
Anha yang melihat kekasihnya mulai tidak mood itu kemudian mengusap pipi Hasan sambil sambil tertawa renyah—untung saja Lidya dan Sisil tidak melihatnya dan masih sibuk sendiri sendiri dengan makanannya.
Anha dengan jahil mencuri makanan Hasan agar Hasan tidak merasa diabaikan olehnya.
"Kamu inget nggak, Sil, sama si Megan? Alah, Megan anak yang sekelas sama kita waktu SMA dulu itu, lho?"
"Oh, iya iya inget. Yang agak pendek bukan, sih?"
"Iya. Yang itu."
Anha masih menikmati makanan dari piring Hasan sambil mengamati mereka berdua, namun Hasan tidak dan cuek sambil mengiriskan daging steak untuk diberikan oleh Anha yang sedari tadi sering dicomoti oleh Anha.
Hmm… Megan, ya? Samar samar Anha mulai mengingatnya. Kalau tidak salah ingat, Megan itu teman sekelasnya yang dulu juga ikut organisasi OSIS. Anaknya tidak terlalu tinggi dengan rambut yang bergelombang.
"Tau nggak, Sil? Dia gagal nikah, lho, Sil," lanjut Lidya kembali yang kini menyita perhatian Anha dan Sisil secara bersamaan.
Bahkan tadi Hasan yang semula cuek kini ikutan menyimak percakapan mereka yang mulai memanas itu.
"Masak, sih? Tahu darimana kamu?" kata Sisil pura pura antusias, padahal dialog ini sudah dia dengar dan ia peragakan sebelumnya dengan Lidya jauh jauh hari sebelum mereka semua berkumpul di sini.
"Iya. Kemarin, kan, ceritanya dia udah ngasih undangannya ke aku. Eh, malahan pernikahannya di batalin gitu."
"Kok bisa batal, Lid? Aku malahan nggak dapet undangannya sialan," kata Sisil menggerutu sebal karena memang Megan lebih dekat dengan Lidya ketika SMA dulu.
Kuberi tahu, kau. Baik Lidya ataupun Megan itu sama sama saja. Sama sama nakalnya sejak SMA dulu. Sudah melakukan seeks bebas juga.
"Iya. Dia batal nikah karena calon suaminya tahu kalau si Megan udah nggak perawan lagi sebelum nikah dan calon suamiya itu juga udah tahu seluk beluk si Megan waktu SMA dulu yang gonta ganti temen tidur."
Lidya dapat menangkap raut wajah Anha yang kini berubah menjadi pasi itu. Anha agak gugup namun masih bisa disembunyikannya dengan apik dan kini Anha mengambil es jus jeruk untuk meredam jantungnya yang terasa berdegub tidak karuan.
Sekarang semuanya terjawab sudah…
Lidya hanya mampu bergumam dalam hati, ia meminta maaf kepada Anha karena mau tidak mau harus melakukan ini semua demi kebaikan sahabatnya itu.
Lidya menopang dagunya menggunakan tangan kanannya dan menatap Hasan yang masih mengunyah makanan dan menyimak obrolan mereka dengan saksama.
"Hasan…" panggil Lidya sambil menatap ke arah pacar sahabatnya tersebut.
"Ya?"
"Menurut kamu… Apa yang kamu lakuin kalau ternyata pasanganmu udah nggak perawan lagi karena dulu dia udah sering ngelakuin hal kayak gitu sama mantan pacarnya sebelum nikah sama kamu,"ucap Lidya panjang lebar kepada Hasan.
Jantung Anha berdetak begitu cepat, bagai pencuri yang saat ini sedang tertangkap tangan. Kenapa pula Lidya bertanya tentang hal seperti itu kepada Hasan?
Degupan jantungnya bahkan dapat ia kendalikan dengan betul, tangannya kini terasa dingin dan berkeringat sampai Anha meremas rok spannya karena takut.
Bahkan untuk menelan ludah pun rasanya saat ini Anha sangat kesulitan sekali.
"Emm… kalau menurutku, sih…"
Tidak! Nyali Anha menciut seketika, tidak memiliki nyali untuk mendengar apa jawaban dari Hasan.
“Kalau aku pribadi, sih, bakalan…”