
“Kamu diam diam transfer cewek itu, Mas?” kata Dewi tidak percaya dengan ini semua, dia melangkah mendekati Ikram, memegang kemejanya dari belakang, menuntut untuk mendapatkan jawaban.
Namun Ikram hanya diam saja mengabaikan Dewi, seperti yang biasa ia lakukan kepada istrinya tersebut membuat Dewi terdiam, namun rasanya panas dalam hati. Mana bisa matan istri suaminya tersebut masih diam diam ditransfer oleh suaminya?
Entah mengapa, salah satu orang yang paling Dewi benci selain Tante Erin adalah Anha. Padahal Anha tidak melakukan apapun kepadanya, malahan membuang Ikram ke pelukannya tetapi bagaimanapun juga Dewi iri karena Anha masih mendapatkan perhatian suaminya tersebut. Padahal Dewi juga medapatkan uang bulanan oleh Ikram yang jumlahnya juga banyak, tetapi yang membuat Dewi iri adalah Dewi tidak mendapatkan cinta dan perhatian oleh Ikram, dan itu semua tidak dapat diuangkan.
“Udah, dong, Ma. Ikram malu, Ma, dilihatin banyak orang,” kata Ikram mencoba menghentikan Mamanya yang masih meronta meminta di lepaskan, kenapa semuanya malahan menjadi sangat kacau.
Tante Erin yang mendengar hal tersebut menghentikan aksinya, kemudian menengok ke arah sekitar dan benar saja Tante Erin melihat banyak orang yang saat ini sedang menatap mereka bagaikan sebuah tontonan gratis, beberapa tamu sampai berbisik bisik dengan satu dan lainnya.
“Gila, ya. Bisa sampai kayak gitu banget sama mantan mantunya.”
“Gue, sih, kalau punya mertuanya kayak gitu nggak sudi. Mending cerai aja.”
“Orang kaya nggak ngejamin, ya, omongannya berpendidikan.”
“Sumpah. Parah banget itu orang.”
Dan masih banyak lagi bisikan bisikan yang sempat tertangkap oleh indra pendengaran Tante Erin. Tante Erin menelan ludah, rasa malunya yang tadi hilang kini seolah kembali. Dia mulai tersadar lagi. Padahal semula niat hatinya adalah mempermalukan mantan menantunya tersebut dan membangga banggakan kekayaan putranya tetapi malahan suasananya terbalik seperti ini. Dia malah mempermalukan dirinya sendiri.
Inilah alasannya Hasan hanya diam saja dari tadi, asal orang tua itu tidak main tangan maka Hasan akan diam—meskipun sebenarnya ingin rasanya Hasan untuk membalas. Tapi cara elegan seperti inilah yang paling tepat untuk dilakukan, biar publik sendiri yang menilai.
Hasan menengok ke arah Anha yang masih menatap tajam ke arah tiga manusia di depanya tersebut. Sekarang Hasan dapat menilai, wanita sebaik Anha memang tidak pantas bersanding dengan pria macam Ikram itu. Anha terlalu mahal.
“Tapi, Ma…”
Akhirnya Ikram mau melepaskan Mamanya ketika melihat emosi mamanya itu sudah tidak setinggi tadi.
Tante Erin membenarkan gaunnya, kemudian bersedekap dada. Anehnya dia masih saja sepongah tadi.
Tante Erin sudah tidak berani memaki Anha lagi karena ucapannya tadi tidak bisa ia sanggah karena kenyataannya memang seperti itu, jadi Tante Erin kini beralih menatap ke arah Hasan yang berada di sebelah Anha.
“Tante kasih tahu, ya, sama kamu. Cewek ini ngedeketin kamu cuma buat morotin harta kamu aja. Mendingan kamu lepasin aja, deh, dia. Coba kalau kamu miskin. Pasti cewek kampungan ini nggak bakalan mau sama kamu,” nyinyir Tante Erin untuk kesekian kalinya merendahkan Anha. Tapi, semakin dia mencoba merendahkan Anha malahan nilai Mama Erin yang sebenarnya turun di mata orang lain.
Hasan tersenyum, dia ingin membalas ucapan wanita tua ini dengan cara elegan seperti yang tadi dilakukan oleh Anha. Tetap tenang namun terlihat berpendidikan.
Hasan bergerak merangkul pinggang kekasihnya dari belakang agar semakin mendekat dengan dirinya.
“Nggak, kok, Tante. Anha bukan tipe cewek yang kayak gitu. Anha baik, cantik, elegan, dan berpendidikan. Saya bangga punya tunangan kayak dia. Dan orang tua saya juga baik sama dia,” kata Hasan diakhiri dengan gerakan menengok ke samping dan tersenyum kepada wanitanya tersebut.