
Dengan senang hati Sean duduk kembali di kursi tersebut dan mengulurkan wadah bekal itu kepada Anha yang masih betah memasang wajah sebalnya.
Anha mengembuskan napas lelah. Ya seperti inilah nasibnya jika menghadapi Sean, ia harus memiliki jiwa ‘ngemong’ dengan Sean. Daripada dia melawan Sean dan pada akhirnnya Anha akan didepak dari perusahaan ini. Memangnya siapa yang mau bernasib sial seperti itu?
Anha membuka wadah bekal tersebut dan mendapati ternyata bekal Sean adalah pasta saus pedas dengan udang di dalamnya.
Udang? Entah mengapa hal tersebut megingatkan Anha dengan sesuatu yang malahan membuat Anha semakin kesal saja.
Siapa juga yang tidak ingat dengan adegan udang sialan ketika Anha sedang makan bersama dengan Ikram dan Mama Erin kala itu? Apalagi sampai-sampai Anha dianggap hamil karena muntah-muntah akibat bau udang yang amis itu.
Ingin sekali Anha melempar dengan asal bekal milik Sean untuk meluapkan emosinya jika dia tidak ingat bahawa ini adalah bekal milik keponakan dari petinggi di perusaan ini.
“Aaaaa…” kata Sean dengan manja sambil membuka mulutnya. Kalau saja yang bertingkah imut di depannya ini adalah Ciyin—anak Mai—pasti akan sangat terlihat imut. Tetapi orang di depannya ini adalah anak SMK bandotan yang sok imut sekali membuat Anha semakin kesal saja.
Anha dengan telaten menyuapi pasta tersebut ke dalam mulut Sean.
“Bener-bener keibuan sekali,” celetuk Sisil membuat Sean semakin senang, sedangkan Anha semakin dibuatnya kesal.
Lihatlah, kini sahabatnya malahan saat ini sedang menertawai penderitaannya dari seberang sana.
Sean menopang kepalanya dengan menggunakan tangan kanannya dan dia juga terus menatap lamat-lamat wanita di depannya tersebut dalam diam sambil mengunyah makanan yang disuapi oleh Anha.
Tante idolanya itu begitu cantik, hidungnya bengir, manik mata hitam indah seolah-olah Sean dapat berkaca di sana, rambutnya hitam legam dan panjang yang diikat asal menyisakan beberapa sulur anak rambut yang berjatuhan membuat wanita ‘matang’ di depannya ini terlihat semakin memesona saja.
Memang banyak gadis cantik di sekolah Sean. Memang banyak gadis yang mencoba mendekatinya. Namun semuanya mirip seperti bocah di mata Sean.
Mereka itu manja-manja semua, sukanya merengek-rengek membuat telinganya gatal. Di sana tidak ada yang ‘strong’ seperti tante seksi idamanya itu yang mampu menggendong anak kecil sambil membawa trolli di tangan kirinya.
Mungkin memang efek dari kekurangan figure seorang ibu menjadikan Sean lebih tertarik dengan yang matang seperti Anha.
“Kak Anha. Tolong, dong, kupasin juga kulit udangnya. Aku nggak suka kalau makan udang ada kulitnya juga,” kata Sean dengan asal.
Bukannya dia berniat mengerjai Anha, hanya saja dia ingin berlama-lama dengan tante cantik itu. Lelaki ataupun perempuan jika sedang jatuh cinta pasti akan meluangkan waktu sebanyak mungkin karena tidak ingin pisah walaupun sedetik saja.
Anha yang sudah menahan kekesalannya dari tadi kini pun ia seolah meledak.
Gila saja Sean semakin melujak meminta dirinya untuk mengupaskan kulit udang kecil kecil itu.
Sean malahan menyengir kuda.
“Kak Anha, nanti aku bilangin Koko aku, lho,” kata Sean dengan santainya sambil mengancam Anha.
Anha memutar bola matanya. Adukan saja kalau berani! Ia tidak peduli.
“Nggak peduli! Sana pergi, aku lagi sibuk banget, Sean.”
Sean hanya menyengir kuda dan meggelengkan kepalanya tanda tidak mau. Dia juga masih betah menopang dagunya menggunakan tangan kanannya menatap wajah Anha yang saat ini mulai memerah karena emosi bukan main.
Anha mengepalkan tangannya dengan kesal.
“Coba, deh, Kakak lihat ke arah belakang. Jendela belakang,” kata Sean dengan santay sambil menunjuk arah jendela menggunakan dagunya.
Anha otomatis mengikuti arah mata Sean dan ketika ia menegok ke belakang Anha mendapati Koko sean—CEO di perusahaan ini—ternyata sedang mengamati mereka berdua sedari tadi.
Tubuh Anha tiba tiba melemas. Matanya mengerjab beberapa kali. Hingga akhirnya Anha tidak memiliki pilihan lagi selain duduk dan meladeni bocah tengil ini.
Mau tidak mau Anha pun mengalah, bahkan dia rela tangannya belepotan saus demi mengupaskan udang untuk Sean.
Ketika Anha selesai menyuapi udang tersebut ke dalam mulut Sean. Tanpa disadari Sean menahan tangan Anha yang masih terulur membuat Anha terdiam seketika.
Keningnya mengeryit. Sean menatapnya lamat-lamat. Kemudian setelah itu ia mencium dengan lembut pergelangan tangan Anha.
“Tante. Nikah, yuk, sama aku.”
Hingga kata-kata itu membuat Anha terdiam seketika.
***
Mending sama bocah yang langsung to the point ngajak nikah daripada sama yang tua tapi labil gaberani action dan malahan bikin jealous mulu. #oops.
Kisahnya Sean udah ada. Judulnya Dinikahi Berondong Kaya 😎 skuy langsung dibaca.