After Marriage

After Marriage
Dia Lagi (4)



 


 


“Lepasin berengsek!” maki Anha ketika ciuman Ikram terlepas karena Anha berusaha sekuat tenaga untuk menghindari ciuman tersebut dengan cara menggerakan kepalanya  ke arah samping kiri dan kanan.


Namun Ikram semakin kelewatan, dia memegang dagu Anha agar Anha tidak banyak bergerak dan mencium dia mencium bibir Anha kembali, dan rahangnya kini terasa sangat sangat sakit sekali.


Anha menangis, dia tidak pernah diperlakukan seperti ini sebelumnya. Bahkan Hasan yang notabenenya sebagai calon suaminya saja tidak pernah menciumnya seolah hendak memperkosanya seperti ini.


Dengan amarah yang menumpuk Anha mengigit kencang bibir bawah Ikram sampai dia mengaduh kesakitan dan akhirnya Ikram mundur ke belakang sambil mengaduh kesakitan dan menutup mulutnnya.


Napas Anha berembus cepat. Air matanya membasahi pipinya. Ada rasa amis di mulut Anha dan ketika Anha menyentuh bibirnya ternadapat darah.


Anha menelan ludah, sepertinya tadi dia terlalu kuat menggigit bibir Ikram. Dan benar saja, ketika Anha menatap ke arah Ikram yang sedang kesakitan. Juga Nampak darah pada tangan Ikram.


Sebenarnya Anha tidak tega, tetapi Ikram yang memaksanya untuk melakukan hal tersebut.


Setelah Ikram mengusap bibirnya yang berdarah menggunakan lengannya. Kini Ikram bergerak hendak mendekati Anha lagi.


Anha ketakutan, dia ingin menghindar, namun tubuhnya sudah tidak bisa munudur lagi karena sudah mentok pada tembok yang berada di belakangnya.


Obsesi memang amat menakutnya, seolah menghilangkan akal sehat seseorang. Jika Ikram mau, dia bisa mendapatkan wanita yang lebih cantik dan muda di luar sana. Tetapi kenapa juga Ikram bersih kukuh untuk kembali bersamanya kembali? Merecoki kehidupannya yang sudah indah itu.


Ikram mendekat kembali, tidak jera dengan bibirnya yang sobek dan berdarah tersebut.


Kali ini Anha tidak akan peduli lagi. Kenapa juga di tempat ini sepi! Lelaki ini malahan semakin menjadi jadi saja.


“Aku nggak peduli, An. Mau nggak mau kamu harus tetep balikan lagi sama ak—”


Belum sempat Ikram menyelesaikan ucapannya, tangan Anha sudah bergerak cepat terayun menampar pipi Ikram.


Napas Anha berembus cepat, inilah yang ingin Anha lakukan dari dulu. Menampar Ikram sampai dia tahu diri.


Bahkan Anha merasakan jika telapak tangannya terasa sangat panas, itu artinya tadi Anha menampar Ikram cukup keras juga. Biarlah. Toh, itu semua belum cukup untuk membayar rasa sakit hatinya.


Ikram menatapnya kembali. Anha tidak peduli dengan mata Ikram yang memerah seperti menahan untuk menangis tersebut.


“Pokoknya kamu nggak boleh, An, nikah sama dia. Aku nggak peduli, kamu cuma buat aku seorang.”


Ikram semakin menggila, dia hendak mencengkeram Anha lagi namun Anha berhasil mengelak. Karena takut apabila Ikram menciumnya dengan brutal kembali. Anha mendengang Ikram mengenai daerah pribadinya membuat Ikram tersungkur mengaduh kesakitan.


“Kamu gila! Sampai mati pun aku nggak bakalan mau balikan sama kamu!” kata Anha sambil masih menangis karena sangat ketakutan. Moment ini Anha manfaatkan sebaik mungkin untuk kabur dari sini.


“Anha! Aku nggak bakalan ngizinin kamu nikah sama dia!” teriak Ikram ketika Anha berlari meninggalkannya di koridor ini sambil memegangi daerah yang ditendang kuat oleh Anha tadi.


“Kalau aku nggak bisa nikahin kamu. Maka kamu nggak bakalan nikah sama siapapun, An!”


Anha menutup telingannya. Dia takut dan menangis. Berlari sekencang mungkin seolah olah takut apabila Ikram mengejarnya dari belakang.


Kemudian Anha menabrak seseorang karena hilang fokus.


“Ma-maaf,” kata Anha sambil masih menangis.


Orang itu terheran kenapa Anha sampai menangis sehebat itu.


“Kamu kenapa, An?!”


Hasan menatapnya dengan terkejut. Kemudian Hasan menangkup wajah Anha membuatnya sedikit mendongak.


Padahal Hasan baru saja hendak mencari Anha karena lama sekali tidak kembali dari kamar mandi. Tetapi dia bisa bersimpangan dan bertabrakan dengan Anha yang berlari tidak jelas tersebut.


“An. Kamu kenapa?” ulang Hasan sambil mengamati Anha yang kacau tersebut. Nampak Anha yang gemetar hebat, wajahnya basah oleh air mata, penampilannya kusut tidak seperti tadi.


Anha memeluk erat Hasan dan menangis di dekapannya. Hasan semakin khawatir.


“Aku pengin pulang! Aku pengin pulang. Pokoknya sekarang ante raku pulang!” kata Anha masih membenamkan wajahnya di dada Hasan.


Dia hanya ingin pulang. Itu saja.


“Tapi kamu kenap—”


“Please, aku pengin pulang.”


Anha terlihat amat ketakutan. Hasan mengerti Anha belum siap untuk menceritakan apa yang terjadi.


“Oke ayo kita pulang. Tapi kamu hutang satu penjelasan sama aku.”


Dan akhirnya Hasan mengantarkan Anha untuk pulang ke rumahnya. Acara mampir ke rumah orang tua Hasan mereka tunda dan lain waktu saja.


 


 


***