
“Yaudah ayo kita ke rumah orang tua kamu. Lagian aku udah dandan cantik juga dari rumah. Kan, sayang kalau kita nggak jadi ke sana.”
Hasan menatap Anha Kembali. Benarkah tak apa?
“Kamu yakin? Mood kamu belum baik, lho. Dan kamu tadi kayaknya nggak enak badan gitu.”
Hasan bergerak menempelkan telapak tangan kanannya ke kening Anha mengecek suhu tubuhnya. Hmm… Tidak panas, sih, ternyata.
Anha menepis tangan Hasan tersebut. Kenapa lelaki ini kini begitu sok perhatian, sih.
“Aku nggak sakit, kok. Tadi, tuh, aku cuma kaget aja karena ketemu mantan suami sama istrinya.”
Hasan terkekeh dan berdiri dari posisi duduknya dan menggulung lengan kemejanya yang membuatnya semakin terlihat seksi saja di mata Anha.
“Apalagi tadi ketemu Bella lagi. Apes banget sumpah hidup aku,” gerutu Anha sambil mengembuskan napas kesal. Rasanya seperti tripel kill. Tapi ekspresi kesal Anha malahan terlihat semakin lucu saja di mata Hasan.
Hasan mengacak rambut Anha dengan gemas. Sepertinya mood wanitanya kini sudah mulai membaik.
“Yaudah, yuk, Masuk.”
Hasan mengulurkan tangannya dan mereka kini berjalan dengan bergandengan tangan dan hendak ikut bergabung kembali ke acara.
Namun tiba tiba tanpa terduga sama sekali Anha menghentikan langkahnya seketika membuat Hasan yang semula berjalan di sampingnya ikutan terhenti.
“Kenapa, An?” tanya Hasan kepadanya.
Wajah Anha terlihat terkejut, dan agak pasi juga. Membuat Hasan semakin tidak mengerti.
Anha merasa takut.
Belum juga badai mereda. Sekarang tambah satu masalah lagi datang menghampirinya.
Apa dia saat ini sedang tidak salah lihat? di depannya itu, terlihat seseorang berdiri sambil tersenyum ke tamu lain, seseorang yang begitu sangat familiar di mata Anha.
Tampak Mama Erin, yang sedang berdiri di sebelah Ikram dan Dewi. Sibuk mengobrol dengan rekan Ikram yang entah membahas apa.
“Kamu kenapa, An?” tanya Hasan sambil memegang bahu Anha karena tiba tiba kekasihnya itu berubah ketakutan sekali seolah melihat hantu saja. Tidak biasanya Anha seperti ini.
Mungkin dia kuat jika sekadar menghadapi Ikram, atau menghadapi Dewi, atau menghadapi Bella secara bersamaan.
Tapi untuk menghadapi wanita paruh baya di depan sana benar benar amat sulit. Anha tidak memiliki nyali sama sekali.
Dan takdir serasa sebercada itu kepadanya, seolah belum puas menyiksa Anha dalam situasi terhimpit seperti ini. Sekarang hadir lagi satu masalah, yaitu Mama Erin.
Ketika Anha mengangkat kembali pandangannya ke depan, matanya bertabrakan pandang dengan mata Mama Erin.
Nampak Mama Erin, juga tak kalah terkejutnya Ketika melihat mantan menantunya tersebut ternyata ada di sini juga.
“Ka-kamu…” kata Mama Erin tidak percaya sambil menunjuk Anha.
Sekarang apa yang harus Anha lakukan?
Bisakah Anha pura pura abai dan keluar dari situasi tidak enak ini?
Ikram mengikuti arah pandang mamanya tersebut dan mendapati Anha yang sedari tadi tidak terlihat kini datang bersama calon suaminya tersebut.
Mama Erin menatap kea rah Ikram yang diam saja sambil menikmati minumannya, acuh.
Mama Erin bergerak melangkahkan kakinya, mendekat ke arah Anha. Anha bingung, dia takut, dia tidak tahu hendak berbuat apa.
“Hebat banget, ya, kamu bisa ada di sini!” kata Mama Erin sambil bersedekap dada. Menatap Anha dengan pandangan sinis dan merendahkan.
Ekspresinya tidak berubah sama sekali, masih mirip ketika dulu Mama mertuanya itu memaki dan merendahkan dirinya.
Mama Erin menatap ke samping, melihat lelaki di sebelah Anha sambil tersenyum meledek.
“Pinter banget, ya, kamu nyari mangsa. Setelah cerai dari anak saya kamu bisa ngedapetin laki kaya cuma modal tampang kamu, doang.”
Kemudian, setelah itu…
***