalan keluar dari kamarlu dengan penampilan rambut acak acakan dan masih mengenakan celana pendek serta kaus kusutku yang semalam kukenakan untuk tidur.
Aku menguap dan menggaruk kepalaku.
Namun mataku yang semula masih ngantuk langsung melotot ketika melihat tamu yang saat ini sedang duduk tegap di ruang tamu adalah...
Hasan!
Mati aku! Kenapa juga Hasan datang kemari!
Ditambah lagi penampilanku saat ini sedang acak acakan dan menjijikan seperti ini.
Hasan pun tampak melongo ketika melihat diriku dengan tampilan seperti ini.
"Aaa... Mama, kok, nggak bilang, sih kalau tamunya temennya Anha. Kan, Anha bisa ganti baju dulu, Ma," kataku sambil berbalik badan dan berlari memasuki kamarku lagi untuk mengganti bajuku.
Hasan yang semula terdiam kini dia tertawa dengan Mama.
"Kan, tadi udah Mama bilang ada tamu. Ngeyel, ih, kamu."
"Ah! Tapi, kan, Anha nggak tahu kalau dia yang main ke sini," kataku sambil mencari baju yang pantas untuk dikenakan dari dalam lemariku kemudian buru buru kukenakan.
Aduh. Aku juga belum sempat sisiran lagi, belum juga aku mencuci muka lagi.
Akhirnya aku dengan asal mengambil sisir dan menolesi bibirku dengan lipstik agar tidak terlihat pucat.
Begini sudah cukup, kan? Kataku dalam hati ketika meliahat pantulanku pada cermin yang suka oke.
Sekarang aku baru berani untuk menemui Hasan di luar sana.
Aku buru buru berjalan lagi ke arah luar kamar.
Mama saat ini sedang sibuk melayani tamuku dan memberinya teh hangat serta menyajikan toples transparan berisi biskuit kelapa kepada dirinya.
Memang tata krama dari kelarg ku setiap tamu yang datang memang wajib dijamu dengan sebaik mungkin.
Hasan mengucapkan terima kasih kepada mama kemudian mulai meminum teh buatan Mama.
"Buruan duduk dan temenin Nak Hasan ngobrol, An. Mama mau ke belakang buat nyiapin masakan mama yang tadi Mama tinggal," kata mama penjang lebar dan tentu saja aku bisa menebaknya jika mama saat ini sedang berbohong agar aku dan Hasan lebih leluasa bercakap beruda saja tanpa ada gangguan lainnya.
"Kok, kamu dateng ke sini nggak ngabari aku dulu, sih? Bahkan mendadak banget, sih? Kan, kamu bisa ngasih kabar dulu biar aku siap," kataku kepadanya.
Hasan tersenyum kepadaku.
***
instagram: Mayangsu_