After Marriage

After Marriage
Kolam Renang



Aku mengerjabkan mataku dan merasakan napas halus Ikram yang berembus mengenai leherku. Tubuhku bagian atas polos tanpa sehelai benang pun dan di sebelahku saat ini ada Ikram yang sedang tidur siang begitu pulasnya yang sama halnya bertelanjang dada seperti kondisiku saat ini.


Aku memiringkan posisi tidurku dan kini aku dan Ikram saling berhadap-hadapan. Kuusap dengan lembut wajah tampan suami kesayanganku ini, aku begitu menikmati ekspresi tenangnya ketika tidur.


Aku bahagia karena hubungan rumah tangga kami sudah mulai membaik, meskipun tadi kami tidak sampai berhubungan intim karena ternyata suamiku belum juga siap untuk itu. Jadi tadi Ikram hanya menikmati tubuh bagian atasku saja dan meninggalkan bekas merah di sekitar leher jenjangku.


Jam di dinding menunjukkan pukul dua siang, perutku terasa keroncongan karena dari tadi pagi aku belum juga sarapan. Aku mencoba mengguncang bahu Ikram, mencoba untuk membangunkannya sejenak menanyakan kami hendak makan apa. Apakah aku harus menyuruh Ibu-ibu penjaga villa tadi pagi untuk memasakan makanan untuk kami atau lebih baik pesana makanan dari luar saja.


"Mas bangun, dong. Aku laper, nih," kataku merengek sambil mengusap bahunya.


"Mas..." panggilku lagi namun dia hanya menggeliat dan berbalik badan.


Uh! Dasar si tukang tidur ini!


Tubuhku beringsut mulai bergerak duduk dan mencari baju dan bra-ku yang tadi ditanggalkan oleh Ikram. Kakiku turun ke bawah menginjak lantai yang terasa dingin pada permukaan kulit kakiku. Aku mengenakan kembali atasanku dan berjalan pelan ke arah balkon.


Senyumku mengembang, aku menghirup udara yang masih saja terasa segar padahal ini sudah memasuki siang hari. Mungkin efek dari rindangnya pohon pinus dan cemara yang tumbuh subur di sekitar daerah villa ini sehingga sudah pukul dua pun rasanya masih teduh.


Aku sedikit tersentak ketika tiba-tiba merasakan lengan kekar tiba-tiba melingkar di perutku. Aku cemberut, ternyata itu adalah lengan Ikram yang memelukku dari belakang. Kemudian dia menyandarkan dagunya pada pundakku dan mencium pipiku sekilas membuatku sedikit kegelian.


"Love you," bisiknya mesra pada telingaku.


"Love you too..."


Aku berbalik badan kemudian aku mengalungkan tanganku pada leher belakangnya. Ikram menggesekkan hidungnya pada hidungku membuatku tersenyum. Kemudian pipiku memerah malu ketika kami hendak berciuman namun gagal karena perutku keroncongan.


"Laper," kataku dengan manja.


"Kamu mau makan apa? di restoran atau pesen pakai go food aja? Hari ini aku pengin manjain kamu sebelum kepergianku ke Bandung."


Ikram mencium lembut punggung tanganku membuatku merona. Aku tidak pernah diperlakukan sesepesial ini sebelumnya. Akhirnya pilihan kami berdua jatuh pada memesan pizza dan pepsi menggunakan jasa go food.


Ikram sudah berada di bagian belakang Villa dan sedang asyik berenang. Sebenarnya aku ingin ikut berenang tetapi aku tidak membawa baju dan dalaman untuk ganti, jadi aku hanya bermain air di pinggiran kolam sambil menikmati pepsi dengan pizza yang kami pesan tadi.


Ikram berenang menghampiriku yang sedang mengayunkan kakiku bermain air di pinggiran kolam. Kemudian dia minta untuk disuapi pizza olehku.


"Manja ih! Kayak Diego aja," kataku sambil menyuapinya dan memasang wajah pura-pura kesal. Ikram tertawa dan meminta suapan ke dua lagi.


"Si gembul?" tanyanya. Aku mengangguk dengan semangat.


"Kayaknya udah lama aku nggak lihat dia. Terakhir lihat dia di nikahan kita, kan? Kangen, pengin cubit pipinya."


Aku tersenyum dan membukakan tutup pepsi untuk Ikram.


"Mas..."


Aku menggantung sejenak ucapanku. Ikam melihatku sekilas dan menaikkan alisnya.


Harus tidak, ya, aku tanyakan ini kepadanya?


"Apa?" tanyanya sambil menikmati potongan pizza, bedanya saat ini dia makan menggunakan tangannya sendiri dan sudah tidak kusuapi lagi.


Aku menelan ludahku, aku katakan saja atau tidak usah, ya?


"Ka-kamu punya pandangan tentang momongan nggak? Kamu... nggak pengin gitu punya anak dari aku, Mas?" tanyaku. Gerakan mengunyah Ikram terhenti sesaat, mungkin dia sedang memikirkan jawaban untuk pertanyaanku barusan.


"Um... tentu, lah, aku pengin punya anak sama kamu. Cuma... aku belum siap aja gitu saat ini. Insya Allah, ya, habis dari perjalanan bisnis dari bandung aku bakalan 'usahain' buat anak sama kamu," katanya sambil menyengir jahil. Aku memukul bahunya sambil cemberut, perjalanan bisnisnya, kan, selama dua minggu. Masa iya aku harus menunggu nafsuku selama itu, sih!


"Lama banget, Mas," rengekku dengan manja tetapi suamiku ini malahan tertawa dan mengacak rambutku dengan tangan basahnya ditambah bekas pizza membuatku menganga lebar lalu kuhadiahi pukulan di bahunya.


"Jorok!"


Ikram tertawa kemudian meletakkan kedua tangannya di sisi kanan dan kiri tubuhku kemudian dia mencium bibirku sekilas lalu ia berbalik badan dan berenang bolak balik sampai ke ujung kolam.


Ikram selesai berenang dan mandi pukul setengah empat sore. Kini dia sudah mengenakan baju hitam dengan setelan celana jeans. Pipiku memerah, dia selalu terlihat seksi jika menggelung lengan bajunya sampai sesiku.


Ikram menggandeng lenganku. Rencananya kami tidak jadi menginap di villa ini lantaran penerbangan Ikram diadakan besok pagi pukul delapan sehingga aku harus mempersiapkan kebutuhannya.


Malam ini Ikram mengajakku untuk makan malam bersama dan 'kencan' denganku sebelum dia pergi ke Bandung.


Senyumku tidak pernah luntur sejak tadi. Aku tidak pernah sebahagia ini selama menikah. Meskupun aku harus melewati badai rumah tangga selama enam bulan terlebih dahulu, namun keromantisan yang saat ini kudapatkan kurasa impas.


Perjalanan dari Villa sampai ke tempat makan tersebut memang cukup jauh. Benar-benar memakan waktu yang sangat panjang, kami tiba di sana sudah petang pukul tujuh malam.


Ikram selalu merangkul pinggangku ketika kami memasuki restoran mewah dan romantis ini.


Mulutku terbuka, kemudian aku menutup mulutku dengan tangan kananku tidak percaya.


Candle night dinner!


Ya Tuhan! Aku tidak percaya ini! Ikram tersenyum kemudian menarik kursi ke belakang dan mempersilahkanku untuk duduk. Dengan gerakan malu-malu aku mengangguk dan duduk di sana.


"Kok, kamu nggak bilang kita mau ke tempat kayak gini!"


Aku bersedekap dada dan memasang wajah cemberut kepadanya.


"Eh? Kenapa? Kamu nggak suka?" kata Ikram sambil menggaruk kepalanya. Aku tertawa dan menggelengkan kepala.


"Kan, kalau aku tahu kamu ngajak aku ke sini. Aku bisa dandan dulu yang cantik dan siap-siap pakai dress yang bagus, Mas!" rengekku dengan manja. Ikram mengusap rambutku dengan gemas.


"Kamu tetep cantik, kok, meskipun pakai baju casual kayak gitu. Kamu selalu cantik setiap hari di mataku," puji Ikram kepadaku membuat pipiku memerah.


"Hari biasa aja cantik. Tadi waktu telanjang di kamar juga cantik," katanya seronoh membuat pipiku merah sekali dan mungkin saat ini kepalaku juga sedang keluar asap seperti ekspresi di komik-komik yang pernah kubaca.


Tampak pelayan restoran agak menahan senyumnya dan pipinya terlihat memerah, aku yakin pelayan tersebut tidak sengaja mendengarkan ucapan mesum Ikram barusan. Pelanyan tersebut kemudian berlalu setelah menyajikan makanan pesanan kami di atas meja.


Setelah pelayan tersebut pergi, aku menginjak kaki Ikram dari bawah membuatnya meringis kesakitan yang dia buat-buat. Aku melotot sebal, kadang dia itu memang suka berbicara seenaknya.