
Hasan mengambil seat belt dan membantu mengenakannya pada Anha.
Anha mengucapkan terima kasih dan jarak antar mereka kini saling berdekatan, mungkin hanya terpisah beberapa senti saja antar satu dan yang lainnya.
Dan ketika ada celah sempit tersebut, Anha dengan sengaja sekali memajukan kepalanya dan dia mengecup pelan pipi Hasan dengan malu malu.
Hasan semula kaget juga tiba tiba Anha mencium pipinya, namun kemudian Hasan ikutan tersenyum malu ketika Anha mengambil inisiatif seperti itu.
Kini setelah kesadarannya yang entah tadi hilang di mana kembali. Anha seketika menutup wajahnya dan malu bukan main, kenapa juga dia bisa melakukan hal seperti itu kepada Hasan?
Tangan Hasan memegang tangan Anha mencoba untuk melepaskan tangan Anha yang sedang menutupi wajahnya itu sambil terkekeh senang, namun Anha masih menutup wajahnya rapat rapat sambil menggelengkan kepala.
“Sini gantian aku balikin ciumannya,” kata Hasan mencoba menicum pipi calon istrinya tersebut.
“Nggak mau, ih. Malu,” kata Anha sambil menggelengkan kepalanya dan masih menutup wajahnya yang semerah tomat itu.
“Sini sun dulu,” kata Hasan menggoda Anha yang menggemaskan itu.
“Nggak mauuuuu… malu Hasan…”
Hasan tertawa. Hasan berpikir dan mencari ide supaya bagaimana Anha mau membuka tangannya yang masih menutupi wajahnya tersebut. Dengan iseng Hasan menggelitiki perut Anha membuatnya tertawa karena geli.
Kini mereka tertawa cekikikan bersama dalam mobil. Akhirnya Anha mau dicium balik oleh Hasan, tapi bukan ciuman di pipi melainkan satu ciuman agak lama di keningnya dan hal tersebut membuatnya malu setengah mati.
“Buruan, yuk. Nanti kita telat ke kafenya,” kata Anha setelah suasana sudah mulai mencair kembali.
Hari ini mereka memang hendak hangout bersama Sisil dan Lidya seperti yang dijajikan jauh jauh hari itu.
Bahkan seperti layaknya orang yang sedang dimabuk cinta, kali ini Hasan sampai mau mengenakan baju berwarna biru yang senada dengan atasan milik Anha. Baju couplean. Kekanakan memang, tapi ini sangat manis.
Hasan sesekali menangkap tangan jahil calon istrinya tersebut sambil masih memperhatikan kea rah jalan depan karena dia sedang sibuk menyetir mobil.
Entah mengapa Anha sangat mencintai lelaki tampan di sebelahnya ini.
Perlakuan kecil tapi romantis yang selalu dilakukan oleh Hasan membuatnya jatuh cinta sejatuh jatuhnya.
Contohnya seperti berbelanja bersama atau sekadar memasangkan seat belt untuknya. Hasan juga mau meluangkan waktu dikala sibuknya hanya demi Anha seorang. Semua hal itu, entah mengapa sudah lebih dari sekadar cukup untuk membuatnya jatuh cinta kepada Hasan setiap harinya.
Sesampainya di kafe tempat yang dijanjikan. Hasan menggengam erat tangan wanita yang dicintainya itu ketika berjalan beriringan bersama. Tidak mau dilepaskannya sedetik pun juga.
Seolah agar setiap mata yang memandang di sini tahu bahwa wanita cantik ini hanyalah miliknya seseorang.
Sisil yang menangkap kedatangan mereka berdua pun langsung melambaikan tangannya seperti memberi tahu lokasi tempat duduk mereka ada di sana.
Anha tersenyum dari kejauhan dan mengangguk.
Sisil dan Lidya terkesima ketika melihat calon suami Anha yang tampan sekali itu, apalagi jambang di sekitar dagunya membuatnya semakin hot saja.
"Bener, Sil katamu. Cakep banget pacarnya si Anha," kata Lidya dengan agak meredahkan nada bicaranya agar yang lainnya tidak mendengar.
"Nah, iya, kan. Udah aku bilang si Anha pasti pakek pelet kali. Orang dari dulu sewaktu SMA aja pacarnya ganteng ganteng dan tajir semua. Pinter banget dia, Lid, kalau cari pacar."
Lidya terkikik geli mendengar rentetan ucapan Sisil yang panjang lebar itu.