After Marriage

After Marriage
Hasan Cemburu



Melihat Anha yang makan dengan belepotan seperti itu, Hasan bergerak membuka pintu mobilnya kemudian mengambil tissue yang berada di dashboard mobilnya, kemudian setelah itu Hasan mengusap  mulut Anha yang belepotan seperti anak kecil menggunakan tissue tersebut.


“Kamu suka banget, ya, sama jajanannya?” tanya Hasan kepada Anha.


“Iya, enak banget. Udah jarang banget nemu Jajanan kayak gitu. Hehe,” kata Anha sambil mengangguk dengan senang.


“Nanti bungkus, deh, bawa pulang kalau emang suka banget. Sepenjual jajannya dan gerobaknya juga boleh.”


Anha tekekeh karena lelucon garing yang dikatakan Hasan tersebut sambil meraup wajah tampan Hasan dengan tanggannya. Ada ada saja dia.


“Mas, bungkusin telur gulungnya dua puluh tusuk lagi, ya,” kata Hasan agak mengeraskan suaranya memesan jajanan tersebut kepada mas mas penjual jajanan anak SD itu.


Anha yang mendengar hal tersebut berbinar karena senang. Walau agak tidak percaya jika Hasan langsung refleks memesankan seperti itu.


Anha menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal sama sekali, tapi… dua puluh tusuk telur gulung itu kebanyakan tahu.


Kemudian Hasan mengusap rambut Anha dengan gemas sekali melihat tingkah dan wajah polosnya yang imut itu.


Anha cemberut karena Hasan membuat rambutnya kini menjadi berantakan, kemudian Anha menepis tangan Hasan itu.


“Kamu itu jahil banget, sih, kayak Sean, deh!” kata Anha dengan cemberut karena Sean juga paling hobi mengusap rambutnya seperti Hasan tadi. Namun karena Anha merasa ada yang salah dengan ucapannya, ia buru buru menutup mulutnya karena keceplosan seperti tadi.


Ba-bagaimana bisa Anha menyebut lelaki lain di sebelah seorang pria yang sebentar lagi akan menjadi calon suaminya sendiri.


Ingin rasanya Anha memukul kepalanya sendiri karena kelewatan bodoh seperti itu. Andai saja Hasan membahas wanita lain—contohnya membahas Bella—ketika mereka sedang bersama pasti Anha akan marah dan kesal bukan main.


Hasan yang semula tersenyum tersebut mimik wajahnya berubah, dia agak kaget mendengar ucapan Anha yang refleks itu.


Anha menelan ludah karena keceplosan.


“Ha-Hasan…” kata Anha agak terbata dan menelan ludahnya karena kini ekspresi Hasan menjadi dingin.


Anha sangat menyesal…


“Hasan, kamu ngambek, ya?” tanya Anha merasa bersalah kepadanya.


“Nggak, kok,” jawab Hasan pura pura biasa biasa saja dan – pura pura tidak peduli sama sekali.


“Bohong, ih. Orang kelihatan banget gitu, kok,” kata Anha.


“Enggak,” kata Hasan singkat sambil mengamati ke sekitar padahal sedari tadi pandangan Hasan selalu tertuju kepada Anha.


Anha mengembuskan napas sebal—meskipun ia merasa bersalah juga. Anha tidak suka jika Hasan seperti ini. Sekarang bagaimana caranya mengatasi lelaki kalau sedang cemburu dan marah? Apa dia harus marah balik kepada Hasan karena biasanya wanita melakukan hal tersebut ke pasangannya, bukan, kalau mereka sedang bertengkar?


Anha berinisiatif memeluk lengan Hasan dan memasang wajah sedih ala puppy eyes dengan mata dibuat seberkaca mungkin.


“Maaf, ya, Hasan. Kamu jangan ngambek, lagi, ya. Pleasee…”


Hasan menatap ke wajah Anha yang memelas itu sambil menelan ludahnya, mana ada lelaki yang bisa marah melihat wajah wanita selucu itu.


Hasan memejamkan mata sejenak dan mengembuskan napas pelan.


“Aku nggak marah, kok. Lagian aku mana bisa marah sama kamu, An,” kata Hasan sambil tersenyum kepada wanita yang dicintainya tersebut. Wanita yang sebentar lagi akan menjadi nyonya Hasan.