After Marriage

After Marriage
Dewi Kesal



“Tunangan Anda cantik sekali, ya.”


Entah tadi Ikram berkata basa basi belaka ataupun mengatakannya dengan serius. Tapi Ikram benar benar tidak punya malu sama sekali!


Tapi Anha melirik sejenak ke arah Dewi yang saat ini menampilkan ekspresi kesal bukan main melihat hal tersebut.


Anha menutup mulutnya menahan senyuman. Jelas saja Dewi merasa kesal, memangnya wanita mana yang tidak cemburu ketika suaminya sendiri memuji kecantikan wanita lain di depannya secara terang terangan seperti itu.


Tapi ini seru sekali! Anha akan sedikit bermain main dengan emosi Dewi, dia ingin membalas perlakuan Dewi yang pernah menjahatinya dulu.


“Makasih,” kata Anha dengan singkat.


“Tentu saja dia cantik. Dia yang terbaik,” kata Hasan ikut memuji kekasihnya itu. Anha merasa berbunga bunga akan pujian singkat itu, dia merasa sangat dicintai penuh oleh Hasan.


“Pak Ikram juga tampan. Bapak terlalu memuji saya,” kata Anha mecoba menimpali ucapan Ikram dengan ekspresi setenang mungkin.


Ikram terlihat sedikit bersemu karena tadi Anha memujinya tampan, sedangkan Dewi merasa kesal dan berapi api, terlebih saat ini dia merasa menjadi nyamuk di antara mereka bertiga tidak dianggap kehadirannya sama sekali.


Setelah itu Ikram dan Hasan saling membahas tentang banyak hal yang berkaitan dengan bisnis bersama Hasan.Anha sendiri tidak tertarik untuk menyimak. Itu topik yang berat dan menjemukan.


Anha menggigit kecil cake dengan topping strawberry di atasnya itu. Rasanya enak, di tambah minuman dengan rasa anggur yang diambilnya itu terasa amat menyegarkan rongga tenggorokannnya  yang semula terasa amat kering karena suasana yang amat mencekam itu.


 Anha melirik sekilas ke arah Ikram, dia terlihat sedang berbicara kepada Hasan. Tapi  kenapa juga sorot matanya malahan berfokus menatap ke arah Anha?


Anha memalingkan muka, ia tidak mau berlama lama ditatap oleh mantan suminyaitu.


Beberapa menit kemudian, Anha mencoba menatap kembali ke arah Ikram untuk mengetest apakah Ikram masih menatapnya juga. Dan benar saja, ketika Anha menatap Ikram, ternyata Ikram masih menatapnya.


Anha berdecih. Hal itu benar benar membuat Anha merasa risih sekali, apa Ikram tidak sadar jika wajah istrinya yang berada di sebelahnya itu sudah merah padam seperti hendak meledak? Masih bisa bisanya dia melirik wanita lain.


“Baik kalau begitu. Semoga kita kedepannya masih tetap bisa bekerja sama dengan baik,” kata Hasan setelah berbincang bincang dengan Ikram. Ikram mengangguk, mengakhiri percakapan mereka tentang pekerjaan.


Setelah selesai dengan Ikram, kini Hasan berjalan ke arah Anha yang masih sibuk mencicipi hidangan makanan ringan manis tersebut. Cake kecil ini benar benar menggoda selera. Rasanya Anha ingin minta di ajari oleh Tante Ririn utuk membuat kue seperti ini lantaran meskipun Tante Ririn tidak pandai memasak masakan rumahan, dia jago sekali membuat aneka kue dengan rasa yag lezat.


Ketika Hasan sampai di tempat Anha, dia merangkul pinggang langsing wanitanya tersebut. Anha tersenyum, kemudian tangannya yang bebas bergerak mengusap pelan pipi Hasan yang dihiasi beberapa jambang tipisnya itu. Tampannya.


“Buka mulutnya,” perintah Anha sambil menyendok kecil kue di tangannya tersebut. Hasan terkekeh, serius tidak apa bermesraan dengan calon istrinya di acara seperti ini?