After Marriage

After Marriage
Ingin Pulang Saja



Siapa juga yang kesal karena tidak bertemu dengannya?! Justru aku sangat bersyukur, tahu!


Mama ini, membuatku malu saja.


"Denger-denger anakmu lagi sibuk sama pekerjaannya, ya, Jeng? Kami bisa memaklumi, kok. Tapi sayang banget Anha nggak bisa lihat dia. Padahal terakhir kali ketemu sama dia kayaknya udah sekitar setengah tahun yang lalu, ya, Jeng? Kalau nggak salah, tepatnya waktu dia jemput Jeng Asih waktu pulang dari kantor, kan, ya?" kata Mama panjang lebar.


Aku hanya mampu memutar bola mataku ke atas karena lagi lagi aku yang dijadikan kambing hitam.


Dan pada akhirnya aku lebih memilih untuk mengabaikan percakapan tersebut. Tidak tertarik sama sekali untuk terjun ke topik pembahasan mereka berdua.


"Iya. Dia akhir-akhir ini lagi sibuk banget sama usahanya. Sampai saya itu jengkel banget karena dia hobinya mojok sama laptopnya terus di kamar ngurusi project-nya gitu kalau lagi saya tanyain. Kan, saya sebagai orang tuanya khawatir juga Jeng kalau dia nantinya nggak laku. Apalagi umurnya dia udah tiga puluhan. Udah mateng dan udah siap nikah juga."


Mama tertawa kecil mendengar ucapan Tante Asih. Kemudian mereka saling menimpali satu sama lain.


"Ya, sama kayak si Anha ini, Jeng. Dia kalau nggak kerja, ya, cuma tiduran di rumah, doang. Nggak pernah keluyuran dan aneh-aneh, deh, pokoknya."


'Hah! Kenapa juga aku dibawa-bawa dalam topik pembicaraan mereka?' Kataku dalam hati.


"Tapi saya sekali lihat langsung suka, loh, Jeng sama putrinya Jeng Marni ini. Anaknya Jeng Marni ini cantik, kalem, anggun. Saya aja suka. Apalagi nanti kalau anak saya lihat Anha secara langsung. Pasti dia juga sama kayak saya, bakalan suka waktu pertama kali lihat Anha."


Mama mencubit pinggangku. Mengkode diriku yang dari tadi sibuk mengunyah makanan agar segera mungkin merespons perkataan Tante Asih.


Aku tersenyum kecil.


"Ah, makasih, Tante. Anha biasa aja, kok, Tante. Masih harus belajar banyak hal lagi. Hehehe," kataku mencoba tersenyum seramah mungkin kepada Tante Asih agar Mama senang.


"Kalau saya pribadi, sih, Jeng. Tergantung sama anaknya aja. Kan, niatan kita ini cuma ngenalin anak saya sama anak Jeng Asih. Siapa tahu mereka cocok satu sama lain. Masalah takdir mereka bersatu atau engga. Ya, itu urusan belakangan aja. Seenggaknya kita sebagai orangtua berusaha dulu ngenalin mereka berdua. Saya juga udah naksir sama anak Jeng Asih sejak dulu, kok. Anak Jeng Asih itu udah ganteng, sopan, pekerja keras lagi. Mantu idaman pokoknya," kata Mama panjang lebar.


'Kalau Mama suka dengan anak Tante Asih! Kenapa juga tidak Mama yang menikahinya! Mama, kan, juga janda!' kataku dengan kesal dalam hati.


"Iya, saya juga jeng. Saya cuma khawatirnya kalau anak saya terlalu fokus sama kerjaanya nanti tiba-tiba dia tua dan nggak laku, gimana? Gimana kalau nantinya dia bakalan nggak dapet jodoh? Bahkan saya sampai nyaranin dia buat nggodain cewek, loh, Jeng, atau apa gitu saking khawatirnya saya sebagai Mamanya Jeng."


Kemudian Mama dan Tante Asih tertawa bersama. Dan setelah itu mereka melanjutkan obrolannya tetang topik yang lainnya.


Perutku sudah kenyang. Mataku mulai mengantuk. Sedangakan obrolan mama dengan Tante Asih sepertinya bisa sampai memasuki season tiga buku ini.


Aku yang kesal dengan obrolan mama dengan Tante Asih yang tidak selesai- selesai itu kini mulai berinisitif menyenggol lengan mama tapi tindakanku tersebut tidak mempan sama sekali.


Mama masih saja tetap cuek dan asyik bercengkerama dengan Tante Asih seperti sahabat yang sudah sepuluh tahun tidak bertemu saja.


Aku mengembuskan napas lelah. Kapok karena tadi aku mau-maunya ikut pergi dengan Mama. Aku menyangga daguku dengan tangan kananku.


"Jeng, di toko A sana banyak, Jeng, diskonnya. Kapan-kapan kita kesana, ya, Jeng." Tante Asih mengangguk dan menimpali perkataan Mama.


Ya Allah. Kapan ini semua akan berakhir? Kalau restoran belum tutup, sepertinya obrolan mereka tetap tidak akan berhenti.


Aku melihat jam pada pergelangan tanganku sebelah kiriku. Jam tanganku sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Tetapi obrolan mama dengan Tante Asih tak kunjung usai juga.


"Hahaha. Iya, Jeng. Padahal saya dulu itu juga fans garis keras film India Uttaran sama Anandhi. Tapi sekarang sayangnya udah tamat."


Aku melotot ketika mama mengatakan hal tersebut. Dan sialnya Tante Asih merespon ucapan Mama dengan tak kalah antusiasnya juga.


"Iya! Anandinya juga diganti, jadi kesel sayanya Jeng, dan sejak itu saya nggak ngikutin lagi ceritanya. Tapi katanya pemainnya mati karena berantem sama pacar aslinya, ya, Jeng? Saya nonton dan ngikuti itu berit, loh, Jeng di Youtube."


ASTAGHFIRULLAH!