After Marriage

After Marriage
Meminta Restu



Hasan menurut saja, tidak enak juga kalau pulang ke rumah ketika magrib tiba mengingat biasanya itu jam jam istirahat.


Hasan menjalankan mobilnya membelah jalan kota. Tidak berbeda jauh dengan Anha. Dia juga merasa agak gugup ketika membawa calon istrinya ke rumahnya.


Anha menengok ke arah kiri ketika mobil Hasan sudah sampai di depan pagar salah satu rumah di kompelsnya. Rumah Hasan besar juga ternyata.


“Gimana? Siap?” tanya Hasan kepada Anha yang terlihat agak gerogi itu.


Anha meremaasi jemarinya sendiri. Agak gugup. Hasan menggengam jemari Anha untuk meredakan rasa gugup yang sedang dialami oleh Anha.


“Yuk, turun. Nggak papa. Ada aku, kok. Dan Mama Papa nggak segalak yang kamu bayangin, kok.”


Senyum Hasan dan perhatian yang diberikannya cukup untuk meredakan sedikit rasa geroginya.


Anha mengangguk, kemudian turun dari mobil dan berjalan beriringan dengan Hasan.


Ketika sudah sampai di depan pintu besar berwarna putih tersebut. Hasan mengetuk pintu rumahnya.


“Ma, Hasan pulang.”


Setelah itu Hasan membawa Anha masuk ke dalam.


“Kamu udah pulang?”


Tampak seorang wanita paruh baya yang sedang duduk di sofa ruang keluarga menengok ke belakang setelah mendengar suara anaknya.


Awalnya mimic wajah itu tersenyum senang, namun setelah itu baru disusul dengan kening yang mengeryit melihat wanita yang datang bersama di sebelah putranya tersebut.


“Dia siapa. Hasan?”


Anha menelan ludahnya ketika melihat wajah Mama Hasan yang sepertinya tidak bersahaja. Tetapi Anha tetap memberikan senyum terbaik dan menyalami Mamanya Hasan.


“Anha tante,” kata Anha memperkenalkan diri dan menyalami Mamanya Hasan.


“Oh. Cewek yang kamu certain waktu itu?”


Hasan mengangguk dan merangkul pinggang Anha membuat Mamanya berfokus ke tangan anaknya tersebut.


“Duduk dulu, aja. Silakan.”


“Papa ada, Ma? Terus adek kemana?”


“Papa kamu lagi di ruang baca. Adekmu lagi main sama temennya. Bentar Mama panggilin dulu papa kamu buat turun ke bawah. Biar Mama suruh bibi buat nyiapin cemilan.”


Mama Hasan bergerak menaiki anak tangga, Anha hanya menatap punggungnya dari belakang yang semakin lama bergerak semakin pergi.


Hasan menggenggam tangan kiri Anha.


“Nggak usah gerogi.”


Anha terkekeh mendengar hal tersebut.


“Emang kelihatan banget,  ya, kalau aku gerogi?”


“Ya, iyalah. Sampai keringetan kayak gitu.”


Pembantu Hasan datang sambil membawa cemilan dan menatanya di atas meja. Hasan dan Anha mengucapkan terima kasih setelah berbasa basi sejenak.


Tapi tetap saja Anha sama sekali tidak nafsu untuk menikmati cemilan tersebut. Rasanya saat ini dia deg degan, jantungnya berdetak lebih cepat daripada biasanya, tangannya berketingat dingin, rasanya perutnya seperti diaduk aduk.


Tadi ketika makan bersama di Mall, Hasan dan Anha sudah memutuskan jika pernikahan mereka akan dipercepat awal bulan depan—yang artinya pernikahan mereka diajukan satu bulan lebih cepat dari rencana sebelumnya.


Hari ini Hasan yang mengajak Anha untuk dikenalkannya kepada kedua  orang tuanya. Minggu besok gantian Hasan yang membawa kedua orang tuanya mendatangi rumah Anha untuk acara prosesi lamaran.


Hasan merasa senang. Walaupun pernikahan mereka terkesan terburu buru dan pasti mempersiapkan ini semua dalam hitungan hari akan terasa tidak begitu mudah. Tapi demi mendapatkan Anha sepenuhnya, itu semua setimpal rasanya.


Suara Langkah kaki terdengar menuruni anak tangga membuat Anha dan Hasan menoleh ke arah sumber suara.


Anha menelan ludah ketika melihat Papa dan Mama Hasan menuruni anak tangga tersebut.


Jantungnya berdetak amat kencang.


“Oh. Jadi ini calon kamu yang waktu itu kamu ceritain ke papa?”


***