
Done! Rombak. Bab bonus dah habis. Ini yang terakhir. Aku udah nggak punya utang. Sila baca bab ini. Ada BELLA\, Bella itu ******* nya Hasan 😰
Entah mengapa bibirku gemetar dan aku memeluknya dari samping.
Beban anak ini terlalu banyak. Sampai rasanya begitu sakit untuk di tanggung anak di usianya.
Masih mending aku ini yang memiliki mama meskipun mama tipe orang yang work holic. Sedangkan Sean? Dia tidak pernah menatap wajah mamanya apalagi papanya. Delapan belas tahun! Dia juga tidak diakui sebagai anak.
Aku merasakan ikut begitu sakit mendengar kepingan cerita hidupnya itu yang begitu gelap.
Tepi hal yang menyedihkan adalah melihat Sean yang saat ini hanya terdiam saja. mungkin hatinya di dalam ini sedang remuk redam.
Namun dia mencoba untuk terlihat baik baik saja seperti karang yang kokoh ketika di empas oleh badai ombak yang sebegitu dasyatnya.
Seharusnya dia menangis seperti orang normal. seharusnya dia marah kepada Papanya yang tidak menganggapnya seperti aku yang dulu menyalahkan mama ketika mama tidak memberikanku hak kasih sayang dan hanya memberikan materil kepadaku.
Tetapi Sean tidak. Dia tidak ingin menangis, mungkin karena dia malu karna dia seorang laki laki. Pasti egonya melarangnya.
"Kamu kalau mau nangis, ya, nangis aja. Kalau kamu mau marah, ya, marah aja. Kamu itu manusia. Nangis bukan lah suatu hal yang memalukan, kok."
Aku memeluk anak ini dari samping dan mengusap rambutnya. Aku mengetahui bulir bening menetes jatuh dari pelupuk matanya.
Jika aku jadi anak ini pasti aku akan menangis sampai meraung. Atau aku akan menyalahkan kedua orang tuaku ataupun menyalahkan Tuhan sekali pun. Tetapi tidak. Sean tipikal anak yang menyimpan semuanya serba sendiri. Seolah dia ini kuat. Padahal sangat rapuh sekali.
Sekarang aku mengerti satu hal lainnya. Sean sejak awal tertarik kepadaku bukan karena dia menyukai atau bukan juga karena dia jatuh cinta kepadaku.
Melainkan tak ayal karena Sean kekurangan kasih sayang oleh kedua orang tuanya. Terutama dia kekurangan sosok figure Ibu yang dirindukannya.
Sama halnya seprti diriku yang kehilangan figure ayah maka dari itu aku lebih cenderung menyukai pria matang seperti Hasan daripada pria seumuranku. Mungkin karena aku kekurangan kasih sayang dari papa sehingga aku mencari sosok yang bisa menggantikan ayahku dan mencarinya di lelaki lain.
Setelah lima belas menit lamanya aku dan Sean baru berdiri dan mulai akan mengantarkanku untuk pulang ke kantor lagi untuk menyelesaikan pekerjaanku.
"Bolos dari kerja, yuk? Bosen, Tante. hehe," katanya dengan iseng. aku bekacak pinggang.
Anak ini tidak pernah tobat sama sekali, ya!
Setelah itu kami ke kantor dan untung saja kami sampai tidak melebihi jam makan siang walaupun aku hanya makan siang dengan roti yang dibelikan oleh Sean di jalan tadi.
Ketika lift tebuka dan sialnya tidak ada orang di dalam menyisakan hanya aku dan Hasan saja. Tiba tiba Hasan memegang lenganku. Menatap kedua netra hitamku dengan dalam. Aku menelan ludah.
"Yang bener aja An. Masak rivalku bocah, sih?"
"Yang bener aja. Masak rivalku bocah, sih, An?" kata Hasan sambil menggengam tanganku. Aku menatap kedua netra hitamnya tidak percaya dengan apa yang baru saja aku dengarkan.
Apa maksudnya dia ini? Aku benar benar tidak mengerti dengan apa yang baru saja dikatakanya.
Rival apanya? Aku dan Sean kan hanya sebatas teman saja. Tidak kurang. Tidak juga lebih. Apa jangan jangan dia ini sedang cemburu, ya, kepadaku?
Tapi Bella...
Aku memutar bola mataku dan mengatakan kepada dirinya tentang:
"Kamu jeles ya sama aku? Sean cuma temen aku aja kok. Dia udah aku anggep kayak adek aku sendiri. Kamu nggak perlu secemburu itu sama dia, lagi pula kan kamu udah punya pacar. Ngapain juga kamu penasaran sama hubunganku sama cowok lain," kataku dengan kesal. Kalau dia tidak peka dengan perkataanku. Berarti dia keterlaluan!
Hasan mengeryitkan keningnya. Mimik wajahnya tidak mengerti. Benar, kan, kataku! Lelaki adalah makhluk paling tidak peka dari planet pluto.
"Maksudnya gimana? Aku nggak punya cewek, kok. Aku single."
Aku memutar bola mataku jengah. Kesal bukan main. Single apanya. Lalu siapa si Bella itu? Semua lelaki sama saja!
"An, maksud kamu itu apa, sih? Aku beneran nggak paham." Kini Hasan memegang kedua lenganku. Memaksakan diriku untuk menatapnya.
"Pikir aja sendiri."
"Pikir apa?"
Aku sudah kesal bukan main akhirnya mengeratkan gigiku dan menatapnya tajam. Kemudian aku bersedekap dada.
"Bella itu pacarmu, kan? Terus buat apa kamu masih deketin aku?!" kataku dengan kesal sambil membuang muka ke arah samping.
Lalu setelah itu Hasan mengatakan...