After Marriage

After Marriage
Di Apartement Hasan



“Yuk, masuk,” kata Hasan sambil mengulurkan tangannya kepada Anha.


Anha menelan ludahnya karena gugup, ada rasa agak ragu apakah kakinya benar benar akan dilangkahkan dan mengikuti Hasan untuk masuk ke dalam apartementnya? Bagaimanapun sebagai wanita normal pada umunya pasti dia akan berpikiran yang tidak tidak.


Anha meggigit bibir bawahnya, ragu. Masuk ke apartement laki laki? Benarkah tak apa…


Hasan yang membaca situasi tersebut dari mimik wajah Anha paham  betultentang apa yang saat ini sedang berkecamuk di dalam pikiran Anha. Tetapi Hasan senang, itu artinya Anha wanita yang baik baik—dan tentunya hal tersebut mencerminkan jika Anha wanita yang dapat menjaga dirinya dengan baik pula.


Senyuman terukir di bibir Hasan, mungkin Anha memang pilihan yang pas untuknya.


“Yuk, masuk. Aku nggak akan macam-macam, kok. Kamu tenang aja,” ulang Hasan untuk yang kedua kalinya dan memberikan rasa kepercayaan kepada Anha.


Sungguh tidak ada niat apa apa dalam benak Hasan yang paling dalam. Tidak mungkin juga dia akan kurang ajar kepada Anha. Hasan memang introvert dan tidak suka akan keramaian kota apalagi di malam minggu seperti ini.


Kepalanya pasti akan terasa pening, pikirannya tidak akan tenang jika harus mengajak Anha untuk jalan jalan di jantung kota dengan gemerlap  ramainya lampu dan banyaknya anak muda yang berlalu lalang menikmati masa muda mereka.


Anha menatap wajah Hasan dengan saksama. Awalnya Anha ragu, tapi akhirnya dia mau menggenggam tangan yang terulur tersebut. Entah mengapa Anha merasakan gelenyar aneh ketika dia berjalan beriringan dan menggenggam tangan Hasan dari menaiki lift sampai berjalan di lantai tiga tempat apartement Hasan.


Ada kehangatan yang menjalar sampai di hatinya. Kehangatan bagaikan secercah sinar matahari yang mencairkan dinginnya hati.


Anha menatap ke arah samping. Menatap lelaki tampan yang rupanya terpahat dengan indah itu. Dari alis, hidung yang mancung, rahang yang keras, dan jambang yang membuat Hasan terlihat panas dan memesona, tentunya membuat kedua pipi putih Anha bersemu merah.


Tetapi apa mau dikata, setampan apa pun Hasan tetap saja tidak dapat dimilikinya. Ada rasa agak sedih di hati Anha, mungkin hubungannya dengan Hasan hanya sampai menggenggam tangannya untuk beberapa saat ini. Tidak lebih dari itu semua.


Hasan menekan pin pada pintu apartemennya. Setelah itu pintu tersebut terbuka.


“Anggep aja rumah sendiri,” kata Hasan sambil tersenyum kepada Anha. Anha mengangguk, dia cukup terkesima ketika disambut dengan isi apartement Hasan karena ternyata apartement Hasan cukup mewah juga dengan design yang didominasi dengan warna cokelat dan putih. Sofa, lemari, meja, berwarna cokelat dan dinding putih dengan beberapa hiasan dinding lainnya.


“Duduk dulu, An.”


Anha mengangguk, kemudian setelah itu dia mendaratkan bokongnya di sofa besar yang empuk milik Hasan sambil mengamati Hasan yang sibuk di meja bar yang berada tak jauh dari ruang tamu ini.


Hasan terkekeh melihat tingkah lucu Anha.


Setelah selesai berkutat dengan alat pembuat kopi, Hasan kembali dengan dua cangkir kopi dan memberinya satu untuk Anha.


“Makasih.”


Hasan duduk di samping Anha. Anha hanya diam saja karena bingung hendak bicara apa. Dia tidak pandai mencari bahan pembicaraan.


Tanpa diduga sama sekali Anha terpekik kecil ketika Hasan menaikan kakinya Anha dan meletakkannya di pahanya.


“Hasan!”


Pipi Anha memerah dan dia memukul pelan bahu Hasan membuat Hasan hanya mampu terkekeh saja.


“Masih ngambek, hmm, sama aku?” tanya Hasan sambil menyeruput kopinya.


Anha membuang muka dan memanyunkan bibirnya karena sebal, pipinya yang mengembung seperti anak kecil membuat Hasan semakin gemas saja. Ingin rasanya dia mencubit pipi tembam tersebut tapi takut jika nantinya Anha akan semakin marah kepadanya.


“Kamu marah kenapa, sih? Aku nggak bisa, An, nebak nebak isi hatimu kayak gitu. Aku minta maaf, deh, sama kamu.”


Anha tetap saja masih membisu dalam diam. Dia masih jengkel kepada Hasan. Malas melihat pria tampan di sebelahnya itu yang bisa bisa membuat pipinya merona merah sekali.


Kini Anha lebih memilih melihat ke sekeliling ruangan—menatap apa saja, asal tidak menatap wajah tampan Hasan. Beranggapan jika tidak ada orang sama sekali di ruangan ini.


Hasan menggaruk kepalanya. Wanita memang sulit sekali dimengerti.


***


Cuma mau ngingetin. Jangan lupa votes+komen+likes, ya. Siapa tahu kalian keasyikan baca jadi lupa, hehe. :)