After Marriage

After Marriage
Anak Jeng Asih



Hamkan masih ingat betul dengan moment itu. Yaitu moment ketika Hamkan sampai membeli tiket pesawat dengan dadakan setelah mendengar berita jika Mamanya tersebut sakit.


Tapi setibanya di rumah ternyata Mamanya hanya demam saja. Flu kecil.


Mungkin Mamanya terlalu rindu dengan dirinya sehingga melakukan hal tersebut kepadanya.


Hamkan memang pemuda yang baik dan sangat sayang sekali dengan Mamanya serta keluarganya. Baginya keluarga adalah prioritasnya.


Alasan dia masih saja sendiri sampai saat ini adalah karena Hamkan terlalu sibuk dengan pekerjaannya dan belum mendapatkan pendamping yang cocok dengan dirinya.


Tapi Hamkan tidak pernah mengira sama sekali jika sekarang Mamanya sampai merepoti Anha juga.


“Ah, nggak papa, kok. Aku seneng seneng aja ngejengukin Tante Asih. Tante Asih juga orangnya baik banget,” kata Anha sambil tersenyum senang.


Tetapi bodohnya Hamkan sudah kehabisan bahan pembicaraan lagi. Hamkan melirik ke arah luar jendela mobil sambil memikirkan hendak bertanya apa lagi kepada Anha. Mungkin karena mereka berdua baru saling mengenal antar satu sama lain jadinya masih amat canggung sekali.


Anha pun juga begitu, karena bingung hendak mengatakan apa. Akhirnya Anha memilih memejamkan mata ketika perjalanan pulang. Ditambah lagi rasa kantuk ini benar benar tak terelakkan.


Ketika Hamkan mencuri curi pandang ke samping, lebih tepatnya ke arah Anha yang saat ini meyandarkan kepalanya pada body mobil. Tampak Anha sudah terlelap, namun dia mengusap kepalanya ketika terbentur dengan mobil.


Hamkan kasihan melihat hal tersebut. Akhirnya Hamkan bergerak menggeser posisi duduknya ke kanan lagi mendekat ke  arah Anha dan meletakkan kepala Anha pada pundaknya dengan hati hati agar Anha tidak terbangun.


Supir Hamkan yang melihat kelakuan majikannya dari kaca spion tengah hanya diam dan menahan tawa dalam hati. Seperti itu, kok, teman katanya. Jelas, dong, tidak percaya.


Pak Supir tersebut sengaja menggerakkan laju mobilnya pelan agar majikannya tersebut dapat menikmati moment itu lebih lama lagi.


Tapi tetap saja posisi tersebut membuat posisi Anha terkantuk dan kepalanya bergerak ke depan. Badannya seperti hendak terjatuh.


Dan benar juga, akhirnya tubuh Anha terhuyung kedepan tapi Hamkan menahan pundaknya dan menidurkan Anha pada pangkuan pahanya.


Kasihan Anha. Dia terlihat sangat letih dan tidurnya pulas juga. Ini semua juga gara gara Mamanya.


Hamkan menelan ludah. Wanita ini sangat cantik. Wajahnya putih bersih, hidungnya mancung, dan bibirnya semerah cerry.


Hamkan kini memalingkan pandangannya ke arah luar jendela mobil. Tidak baik menatap wanita ini lama lama. Lagian dia juga sudah milik orang lain.


‘Kurang gercep kamu. Tuh, kan, Anha sampai udah dilamar sama cowok lain.’


Entah mengapa terbesit kata kata mamanya tadi di pikirannya membuat Hamkan terkekeh sendiri tidak jelas. Kenapa juga Mamanya itu sangat menyukai Anha.


Ketika mobil Hamkan sudah memasuki daerah rumah Anha. Hamkan menepuk pundak Anha dan membangunkannya pelan.


“Anha. Kita udah sampai. Bangun, yuk.”


Tapi Anha masih tetap tertidur.


“Anha. Kita udah sampai,” ulangnya untuk ke empat kalinya.


“Bentar, Ma. Lima menit lagi. Anha masih ngantuk,” kata Anha dengan mata terpejam dan setengah mengigau.


Hamkan terkekeh melihat hal tersebut. Kemudian Hamkan menengok ke arah depan melihat supirnya yang cuek dan juga sedang bersantai sambil mengecek ponselnya.


Padahal diam diam tanpa Hamkan sadari supirnya sedang mengirimi info terupdate kepada nyonya besar kalau tuan mudanya sampai pangku pangkuan dengan wanita cantik yang diantarnya pulang.


Biasa, melebih lebihkan cerita supaya dapat bonusan lagi.


Hamkan tersenyum melihat wajah polos Anha ketika tertidur lelap di pahanya.


Baiklah. Lima menit lagi.


Hamkan tidak tega untuk membangunkannya.