After Marriage

After Marriage
RIVAL



Aku membuang muka setelah aku mengatakan hal tersebut kepada Hasan.


"Pfffftt."


Selang beberapa detik Hasan menutup mulutnya dan tertawa terbahak membuatku malu sekali. Suaranya menggema karena kami saat ini sedang berada di dalam kotak lift ini.


Sekarang aku dapat membayangkan betapa merahnya pipiku. Mungkin di depan Hasan saat ini aku seperti seorang kekasih yang sedang cemburu kepada pujaan hatinya.


"Kamu cemburu, eh?" tanya Hasan yang saat ini menyeka air bening pada sudut matanya karena tertawa terlalu bahagia.


Apa dia tidak tahu jika aku saat ini sangat malu? Ingin rasanya aku memasukkan kepalaku ke dalam closet saja.


"Siapa yang cemburu! Kepedean, ih!" Rutukku dengan kesal. Padahal memang aslinya aku sedang cemburu, sih. Entah mengapa sejak dulu memang aku tidak dapat menyembunyikan ekpresiku yang seperti ini.


Huh!


Aku memejamkan mata, masih malu bukan main.


Hasan kini sudah mulai menetralkan tawanya, mengusap kembali kemejanya yang agak kusut--sedikit.


"Kamu tahu dari mana soal Bella?" tanyanya, malahan membuatku semakin kesal saja. Berarti Hasan memang mengenal Bella. Aku tidak mau menjawabnyak. Oke fine. Aku cemburu. Aku tidak suka. Dan itu menyesakkan.


"Hei," kata Hasan mencoba menarik daguku kembali namun aku menepisnya.


Setelah itu aku terdiam saja. Hasan paham dengan betul jika saat ini aku sedang marah... Yeah, karena cemburu.


"Kamu cemburu?" tanyanya. Dan aku masih saja diam.


Kini Hasan bergerak menyentuh jemariku dan menggenggamnya dengan erat. Hasan tersenyum. Aku memalingkan pandanganku karena aku merasakan saat ini pipiku menghangat. Dan pasti nampak begitu sangat merah juga.


"Bu-buat apa aku cemburu. Aku, kan, nggak punya hak buat cemburu sama kamu. Aku tahu diri, kok, aku bukan siapa-siapa kamu."


Hasan terdiam seketika. Mungkin Hasan tipe lelaki 'yang baik dengan semua orang' dan bodohnya aku menganggap semua perlakuannya selama ini spesial.


Yah, begitulah harafiahnya seorang wanita. Mudah terbawa perasaan dan menganggap semuanya secara berlebihan. Pada akhirnya, mereka kecewa dengan sendirinya.


"Bella cuma temenku aja, kok. Nggak lebih. Aku sama sekali nggak ada perasaan sama dia," kata Hasan sambil menatapku dalam-dalam.


Aku menatap wajahnya. Wajah tampan yang dihasi jambang yang menggoda. Dengan kaca mata minus yang bertengger di hidung mancungnya tersebut.


Namun fokusku bukan pada hidung mancungnya ataupun pada jampang panasnya tersebut. Tetapi fokusku pada manik hitam miliknya yang saat ini sedang menampilkan sekilas bayangan pantulan diriku di sana.


Aku sedang mencari cari kebenaran dalam matanya. Dan, dia tidak berbohong sama sekali akan hal itu.


Mataku membulat sempurna ketika Hasan tiba tiba melangkahkan kaki mendekatiku. Dan menghimpitku pada sudut lift ini.


A-- apa yang hendak ia lakukan kepadaku? Kenapa tiba tiba dia seperti ini.


Aku gerogi. Entah mengapa jarak kami semakin lama semakin terkikis saja. Sialnya aku tidak dapat bergerak mundur sama sekali karena punggungku sudah menabrak dinding lift.


"Ka-kamu mau apa?" kataku dengan gemetar. Aku hendak pergi. Namun Hasan mengunciku dengan lengannya yang mengapit tubuhku pada sisi kanan dan kiriku.


"Nggak ada cewek yang aku suka, An. Aku minta maaf kalau Bella ngusik kamu, atau bikin kamu nggak suka. Kalau kamu mau, aku bisa jauhin dia demi kamu. Asal bukan kamu yang ngejauh dari aku," katanya dengan sangat lirih di telingaku.


Aku berinisiatif untuk mendorongnya agar jarak kami tidak sedekat ini-- yang malahan kini aku menyentuh dada bidangnya yang masih dilapisi stelan kerjanya tersebut. Posisi kami saat ini begitu ambigu.


"Kenapa?"


"Um... CCTV," kataku dengan asal. Yang malahan membuat Hasan terkekeh. Kemudian ia melirik sedikit ke arah pojokan atas tempat kamera CCTV tersebut.


Setelah itu dia cuek kembali.


Hasan memegang tanganku yang berada di dadanya itu. Aku terdiam.


"Sekarang kamu paham, kan, An?" katanya. Pipiku memanas, aku dapat merasakan jantungnya berdetak kencang, ritmenya saat ini mungkin sama dengan detak jantungku ini.


Jantungnya berdegub kencang. Dan itu karena aku?


Hasan tersenyum. Seolah tahu apa yang saat ini sedang aku pikirkan.


"Aku sayang sama kamu. Tapi aku sengaja diem dan nahan diri. Karena aku ngerasa mungkin ini semua terlalu cepet buat kamu."


Pipiku memerah merona.


Hasan memiringkan kepalanya. Dari bahasa tubuhnya, sepertinya ia hendak menciumku.


Aku menggigit bibir hawahku. Bingung hendak melakukan apa. Haruskah aku memejamkan mataku menunggu bibir kami menyatu?


Tapi...


Tapi...


Belum sempat berpikir dengan jernih, Hasan sudah semakin dekat saja. Ia memejamkan mata. Jarak wajah kami semakin dekat. Aku dapat merasakan embusan napasnya yang tidak teratur menerpa pori pori wajahku.


Aku memejamkan mata--meskipun aku tidak tahu apakah ini semua benar atau salah.


Namun kami lupa.


Pintu lift berdenting. Tanda kami sudah sampai ke lantai tujuan.


Ketika aku membuka mataku, seketika itu juga aku terdiam. Apalagi fakta terakhir ketika ternyata di luar sana ada beberapa orang yang hendak masuk ke dalam lift ini melihat posisiku yang sedang di kurung oleh kedua tangan Hasan di sisi kanan dan kiri tubuhku.


Kami berdua... Sangat absurd.


Tapi, gadis itu terdiam. Matanya membulat penuh. Bella. Ternyata ada di antara orang-orang tersebut. Sedang membawa map kuning. Dan tentunya sedang menyaksikan kami berdua yang hendak berciuman ini.


Aku menelan ludahku.


"Be-bela."


Lalu...