After Marriage

After Marriage
Takdir Sebercanda Itu (2)



Apakah dunia itu sesempit ini?


Kenapa takdir sebercanda itu kepada Anha?


Anha sama sekali tidak habis pikir jika dua orang yang menjengkelkan itu ternyata saling kenal antar satu dengan yang lainnya.


Anha hanya mampu terdiam, kedua bola matanya menatap lurus ke depan sana, menatap ke arah dua insan yang menjengkelkan yang sedang bercipika cipiki tersebut seolah mereka sedang temu kangen karena sudah lama tidak bertemu.


Benar kata orang, terkadang… siapa temanmu itu dapat menjelaskan tentang bagaimana dirimu yang sebenarnya. Jika kau berteman dengan orang baik, maka bisa jadi  kepribadianmu akan ikutan terbawa ke arah kebaikan. Pun sama, jika temanmu buruk, bisa jadi kamu terpengaruh keburukan yang dimilikinya.


Tadi Ikram, sekarang Bella. Lalu nanti siapa lagi yang akan mengusik kehidupanya lagi? Tahu begini Anha menolak ajakan Hasan untuk menghadiri acara pembukaan cabang ini.


Tapi terlepas dari itu semua, Anha cukup beryukur karena mereka berdua saat ini sedang tidak menatap ke arahnya.


Meskipun jika Anha dapat bersandiwara untuk terlihat tegar di depan mereka semua. Menghadapi tiga orang menyebalakan seorang diri sejujurnya sangat sulit juga. Jadi… lebih baik Anha mencari aman dengan sebisa mungkin mejauh saja dari sini.


Tangan Anha bergerak memegang lengan kemeja Hasan, membuat Hasan yang sedang asyik mengobrol dengan Dimas dan temannya itu menengok ke arahnya.


"Hasan. Aku mau keluar sebentar, ya?" tanya Anha sambil melipat muka.


Hasan terdiam sesaat, pandangannya masih berfokus kepada kekasihnya tersebut.


"Kenapa?"


"Nggak papa. Aku agak pusingan aja dikit. Di sini terlalu rame banget buat aku. Aku mau cari angin segar dulu."


Tangan Hasan terulur memegang kening Anha untuk mengetahui apakah pacarnya itu sedang demam atau tidak.


Bodo amatlah dengan Dimas dan temannya yang saat ini sedang menyinyir karena merasa iri akan romatisme temannya tersebut. Hasan tidak peduli.


"Nggak kenapa napa, kan? Nggak sakit, kan?" tanya Hasan kepada Anha.


Anha menggelengkan kepala.


"Aku baik baik aja, kok. Cuma pengin keluar aja bentaran cari angina seger."


"Jangan. Kan, belum acara peresmian."


Ada benarnya juga ucapan dari Anha barusan. Saat ini belum memasuki puncak acara inti yaitu acara pemotongan pita sebagai tanda sahnya peresmian kantor cabang baru ini dan juga acara makan malam bersama. Tidak enak juga dengan para kolega apabila Hasan meninggalkan acara.


Hasan mengangguk.


"Perlu ditemenin nggak?"


"Nggak usah. Tamumu masih banyak. Bentaran aja, kok. Sekalian nanti aku mau ke kamar mandi."


Hasan mengangguk. Tidak baik juga apabila Hasan terlalu khawatir sampai akhirnya seperti orang yang terlalu protektif seperti itu kepada pasangannya.


Kini Anha berjalan ke luar ruangan sambil membawa segelas minuman untuk meredakan rasa pusing yang terasa pada kepalanya.


Udara malam hari memang sebenarnya tidak baik untuk kesehatan tubuh. Tapi sesaknya napas karena suasana mencekam yang ia rasakan di dalam sana membuat Anha merasa tidak apalah untuk dihirup sesaat.


Anha melangkahkan kaki lagi untuk agak menepi, dia duduk sendirian di salah satu kursi kosong yang menghadap langsung ke taman yang berada di depannya tersebut, di sini adalah tempat yang pas dari hiruk pikuk di dalam ruangan tadi.


Anha terdim, dia agak mendongak ke atas menatap langit malam yang berwarna hitam pekat, menampilkan gemerlap bintang yang bertaburan. Angin malam seolah membelai lembut lengannya yang terbuka membuatnya sesekali mengusap lengannya sendiri tersebut.


Terkadang ada bisikan halus dari hatinya yang paling dalam. Tentang ketakutan apabila hubunagnnya dengan Hasan akan mengalami keretakan.


Tentang apa yang esok akan terjadi apabila Hasan memaksa untuk mengetahui tentang masa lalu Anha.


Ketika Anha masih sibuk berkutat dengan pemikirannya sendiri. Tiba tiba tangan seseorang memegang pundak Anha, membuat Anha yang semula terdiam kini merasa agak terkejut juga.


Orang itu adalah…


A. Ikram


B. Hasan