After Marriage

After Marriage
Anak Jeng Asih



“Alah. Tadi Mama nge-WA kamu kalau Mama lagi sakit aja kamu malahan lebih berat di pekerjaan kamu. Tapi sekarang kamu sok sokan nelpon Mama. Udahlah, sana kamu cari sendiri rumah sakit tempat Mama di rawat.”


Jeng Asih buru buru mematikan panggilan teleponnya secara sepihak.


“Biasa Jeng. Anak aku yang cowok, dia itu kerjaannya, ya, cuma kerja, kerja, dan kerja terus. Sampai gemes sendiri saya itu. Umur segitu udah saya uber uber buat nikah tapi tetep aja dia lebih ngeberatin pekerjaannya.”


Mama terkekeh mendengar hal tersebut.


“Oh, iya, Jeng. Saya pamit dulu, ya, mau keluar sebentar. Nanti saya balik lagi,” kata Mama sambil berdiri. Awalnya Anha senang karena dikiranya mereka akan pulang, tapi ketika mamanya berkata pelan, ‘kamu di sini dulu, ya, jagain Jeng Asih. Mama mau ke Ind*maret beli roti sama buah buahan. Nggak enak tadi mama lupa nggak beli di jalan.’


Hah! Anha hanya melongo. Akhirnya Anha hanya mengangguk karena Jeng Asih memang tidak ada yang menjaga dan kasihan juga kalau sendirian, apalagi Anha juga tidak bisa naik motor untuk sekadar membeli barang barang tersebut di ind*maret.


“Bentar, ya, Jeng. Saya tinggal dulu.”


“Iya. Hati hati, Jeng.”


Tapi anehnya ketika Mama hendak keluar dari ruangan ini. Terlihat Mama saling melemparkan kedipan dengan Jeng Asih seperti memberi kode antara satu dengan yang lainnya.


“Anha. Kamu kerja di mana?” tanya Jeng Asih agar mereka bedua tidak bosan.


“Ah. Anha kerja di perusahaan telekomunikasi, Tante.”


Jeng Asih tersenyum. Senyumannya mirip sekali seperti senyuman yang mama punya. Selalu menyejukkan hati.


“Kamu bisa masak?” tanya Jeng Asih kembali sambil membetulkan posisi bantal yang berada di belakang punggungnya karena posisi bersandarnya terasa kurang nyaman.


“Bisa, sih, Tante. Tapi nggak jago jago amat. Cuma bisa masak sayur sop, sayur bayam, sayur asam, tumis, tempe goreng, ayam goreng. Ya, masakan rumahan kayak gitu, doang, Tante.”


“Ya, ampun. Udah cantik, anggun, kalem, pinter masak. Kurang apa coba. Nggak ada minus minusnya sama sekali,” puji Jeng Asih kepada anak sahabatnya tersebut.


Anha terkekeh senang, sekaligus agak merasa malu malu lantaran di puji puji seperti itu oleh Jeng Asih.


“Ih. Tante, mah, muji muji Anha mulu. Jangan gitu, ah, Tante. Nanti Anha besar kepala, lagi.”


Ketika mereka sedang sibuk mengobrol. Tiba tiba pintu ruangan terbuka.


Anha menoleh ke sana. Dikiranya Mamanyalah yang datang, tapi ternyata bukan Mamanya. Melainkan seorang lelaki dengan setelan jas dan baju kerjanya saat ini sedang terengah engah sambil mengusap peluhnya. Tampak dia seolah tadi sedang berlari untuk sampai di ruangan ini.


Dia siapa?


Dengan buru buru lelaki tersebut berjalan mendekati Anha dan Jeng Asih, dia agak membungkukkan badannya dan memegang tangan ibunya yang saat ini cemberut sambil membuang muka.


Jeng Asih masih pura pura ngambek kepada putranya tersebut.


“Mama kenapa napa pun palingan juga nggak kamu jengukin,” kata Jeng Asih merajuk.


“Ma, nggak gitu. Udah, dong, Ma, jangan ngambek lagi. Jangan ngomong aneh aneh lagi. Aku minta maaf,” kata lelaki itu dengan penuh khawatir sekali kepada Mamanya.


Tanpa tersadar terukir senyum pada bibir Anha.


Lelaki memang terlihat tampan di mata wanita ketika terlihat pada tiga moment berikut;


Sedang bermain dengan anak kecil karena telihat seperti kebapakan.


Ketika sayang dengan keluarganya.


Dan ketika rambutnya basah selesai wundlu dan hendak sholat jumat.


Terlebih perkataan Mama tidak bohong. Dia tampan, hidungnya dari samping saja terlihat begitu mancung. Rahang yang kokoh, paras yang terukir tampan. Bahkan tanpa sadar terlihat semburat merah di pipi putih Anha yang tertangkap oleh penglihatan Jeng Asih.


“Ini Anha. Anak dari sahabatnya Mama yang nemenin mama dari tadi. Cantik, kan.”


Kemudian Anak Jeng Asih baru melirik ke arah samping karena tadi tidak terlalu serius melihat ke sekitar karena saking paniknya karena Mamanya sakit.


Mereka berdua saling tatap dan diam seribu bahasa. Pipi anaknya Jeng Asih juga menghangat ketika melihat Anha.


“Cantik, kok, Ma.”


Pipi Anha semakin memerah saja mendengar hal tersebut.


"Cepet kamu kenalin diri kamu ke Nak Anha," perintah Mamanya bak titah.


Lelaki tersebut mengulurkan tangannya dan Anha menjabat tangan tersebut.


"Nama aku Ha--"


Kugantung lagi :D


Segini dulu, ya, Say. Pala author pusing. Nanti sore kulanjut lagi. Jangan lupa voteess, ya.