After Marriage

After Marriage
Bergosip Ria



“A—apa? Ka—kamu cerai?”


Anha dan Sisil masih tidak percaya ketika mendengar cerita dari Lidya kalau ternyata Lidya sudah resmi bercerai dari suaminya yang pengangguran itu dan hobi meminta uang kepada Lidya yang malahan digunakannya untuk mabuk mabukan.


Anha meringis ketika mendengar cerita tersebut langsung dari mulut sahabatnya itu.


Anha yang diceraikan waktu itu saja rasanya dunianya runtuh seketika. Apalagi Lidya yang selama ini tersiksa dalam pernikahannya dan menjadi tulang punggung untuk keluarganya dan mau melakoni pekerjaan sampingan yang tidak baik itu. Ditambah lagi dua malaikat kecil yang ditinggalkan juga oleh ayah mereka yang perutnya harus diisi oleh makanan ketika mereka lapar. Pasti sangat berat menjadi seorang Lidya saat ini.


Tangan Anha terulur dan menyentuh tangan kiri Lidya yang berada di atas meja itu.


Kasihan Lidya.


Sisil yang menyimak hal tersebut ikutan sedih sambil menyeruput pelan jus alpukat yang tadi dipesannya.


"Kamu yang sabar, ya, Lid," kata Anha menguatkan sahabatnya. Lidya mengangguk dan mengsap air matanya menggunakan tissue yang tadi diambilnya dari dalam tas kecil yang sedang dipangkunya.


Hasan hanya menyimak obrolan mereka bertiga, ingin ikutan nimbrung pun rasanya aneh juga karena tidak terlalu dekat antar satu dengan yang lainnya.


Akhirnya Hasan lebih memilih menyibukkan diri dengan ponselnya untuk mengecek jadwal pekerjaannya minggu depan ataupun email masuk dari kantor apakah ada yang penting atau tidak.


Entah sudah berapa topik yang mereka bahas, dari problematika pernikahan Lidya, kenangan kenangan mereka bertiga sewaktu SMA dulu. Sampai kini gatian membahas mengenai hubungan Sisil dengan pacarnya yang tidak jelas komitmentnya tersebut.


"Katanya Sisil mau nikah? Kapan, Sil, di realisasikannya?" tanya Lidya sambil tersenyum penuh arti kepada Sisil.


Topik menjurus ke hal tersebut mulai dibahas.


"Gatau, ah. Cowok aku masih plin plan," jawab Sisil malas sambil berdecak kesal.


Bukan kesal betulan karena pacarnya tidak segera menikahnya tetapi kesal karena Lidya begitu bebalnya memaksakan rencananya harus berjalan bagaimanapun caranya.


Anha tersenyum saja sambil menggelengkan kepalanya tentang hubungan sahabatnya yang tidak jelas itu.


Merasa bosan dan tidak diajak ngobrol bersama, kini tangan kiri Hasan yang bebas  bergerak menggenggam tangan Anha yang berada di bawah.


Anha ikut menautkan tangannya pada tangan Hasan. Kasihan juga Hasan seperti obat nyamuk di sini. Tapi mau bagaimana lagi? Lelaki, kan, juga tidak suka bergosip, bukan?


Ponsel Anha bergetar, tanda notifikasi whatsapp masuk pada layarnya. Kemudian Anha menggulir lockscreennya dan dia agak menahan tawa geli karena tenyata pesan masuk tersebut adalah berasal dari Hasan yang mengatakan dia sangat bosan di sini.


Hasan Hasan, ada ada saja dia ini. Dia, kan, saat ini ada di sebelahnya. Lalu untuk apa pula mengirimnya pesan?


Sayang: Nanti, ya. Maaf bikin kamu nggak nyaman. Balas Anha dengan emoticon tertawa tidak enak hati. Kemudian setelah itu Hasan mengalah dan menikmati makanannya yang sedari tadi dibiarkan sampai dingin itu karena Hasan lebih menikmati minuman pesannya tersebut daripada makanan dipiring.


"Eh, Sil, tahu nggak?" kata Lidya dengan antusias memulai inti pembicaraan ini.


Sisil menatap Lidya dengan saksama sambil mengatakan 'apa'.


Hasan menggelengkan kepalanya, jika para wanita sudah mengatakan opening seperti itu, pasti mereka akan bergosip ria. Pasti itu. Yakin. Dan pastinya ini akan semakin lama lagi.