After Marriage

After Marriage
Mengelak



“Semalam aku nangis karena aku ketemu lagi sama Mama Erin di kamar mandi. Dan akua gak cekcok lagi sama dia,” kata Anha mengarang ngarang cerita. Setelah itu Anha meletakkan cangkir berisi tehnya di meja kecil yang berada di depan mereka.


Tidak apa bukan berbohong sedikit? Bukannya Anha tidak ingin jujur. Anha saat ini hanya ingin menghindari masalah saja. Jawaban tersebut lebih baik daripada jika Anha jujur maka masalahnya akan semakin suram saja.


Hasan menatap kesamping. Menatap Anha dengan tidak percaya. Benar, kan, kekhawatirannya semalam. Hasan menduga duga salah satu penyebab Anha menangis adalah karena bertemu mertuanya itu.


Tahu begitu semalam Hasan menemani Anha saja untuk ke kamar mandi.


“Tau gitu aku temenin kamu aja waktu ke kamar mandi, An.”


Anha menggeleng.


“Nggak papa, kok. Lagian udah berlalu, ya, biarin aja.”


“Tapi kemarin dia ngomong apa aja ke kamu sampai buat kamu nangis kayak gitu?” todong Hasan dengan penasaran meminta jawaban.


Anha memejamkan mata sesaat. Sesi introgasi pun dimulai. Hasan mengetahui dia menangis karena Mama Erin saja sampai seheboh ini. Apalagi jika Hasan mengetahui sebenarnya penyebab Anha menangis adalah Ikram, bisa bisa akan lebih parah.


“Ya, nggak ngomong apa apa. Cuma ngehina hina aku aja kayak kemarin itu.”


“Tap—”


“Udah, ya. Jangan dibahas lagi. Aku lagi nggak mood ngomongin orang kayak gitu,” kata Anha mencoba mengalihkan pembicaraan.


Mencoba agar Hasan tidak menyinggung lagi akan hal itu. Akhirnya Hasan pun terdiam dan mengangguk. Kemudian menggenggam jemari Anha sebelah kiri.


Kini mereka berdua pun sama sama terdiam, hanya terdengar suara dari lagkah kaki anak anak kecil yang saat ini sedang bermain petak umpet. Serta embusan angin dan matahari kini mulai terasa agak terik. Untung saja teras ini masih tetap teduh.


Hasan mengerjab. Kenapa juga Anha menanyakan hal tersebut kepadanya? Jelas saja Hasan cinta kepada Anha.


“Cinta, lah. Emang kenapa?”


“Nggak papa, sih. Kan, kamu semalem udah tahu sebagian tentang aku. Tentang mantan suami aku dan mantan mertuaku. Aku kira kamu bakalan mundur.”


“Ya, nggak, lah. Buat apa mundur karena hal sepele kayak gitu. Kamu, ya, kamu. Itu masa lalumu sama dia. Masa depanmu, ya, nanti  sama aku. Udahlah, yang dulu dulu nggak usah dibahas lagi, ok?” kata Hasan panjang lebar sambil tersenyum manis kepada Anha.


“Makasih Hasan.”


Anha menganggukkan kepalanya dan mengecup cepat pipi Hasan membuat Hasan memerah malu. Sepertinya mood Anha sudah kembali dan dia kini ceria lagi.


“Astaghfirullah, anak inni siang bolong ciuman di depan rumah. Malu dilihatin tetangga tahu!” omel Mama yang tiba tiba datang dalam sambil membawa piring berisi kentang goreng.


“Aduh, Ma. Sakit tau!” kata Anha sambil mengusap pundaknya yang dicubit mamanya tersebut. Apalagi cubitannya agak sakit juga. Hasan hanya menggaruk kepalanya dan pura pura tidak tahu meskipun malu juga ketahuan oleh calon mama mertua.


“Makannya Hasan. Kamu buruan halalin anak tante ini biar bebas ciuman sesuka kalian.”


Kini Anha dan Hasan saling diam dan merasa malu. Semburat merah nampak di pipi keduanya. Mama yang awalnya mengira anha dan Hasan semalam bertengkar sekarang merasa senang karena mereka sudah tampak baikkan.


“Mama tinggal ke dalem kalian jangan macem macem, ya,” kata Mama dengan saksama sambil menyipitkan matanya.


“Iya iya Ma. Sana, ih, pergi. Anha malu tau,” rengek Anha kepada Mamanya. Mama akhirnya tersenyum sambil menggelenng gelengkan kepalanya dan berlalu ke dalam.


tbc...