
Ikram menatapku dalam diam. Aku tidak dapat membaca apa yang saat ini sedang dia rasakan dalam netra cokelatnya yang redup itu.
" Aku nggak kuat Mas direndahin sama Mama kamu. Aku ngerti kita emang beda kasta tapi aku bener-bener nggak kuat kalau harus direndahin tiap hari sama Mama kamu."
Ikram mengangguk.
"Aku bakalan coba negosiasi sama Mama."
Embusan napas lega keluar dari rongga pernapasanku.
Sekarang aku paham dengan perkataan orang lain mengenai penyebab perceraian bukan hanya sekadar karena orang ketiga, atau karena ketidak harmonisan kedua pihak.
Campur tangan dari salah satu orang tua yang terlalu ikut campur mengurusi rumah tangga anaknya juga dapat menyebabkan terjadinya perceraian.
Aku lega kami bisa berdiskusi seperti ini. Bukan saling diam-diaman satu sama lain. Memang jika seseorang sudah menikah komunikasi adalah suatu hal yang sangat penting.
"Aku janji bakalan menuhin semua syarat dari kamu," kata Ikram sambil berdiri dari posisi duduknya. Kemudian dia memejamkan mata sejenak lalu mengatakan lagi, "Tapi aku juga minta satu hal sama kamu," katanya menggantung.
Aku mengangguk pelan dan mencoba mendengar dengan saksama apa keinginan dari Ikram. Selama aku bisa memenuhinya, pasti aku akan memenuhi.
Ikram berbalik badan hendak berjalan meninggalkanku.
"Aku pengin dalam empat bulan kedepan kita pisah ranjang. Kamu tidur di kamar utama sedangkan aku tidur di ruang kerjaku. Kamu juga nggak boleh nyampuri urusan pribadiku. Begitu pun sebaliknya, aku juga nggak bakalan nyampuri urusan pribadi kamu."
Mataku membulat penuh mendengar perkataannya barusan. Tubuhku seperti tergerak sendiri dan secara otomatis langsung beridiri dari posisi dudukku ketika mendengar permintaannya barusan.
Apa maksudnya?
Seolah mengerti apa yang sedang aku pikirkan, Ikram menyambung lagi kalimat penjelasnya.
"Aku mohon, An. Aku butuh waktu sampai aku bisa ikhlas nerima kamu lagi. Mungkin aja aku butuhin waktu satu minggu, mungkin juga emat bulan, atau mungkin selamanya. Tolong ngertiin keputusanku. Karena untuk saat ini, ngelihat kamu aja rasanya udah sesak banget, An."
Setelah itu percakapan ini selesai.
Diakhiri dengan Ikram yang melangkah ke depan meninggalkanku yang masih mematung setelah mendengar permintaannya barusan.
Aku mengusap lengan kananku, kemudian menjatuhkan bokongku ke sofa kembali.
Aku menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku.
Ya, Tuhan. Kenapa masalah pernikahan kami masih saja serumit ini?
***
Setelah empat bulan...
"Dasar emang nggak becus kamu ngurus suami!"
Aku tersenyum getir setiap kali mengingat makian dari Mama Erin yang dulu pernah ia lontarkan kepadaku.
Tidak becus mengurus suami? Mertuaku salah besar, aku bisa mengurus suamiku dengan baik. Bahkan saat ini aku merasa kalaupun aku memecat tiga Asisten Rumah Tanggaku, aku masih bisa mengurus suamiku dengan sangat baik.
Entah mengapa aku merasa pernikahan merubahku menjadi sosok Anha yang lebih dewasa daripada Anha badung yang dulu kerjaanya hanya shoping-shoping saja. Bahkan terkadang aku sendiri tidak percaya jika selama empat bulan ini aku terlalu menikmati peranku sebagai seorang Ibu Rumah Tangga.
"Kamu itu cuma nggerogoti harta anak saya! Kamu palingan nikahin Ikram cuma buat morotin harta dia!"
Aku menarik rambutku kebelakang. Siapa bilang menikahi orang kaya maka hidup kita tinggal makan enak dan tidur nyenyak? Yang ada malahan direndahkan habis-habisan karena perbedaan kasta yang begitu njomplang. Niat hati menikahi Ikram agar hidupku serba nikmat tetapi kenyataannya aku malahan dihina-hina ibu mertuaku.
Tidak ada yang namanya arisan Mama-mama gaul, hidupku hanya berkutat di dalam rumah saja. Tidak ada yang namanya duduk manis seperti Nia Ramadani yang untuk memasak nasi goreng saja harus dimasakan oleh pembantu.
Hidupku selama empat bulan ini tidak seperti itu, keseharianku juga seperti ibu rumah tangga pada umumnya. Ikram sangat kaya dan memiliki tiga ART tapi bukan berarti aku bermalas-malasan dan hidup seenaknya.
Setiap pagi aku bangun pukul setengah enam, kemudian biasanya aku langsung berjalan ke dapur dan mencoba membuatkan masakan untuk suamiku. Aku sudah bilang setelah menikah banyak aspek dalam diriku yang berubah.
Jika dulunya aku tidak bisa memasak, sekarang aku sudah mulai pandai memasak beberapa menu makanan. Belum terlalu jago, sih. Tapi tidak terlalu buruk seperti dulu.
"Kamu ngasih makanan sampah ke anak saya? Bisa-bisa anak saya mati muda!"
Sekarang aku sudah bisa masak sayur bayam, sayur asam, lauk seperti tempe, ayam, dan makanan harian seperti biasanya. Terkadang ketika sedang weekend aku juga mencoba membuat kue kecil atau brownis untuk cemilan ketika menonton Tv.
Awal pertama kali aku belajar memasak, aku lebih sering menonton tutorial memasak dari youtube kemudian mencobanya di rumah. Terkadang Siti--Asisten rumah tanggaku yang mengajariku berbagai cara memasak.
Ikram sendiri tidak pernah protes kepadaku jika masakanku kurang asin ataupun terlalu keasinan. Dia selalu menghargai usahaku untuk belajar memasak makanan dari caranya yang selalu menghabiskan makanan di piringnya sampai tidak tersisa sedikit pun.
Meskipun selama ini dia tidak pernah memuji masakanku enak. Tapi melihatnya memakan masakanku dengan lahap aku pikir itu sudah termasuk cukup.
Di malam hari sebelum tidur, aku meluangkan waktu untuk menyemir sepatunya dan menyiapkan baju kerjanya untuk besok. Aku tidak ingin suamiku tampil kacau ataupun terlihat asal-asalan ketika bertemu dengan kliennya.
Dalam empat bulan ini kami tidak pernah cekcok apalagi sampai bertengkar hebat. Tentu saja itu semua karena Ikram lebih sering mengabaikanku dan hanya berbicara satu dua kalimat ketika kutanyai.
"Mungkin aja aku butuhin waktu satu minggu, mungkin juga emat bulan, atau mungkin selamanya. Tolong ngertiin keputusanku."
Mataku meredup jika mengingat perkataan Ikram kala itu. Aku paham, dia butuh waktu. Tapi setelah empat bulan ini, apakah aku akan diusirnya? Karena tidak ada tanda-tanda dia menerimaku kembali, namun juga tidak ada tanda-tanda jika Ikram hendak mengusirku dari rumah ini.
Lebih tepatnya dia masih dingin dan mengabaikan keberadaanku.
Aku menggelengkan kepalaku. Terlalu banyak masalah di otakku membuatku begitu pusing.
Aku menggelung rambutku kemudian berjalan menuju ke arah dapur. Siti—pembantu rumah tangga kami sudah cekatan mencuci sayur yang hendak dimasak untuk sarapan pagi ini.
"Hari ini masak sup ayam?" tanyaku kepada Siti. Siti mengangguk kemudian aku mengambil alih wortel, kol, dan sayuran yang tadi dicucinya. Aku memang sekarang lebih sering berkutat di dapur, aku malas jika dianggap Mama Erin pelamas dan kerjaannya hanya menggerogoti harta anaknya saja. Padahal kenyataanya tidak seperti itu,
Ikram memang memberiku uang bulanan sangat banyak, tapi aku tidak seboros itu.
Bahkan aku hanya shoping satu bulan bulan sekali dan membeli makeup hanya itu-itu saja, sisanya aku tabung, siapa tahu untuk kebutuhan dadakan seperti kebutuhan untuk biaya kelahiran anak kami kelak?
Pipiku memanas, gerakan menyalakan komporku terhenti sesaat ketika mengingat hal tadi.
Anak?