
“Kalian saling kenal?” tanya Hasan dengan nada dingin yang ketara.
“Se-sebenernya…” Anha hendak berucap, namun sudah disela oleh Hamkan.
“Kami memang saling kenal sebelumnya. Anha anak dari sahabat Mama saya. Saya bahkan berterima kasih banget sama Anha karena kemarin Anha dan Mamanya nemenin Mama saya di rumah sakit waktu saya sibuk dan telat kesana. Makanya kami saling kenal. Cuma itu, doang, kok,” kata Hamkan membantu Anha berbicara.
Bagaimanapun juga Hamkan tidak enak hati jika Hasan berpikiran yang tidak tidak mengenai dia dan Anha karena memang kenyataannya mereka tidak ada hubungan spesial dan hanya sekadar mengenal satu sama lain.
“Ah, nggak, kok, Pak. Saya cuma kaget aja ternyata kalian saling kenal.”
Setelah itu Hasan dan Hamkan saling mengobrol ringan tentang pekerjaan—yang sejujurnya Anha juga tidak terlalu mengerti tentang apa yang saat ini sedang mereka bahas, jadi Anha hanya memilih untuk diam saja sambil berkutat dengan ponsel miliknya.
“Yaudah, ya. Saya duluan,” kata Hamkan setelah mereka berdua selesai mengobrol.
Hasan mengangguk, tetapi ketika Hamkan hendak berbalik badan tiba tiba Anha menahannya dengan cara memegang lengan Hamkan.
“Bentar.”
Anha buru buru mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Tangannya sibuk merogoh di dalam dan akhirnya Anha menemukan benda yang ia cari, kemudian Anha memberikannya kepada Hamkan dua dari beberapa benda itu.
“Ini buat kamu sama Tante Asih. Jangan lupa, ya, datang ke pernikahan aku,” kata Anha sambil tersenyum mengembang sampai terlihat kerut di sudut matanya.
Hamkan membalas senyuman tersebut seadanya dan mengangguk mengiyakan keinginan Anha tersebut.
Kemudian setelah itu Hamkan berjalan meninggalkan mereka berdua karena harus mencari kado untuk ulang tahun adiknya.
Namun ketika mereka sudah berpisah jarak. Hamkan melihat kembali undangan Anha yang berwarna emas dengan garis terpian merah tersebut serta pita merah yang membungkus keduanya. Jari telunjuk Hamkan meraba nama yang terukir di sana yang timbul dan terukir dengan tinta perak.
Kenapa Hamkan merasa tidak nyaman? Seolah olah ada perasaan aneh di dalam hatinya.
Hamkan terkekeh dan mengusap rambutnya ke belakang. Seharusnya dia tidak boleh merasakan perasaan seperti ini, bukan?
Bukannya wanita itu sudah jelas jelas hendak menikah, dan lagi pula Hamkan juga baru bertemu dengan dirinya beberapa kali saja. Tapi kenapa bisa perasaannya goyah seperti ini?
Sudahlah, mungkin dia sedang lelah bekerja. Dengan cepat Hamkan memasukkan kartu undangan tersebut kedalam tote bag yang dibawanya sebelum perasaannya ini bertambah tidak karuan lagi.
***
Anha mengecek kembali catatan daftar undangan yang ia bawa dari rumah. Mencentang dua nama yang sudah menerima sisa undangan tersebut.
“Kok, kamu ternyata kenal, sih, sama Pak Hamkan,” kata Hasan dengan datar sambil berdehem membuat perhatian Anha dari ponselnya teralihkan.
Hasan masih menatap ke arah depan, melihat tempat makan bernuansa jepang.
Anha diam-diam tersenyum melihat Hasan mengatakan hal tersebut.
Apakaha dia cemburu?
“Kenapa?” tanya Anha kepada Hasan.
“Ya, nggak kenapa napa, sih. Cuma agak kaget aja karena kalian saling kenal dan kamu juga nggak pernah cerita sama aku.”
Anha menutup mulutnya dan menahan menahan tawa geli. Dulu saja waktu awal kenal Anhalah yang selalu cemburu kepada Hasan karena terlalu dekat dengan Bella. Tapi sekarang setelah bersama beberapa waktu ternyata Hasan bisa cemburu juga ketika melihat dirinya dekat dengan pria lain.