
Mungkin papanya tidak setuju karena jika Anha janda dengan anak maka nantinya akan merepotkan saja.
Padahal, kalaupun Anha memiliki seorang anak pun Hasan masih bersedia untuk menikahinya dan menyayangi anak Anha sepenuh hati dan memperlakukannya seperti anak sendiri meskipun bukan darah dagingnya.
Ya, walaupun pada kenyataannya ada, sih, orang di luar sana yang mau menerima ibunya namun tidak mau menerima anaknya ataupun keluarga dari pihak laki laki tidak mau menerima si wanita tersebut karena seorang janda, tetapi Hasan bukanlah orang yang seperti itu.
Lengang sejenak di atara mereka. Tampak Papanya berpikir matang matang akan hal ini.
Ketika Papanya menatap kembali ke arah Anha yang masih tertuduk lesu di sofa pada ruang keluarga tersebut. Papanya menilai sejenak. Kalau dilihat lihat wanita tersebut memang tidak buruk, anggun, cantik.
Ya, meskipun Papa Hasan tetap saja merasa kurang.
“Oke terserah kamu. Papa bakalan ngasih restu ke kalian . Tapi bukan berarti papa udah suka sama dia,” kata Papanya sambil diakhiri dengan deheman.
Hasan tesenyum senang. Akhirnya papanya yang keras itu bisa luluh juga.
Setelah selesai mereka berdua pun keluar dari ruangan tersebut dan duduk kembali di tempat semula.
“Nggak papa, kok. Udah beres,” kata Hasan kepada Anha mencoba agar Anha tenang. Ketika Hasan menyentuh jari jemari Anha. Memang rasanya agak dingin sekali.
Papa Hasan menatap kedua insan di hadapannya itu. Yang satu sedang menyunggingkan seyum bahagia karena sudah mendapatkan restu. Sedangkan yang pihak wanita masih tegang karena belum mengetahui keputusan dari calon mertuanya tersebut.
“Saya ngerestuin kamu nikah sama anak saya.”
Anha mengerjab mendengar hal tersebut.
Benarkah?
“Tapi bukan berarti saya ngerestuin seratus persen kalian berdua. Kalau nanti kalian sudah menikah. Kalian harus ngejalani rumah tangga dan menyelesaikan masalah kalian sendiri. Orang tua cuma ngasih restu, doang.”
Baiklah. Anha tidak bodoh bodoh amat. itu artinya keluarga Hasan sudah memberika restu kepada mereka berdua. Tapi Anha belum bisa mengambil hati mereka.
Tapi tidak apa. Anha akan berusaha lebih keras lagi besok hari.
Setelah semuanya selesai. Anha dan Hasan berpamitan untuk pulang. Ketika Anha bergantian menyalami orang tua Hasan. respons Papanya dan Mamanya sudah mulai menghangat.
“Besok main ke sini lagi, ya,” kata Mamanya Hasan sambil mengusap punggung Anha ketika tadi bersalaman.
“Iya, Tante.”
Hasan mengantar pulang Anha. Mereka sampai rumah pukul setengah sembilan malam. Hasan berbincang bincang sejenak dengan calon Mama mertuanya dan mengatakan jika mereka sudah mendapatkan restu dari orang tua Hasan.
“Alhamdulillah. Tante ikutan seneng dengernya.”
“Hasan pamit pulang, ya, Tante. Nggak enak kalau bertamu kemaleman.”
“Loh, serius mau pulang?”
Anha menahan tawa geli. Mama calon mertua seolah tidak rela melihat calon menantunya pulang ke rumah.
“Besok janji, ya, main ke sini lagi.”
Hasan mengangguk. Kemudian berpamitan untuk pulang.
Setelah Hasan pulang. Mama mengunci pintu rumah dan Anha berjalan gontai masuk ke dalam kamarnya.
Entah mengapa hari ini Anha merasa penat bukan main. Padahal tadi dia hanya jalan jalan ke mall saja dan mengunjungi rumah Mama mertua tapi kenapa juga Anha bisa selelah ini, ya.
Baru saja merebahkan punggung di ranjang. Belum ada lima menit lamanya. Tapi tiba tiba Mamanya sudah menggedor gedor pintu kamarnya yang tidak Anha kunci sama sekali.
“Ada apa, Ma?” tanya Anha heran.
“Kamu cepetan berkemas. Ayo buruan temenin Mama ke rumah sakit.”
Anha mengeryitkan keningnya.
“Emangnya siapa, Ma, yang sakit? Tante Ririn? Atau Diego?”
Mamanya sudah terburu buru sekali sampai menjawab pertanyaan Anha ketika Mamanya keluar dari dalam kamar Anha, entah sedang menyiapkan tas dan yang lainnya mungkin.
“Jeng Asih yang sakit. Katanya kakinya kambuh lagi. Dia tadi tiba tiba telepon Mama karena emang nggak ada keluarganya yang nemenin. Kasihan. Cepet Anha buruan!” teriak Mamanya dari luar.
Oh, Jeng Asih, ya. Anha mengingat ngingat sebentar sambil mengikat rambutnya dengan model kucir kuda.
Kalau tidak salah Jeng Asih itu sahabatnya Mama waktu makan malam yang dulu itu.
***