
Hasan lebih memilih memasukkan ponselnya ke dalam sakunya dan menikmati kembali sisa kuenya sambil berharap hujan akan segera reda.
"Cewek yang lu taksir itu beneran deket sama keponakannya Pak Hans, ya, Bro?" pancing Dimas kepada Hasan. Hasan tidak menjawabnya. Tetapi Dimas malahan semakin bahagia dan semakin ingin menggoda temannya tersebut.
"Kenapa sih lo nggak nembak dia dari awal? Nyesel lo nanti kalau dia diambil orang. Mana cakep banget lagi. Badannya juga oke, seksi banget. Beruntung cowok yang ngedapetin cewek seksi dan secantik itu. Pasti tiap hari bakalan mantap manta—aduh," kata Dimas terputus ketika Hasan melemparnya dengan bekas tissue yang sudah dia remas remas karena kesal sejak tadi.
Hasan tidak akan rela jika orang lain berbicara yang tidak tidak tentang Anha. Apalagi dijadikan objek lamunan mesum seperti itu oleh Dimas.
"Cemen lo kalah sama bocah!" pancing Dimas lagi dan lagi sambil melemparkan tissue kembali ke arah Hasan.
Hasan tidak mood meladeni temannya yang cerewet dan terus memprovokasi itu.
Lengang sejenak di antara mereka, meskipun tidak berlangsung lama.
"Eh, Bro. Lo tahu, nggak? Kemarin beritanya, kan, heboh sekantor kalau itu cewek habis dari ruangannya si Bos. Jangan jangan mereka…"
"Bisa diem nggak lo! Gue bener bener nggak mood saat ini." kata Hasan sambil menatap tajam ke arah temannya itu.
"Sorry, Bro. Hehe."
Dimas akhirnya diam, bagaimanapun kalau temannya sampai marah betulan maka semuanya akan runyam. Bisa bisa dia di hantam di kafe ini nantinya.
"Tapi bukannya kayanya cewek itu juga suka sama lo, ya? Lo sama dia aja pernah pulang bareng dan gandengan bareng, kan? Masak, sih, udah dua bulan lebih kerja di sini lo nggak bisa ngedapetin dia?"
Hasan mengeratkan giginya geram. Memang si Dimas ini harusnya dibaku hantam. Tapi karena penasaran, Dimas pasti akan mengorek informasi sebanyak mungkin dari Hasan sampai Hasan tidak sengaja mengatakan sendirinya tentang hubungannya dengan si cantik itu.
“Nggak tahu, bahkan kayaknya akhir akhir ini dia ngejauh dari gue,” kata Hasan sambil menarik rambutnya ke belakang.
“Emang sebelumnya kalian sedeket apa?”
Dimas ingin tertawa ngakak tapi ditahannya, ternyata lelaki juga dapat merasakan gundah gulana jika si pujaan hati tidak membalas pesan darinya.
“Coba Lo inget inget lagi. Lo buat salah kali. Cewek, kan, sifatnya kayak gitu, Bro. mereka kalau ngambek suka ngediemin kita dan nyuruh kita nebak nebak kayak dukun dengan alasan biar kita peka. Nggak mungkin juga kalau nggak ada apa apa tiba tiba si cantik itu ngejauhin lo tanpa alasan. Kecuali dia udah bosen sama lo dan dapet yang lebih tajir macem Pak Hans atau keponaannya, sih,” celoteh Dimas panjang lebar dengan mulut yang masih mengunyah penuh kue matchanya dan menunjuk Hasan dengan menggunakan garpunya.
Hasan mengeryitkan dahi. Benarkah dia memiliki kesalahan kepada Anha?
Hasan menggelengkan kepala.
“Oke oke. Kalau lo ngerasa nggak salah yaudah ngalah aja, coba aja minta maaf ke dia, siapa tahu dimaafin, kan. Intinya cowok itu selalu salah dan cewek itu selalu benar,” kata Dimas bak pakar percintaan.
Hasan terdiam sejenak dan mulai berpikir.
Kesalahan? Tapi benar juga kata Dimas, tidak mungkin juga Anha yang biasanya ceria tiba tiba cuek sekali bahkan tidak membalas pesannya lebih dari 24 jam lamanya.
Hasan memejamkan mata dan menggebrak meja pelan. Apa jangan jangan karena waktu itu!
“Apa karena gue pulang bareng sama Bella dan Anha bertiga, ya, satu mobil waktu itu?” gumam Hasan pela membuat sahabat di depanya itu Hamper memuncratkan kopi yang sedang di minumnya kalau tidak kelepasan.
“Gila ya lo? Lo nganteri pulang gebetan lo satu mobil sama cewek lain? Nggak waras lo, mah. Fitrah cewek itu emang pencemburu. Hadeh. Hasan Hasan, dikerjaan oke, tapi giliran masalah percitaan cacat.”
Kini Hasan menelan ludahnya.
***
ig: mayangsu_