
“Ha—Hasan. A—aku…”
Lidah Anha terasa kelu. Rasanya susak sekali untuk berucap.
Apa yang harus Anha katakan saat ini? Dia bingung, kacau, takut, semuanya terasa bercampur aduk dalam pikirannya.
“Aku…”
Anha mengambil napas dalam dalam dan mengumpulkan keberanian untuk mengatakan hal tersebut kepada Hasan.
“A—aku nggak, bisa, San.”
Apa?
Hasan kaget akan jawaban itu, dia memejamkan matanya, badannya seolah olah terasa lemas seketika, lututnya goyah, apa artinya Anha baru saja menolak pinangannya itu?
Sebenarnya ditolak ataupun diterima sudah merupakan konsekuensi bagi seorang pria ketika menyatakan cinta ataupun melamar seorang wanita.
Hanya saja…
Hanya saja ternyata sakit juga rasanya.
Hasan sampai tidak mampu berkata apa apa lagi.
Anha kini malahan merasa bersalah melihat Hasan tertunduk lesu seperti itu.
“Bu-bukan gitu maksud aku, Hasan.”
Anha menyentuh lengan Hasan membuat Hasan menatap wanita yang amat dicintainya itu yang dua detik lalu menolak lamarannya ketika cincin tersebut hendak memasuki jari manis Anha.
“Em… aku… aku.”
Ah! Kenapa juga Anha susah sekali mengucapkan kata kata di saat saat seperti ini, sih! Malah semakin membuat suasana menjadi rumit saja!
“Bukannya gitu. Aku nggak bermaksud nolak lamaran kamu. Tapi… Aku cuma belum siap aja. I—ini terlalu cepet banget buat aku, San,” kata Anha dengan nada lembut dan menatap Hasan dengan mata yang berkaca—wajahnya sedih.
Sejujurya, Jauh di dalam lubuk hati Anha yang paling dalam. Dia juga sangat mencintai Hasan. Hanya saja beberapa alasan tadi membuatnya belum mampu mantab mengatakan, ‘Ya! Aku mau!’
“Hasan… Bisa nggak kamu kasih waktu aku buat mikir dulu? Tiga hari atau satu mingguan gitu? Please, kamu ngertiin aku, kan, Hasan?”
Anha menatap Hasan sambil menarik sudut bibirnya ke atas membentuk senyuman, senyuman yang sebenarnya dipaksakan padahal hatinya terasa luka.
Anha menatap netra hitam milik Hasan dan rasanya matanya memanas—tapi tidak sampai menangis.
Aku belum siap, Hasan. Kamu belum tahu semua tentang aku dan masa laluku. Aku takut kamu kecewa. Jadi emang lebih baik saat inni aku ngehindari dulu jawaban atas lamaran kamu.
Aku belum siap untuk nyeritain semuanya sama kamu.
Anha bergerak memeluk tubuh Hasan dan menenggelamkan wajahnya di dadanya. Anha tidak ingin melepaskannya sama sekali. Ia menghirup dalam dalam tubuh Hasan. Aroma mint dan citrus terasa menenangkan.
Rasanya sangat perih, bernapas saja terasa amat sesak seolah dadanya diikat oleh tali tambang yang melingkari tubuhnya.
"Iya, nggak papa, kok. Kamu pikir dulu aja lamaranku barusan," kata Hasan sambil mengusap lembut kepala wanita yang amat dicintainya itu.
Hasan dapat memaklumi akan hal itu, dia tidak boleh berkecil hati. Dia tidak ditolak, hanya saja wanitanya butuh waktu untuk menjawabnya.
Wajar jika seorang wanita yang baru saja dilamar seorang pria tiba tiba mengatakan untuk berpikir sejenak, meskipun tidak dapat di pungkiri banyak wanita luar sana yang langsung berkata YA ketika di lamar kekasihnya.
Baru menyatakan cinta setelah mengenal lama, lalu tiba tiba membukakan kotak beludru berisi cincin dan meminta Anha menjadi istrinya. Tentu saja itu terlalu cepat. Tapi ini semua karena Hasan tidak mau kehilangan wanita yang amat dicintainya. Dan ini juga bukti kalau dia serius dengan Anha.
Tunggu sedikit lagi, batin Hasan dalam hati.
"Yuk, pulang. Kasihan Mama nungguin di rumah," ajak Hasan sambil tersenyum lembut sambil mengusap punggung Anha pelan. Anha melepaskan pelukannya dan mendongak menatap wajah Hasan.
Hasan tersenyum dan mengecup kening Anha dengan tulus. Tetapi Anha masih saja merasa tidak enak hati.
"Ka—kamu nggak marah, kan, sama aku?" Anha mengulangi kembali perkataannya yang tadi dengan takut takut ketika Hasan menutup pintu apartementnya. Hasan terkekeh mendengar ucapan Anha tersebut.
"Ya nggak, lah. Ngapain juga aku marah sama kamu. Kamu, kan, juga punya hak buat berfikir dan memutuskan. Yang terpenting kamu juga suka sama aku."
***
Cuma ngingetin, jangan lupa tinggalkan votes/likes/komen, ya. Siapa tahu kalian keasyikan baca jadinya lupa. Hehe. Mwah. #ciumsatusatu