
"Kalau Nyonya pergi gimana sama kami semua? Nyonya nggak pernah nyakiti hati kami, kok. Bahakan Nyonya orangnya baik banget sampe kami diperlakuin kayaka keluarga sendiri. Nggak kayak majikan-majikan yang lain yang jahat-jahat dan memandang pembantu kayak budak mereka. Jangan pergi nyonya," kata Siti sambil menangis. Kini Menik dan Mbok Sami juga memelukku.
Rasanya begitu menyakitkan. Kenapa Ikram tega melakukan hal semenyakitkan ini kepadaku padahal pernikahan kami sudah mulai membaik. Kenapa? Kenapa dia setega ini?
Tapi tak ayal aku tetap harus melepaskan pelukan berat ini. Aku harus pergi. Mumpung Ikram belum pulang ke rumah.
Aku hanya mampu tersenyum getir.
Atau mungkin... saat ini Ikram sedang melanjutkan kembali hubungan intimnya dengan selingkuhannya yang tadi sempat tertunda gara-gara aku.
Sudahlah. Aku tidak peduli.
Ketika aku sudah menginjakkkan kakiku di teras rumah. Aku mengingat kembali kenangan bersama Ikram. Kenangan ketika biasanya aku mencium tangannya setelah dia pulang dari kantor...
Kenangan ketika tadi pagi dia mencium bibirku dengan lembut dan jari kelingking kami saling bertautan mengucapkan janji jika dia akan segera pulang ke rumah dan aku akan selalu menantinya.
Aku buru-buru menghapus air mataku yang membasahi pipiku ketika mendengar suara dari mobil Ikram yang bergerak memasuki pelataran rumah. Aku menundukkan kepalaku dan mulai berjalan lurus seolah di depan sana tidak ada Ikram yang sedang bergerak keluar dari dalam mobilnya.
"An... An dengerin aku dulu sayang," kata Ikram mencoba mencegah langkah kakiku. Aku menggelengkan kepala.
"Sayang, dengerin aku. Aku minta maaf atas semuanya. Please, jangan pergi."
Ikram memelukku dengan erat dan mencoba sekuat tenaga agar aku tidak pergi darinya. Aku menangis terisak, aku masih mengingat ini bukan pertama kalinya dia mencegah kepergianku.
"Sayang, dengerin aku. Aku minta maaf atas semuanya. Please, jangan pergi."
Dengan sekuat tenaga aku mencoba melepaskan pelukan Ikram dari tubuhku. Aku mendorong tubuhnya agak kuat sehingga kini dia bergerak mundur satu langkah dari hadapanku.
"Aku mau kita cerai, Mas! Aku mau pulang ke rumah Mamaku!"
Namun Ikram malahan menarik tanganku agak memaksa hingga kini aku masuk lagi ke dalam rumah kami. Kemudian Ikram menutup pintu rumah. Aku mengerti. Dia melakukan hal tersebut agar para tetangga tidak mengetahui pertengkaran kami berdua.
Aku membuang muka, menatap ke arah lain ketika Ikram mencoba menatap diriku.
"Anha, Sayang. Kumohon maafin aku," katanya sambil mencoba menyentuh tanganku namun aku menepisnya dengan kuat.
Apa tadi dia bilang? Sayang? Dia sudah menyelingkuhiku dan sekarang dia masih bisa-bisanya memanggilku dengan sebutan 'Sayang'? Dimana hati nurani lelaki ini. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang saat ini sedang ia pikirkan.
"Aku mau kita cerai, Mas. Kita udah selesai. Aku nggak mau lihat wajah kamu lagi," kataku sambil melangkah mencoba pergi dari hadapannya namun Ikram mencegahku untuk pergi dari sini.
"Nggak, kamu gaboleh pergi. Aku sayang banget kamu, Anha. Aku nggak mau cerai," kata Ikram menahanku.
Aku menggeleng kuat dan memegang lengan kiriku sambil menundukkan kepala karena aku mulai merasa mataku memanas dan mulai akan menangis lagi.
Jangan menangis Anha, kamu kaut. Kata gadis batinku mencoba membuatku untuk tegar.
"Anha. Kumohon dengerin aku dulu. Aku bisa jelasin semua ini sama kamu."
Ikram memegang kedua bahuku. Aku mengepalkan tanganku dengan erat, kini air mataku yang sekuat tenaga kutahan akhirnya terjatuh juga.
Aku benci semua ini.
Penjelasan apa lagi yang hendak ia katakan kepadaku?
Semuanya sudah terang-benerang di depan mataku kalau dia berselingkuh dan tidur dengan wanita lain itu.
Tidak ada sama sekali kata maaf dan pembenaran dalam khasus perselingkuhan. Selingkuh dalam rumah tangga itu adalah sebuah kesalahan yang teramat fatal.
Kepercayaanku kepada dirinya sudah hilang. Sudah seperti kaca yang pecah tanpa bentuk lagi.
"Jelasin apa lagi, Mas? Kamu pikir istrimu ini buta, hah? Aku, istrimu ini emang bisa kamu bodohin, Mas, sampai mau ngelakuin pekerjaan rumah, sampai mau masakin dan ngelepasin sepatu kamu tapi istri kamu ini nggak buta, Mas!"
Kini aku mencoba menatap wajah Ikram. Matanya memerah dan berair, dia juga menangis. Kemudian dia hanya mampu terdiam mendengar perktaanku barusan.
"Anha. Maafin aku, kumohon dengerin aku dulu," katanya memohon-mohon kepadaku sambil mencoba menggenggam tanganku.
"Apa? Mau jelasin apa lagi?" kataku sambil menaikkan daguku.
Sebenarnya aku lelah menghadapi Ikram dan hendak langsung angkat kaki saja dari rumah ini. Tapi tak apa, aku tahu penjelasannya pun tidak akan dapat merubah keputusanku untuk cerai dan pergi dari sini.
Aku... hanya sedang memberikan kesempatan kepadanya untuknya menjelaskan semua ini. Mungkin karena aku berpikir... ini adalah kali terakhirnya aku menatapnya, mendengarkannya. Namun setelah itu aku tidak akan mau lagi melihat Ikram atau pun mengenalnya lagi.
Selamanya.
***
"An..." kata Ikram menggantungkan ucapannya. Kemudian Ikram mengusap wajahnya dengan kasar dan menarik rambutnya ke belakang. Lihatlah, bahkan sekarang dia hanya mampu terdiam saja tanpa mengatakan sepatah kata pun padahal dia mengatakan akan menjelaskan ini semua.
"Maafin aku, Anha. Aku yang salah. Aku cinta banget sama kamu. Aku nggak mau kalau kita cerai."
Aku hanya mampu menggelengkan kepalaku. Itu bukan penjelasan.
"Kalau kamu cinta sama aku, kenapa kamu nyelingkuhi aku, Mas? Kenapa kamu bohongin aku!" teriakku sambil menangis kepadanya.
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, aku tidak tahu apakah teriakanku barusan terdengar oleh orang lain atau tidak di jam semalam ini. Aku juga tidak tahu apakah pembantuku diam-diam menguping pembicaraan kami.
"Aku cinta, An, sama kamu..." kata Ikram terputus sambil kedua tangannya memegang pundakku. Mencoba meyakinkan diriku.
"Ta-tapi aku juga cinta sama dia," lanjutnya membutku terdiam dan tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar.
Demi Tuhan! Aku tidak percaya dengan ini semua.
"Kenapa kamu nyelingkuhi aku? Apa cuma karena aku udah nggak perawan gitu sampai kamu bales dendam ke aku kayak gini?" tanyaku kepadanya. Wajah ikram tampak bingung hendak menjawab apa--terlihat dia menelan ludahnya dari jakunnya yang bergerak naik turun.
"A-aku..."
"Kamu nggak bisa jawab, kan? Lagian kalau kamu mau nikah sama selingkuhanmu itu bukannya harus seizin istri pertama? Sekarang ceraiin aku dan silakan nikmati hidupmu sama jalang itu!"
Aku menarik napas dalam-dalam dan menahannya di rongga pernapasku. Aku tidak boleh terlihat lemah dan terus menangis di hadapan Ikram.
"Aku emang menjijikkan, Mas. Tapi dengan tingkah kamu yang nyelingkuhi aku dan tidur sama cewek lain itu lebih-lebih dan lebih menjijikan lagi!" tambahku yang hanya membuat Ikram terdiam saja.
"Kenapa diem aja? Bukannya tadi kamu bilang kamu mau jelasin semua ini ke aku? Sekarang coba jelasin!" kataku lagi. Dibandingkan dengan bersedih akan perselingkuhannya terhadapku. Kini emosi yang ada di benakku malahan amarah bagaikan bom yang meledak.
"A-aku kenal Dewi waktu SMA, An. Dia cinta pertamaku. Te-terus kami ketemu lagi waktu reunian, terus..."
Aku mengepalkan tanganku erat-erat dan memejamkan mataku sejenak. Kenapa juga aku harus mendengar kisah percintaannya dengan selingkhannya itu?! Bahkan dia menyebut nama selingkuhannya di depanku dan membuatku semakin muak dengannya.
Sosok Ikram yang dulunya begitu kupuja dengan mata cokelat miliknya yang menjadi mata terindah favoritku seolah sekarang sirna sudah. Tidak ada lagi pujaan dan dambaan untukku kepadanya. Ikram yang dulunya kunilai begitu dewasa dan penuh perhatian. Dia kaya dan baik. Penuh kasih sayang kepadaku.
Tetapi sosok yang saat ini berdiri di depanku ini seolah bukan dia lagi. Sekarang ini aku sudah terlalu kecewa dengannya. Ada hasrat ingin menamparnya untuk yang kedua kalinya namun hal tersebut masih dapat kuurungkan.
"Waktu itu... tepatnya sebulan setelah kita menikah. Aku nggak ada pandangan buat nerusin pernikahan ini sama kamu. Aku diem aja dan ngizinin kamu tinggal di sini karena perjanjian empat bulan yang dulu kita sepakati. Dan.. Dan ketika itu, aku ketemu lagi sama Dewi. Aku jatuh cinta untuk yang kedua kalinya, An, sama dia."
Aku mengeratkan gigiku. Mengusap sisa air mataku dengan kasar.
"Yaudah, aku minta cerai dan silakan hidup sama si Istri sirimu itu!"
Aku melangkah hendak pergi dari hadapannya namun dia kembali mencegahku dan menggelengkan kepada kuat-kuat seolah tidak ridha ketika aku hendak pergi.
"Tapi, An. Itu waktu dulu. Saat ini aku udah bener-bener bisa nerima kamu apa adanya dan aku jatuh cinta, An, sama kamu. Aku bohongin kamu dan bilang mau pergi ke Bandung karena aku cuma mau mastiin perasaanku ke Dewi dan--"
"Kamu bisa diem nggak dan nggak usah nyebut nama wanita sialan itu di depan aku?!" teriakku menggema di ruang ini. Memang wanita mana yang tak sakit hati melihat suaminya menyebut nama wanita idaman lain di depannya secara terang-terangan. Ikram menelan ludahnya dan mengangguk.
"Nggak ada niatan sama sekali, An, buat aku balas dendam atas kelakuanmu dulu. Waktu itu hatiku lagi kosong dan dia hadir di hidupku lagi. Ketika aku mau ngelepas kamu, lambat-laun perasaanku ke kamu mulai tumbuh lagi dan saat ini aku cinta mati sama kamu, An. Bahkan aku cuma nikahin dia secara siri dan sampai sekarang aku belum nikahin dia secara resmi karena aku masih cinta sama kamu, An."
Aku menggelengkan kepalaku, benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikian Ikram. Dia bilang dia berbohong dengan alasannya yang pergi ke Bandung hanya untuk memastikan perasaaannya kepada selingkuhannya itu?
Aku tersenyum getir. Hah, yang benar saja. Jika dirinya bermaksud hanya untuk memastikan perasaannya saja, lalu kenapa pula Ikram menidurinya di hotel tadi?
Ah... mungkin itu seks mereka yang terakhir kemudian Ikam berencana meninggalkan wanita tersebut dan memutuskannya. Picik sekali dia ini.
Jadi apa inti dari ucapannya itu?
"Aku cinta, An, sama kamu. Tapi aku juga cinta sama dia dan aku juga nggak bisa ninggalin dia."
Rahangku jatuh ke bawah tidak percaya dengan apa yang baru saja dia katakan.
"Maafin aku, An. Aku nggak mau kita cerai. Aku nyesel, An," kata Ikram memohon kepadaku sambil menangis. Aku hanya mampu menggelengkan kepala karena sudah tidak tahu harus berkata apa lagi.
Aku sudah tidak kuat lagi.
Dia bilang dia mencintaiku tetapi dia juga mengatakan jika dia tidak bisa meninggalkan selingkuhannya itu. Jadi inti pokok pembicaraannya adalah dia tidak mau menceraikanku dan dia ingin poligami. Kemudian aku akan tinggal satu atap dengan suamiku dan istri sirinya itu.
Menjijikkan!
Aku tidak sudi!
Aku melepaskan tangan Ikram yang menggenggam jemariku. Sudahlah, untuk apa juga aku mengulur-ulur waktu lebih lama lagi hanya untuk mendengar perkataannya barusan. Tidak ada pembenaran sama sekali mengenal hal ini. Aku sudah lelah.
Namun ketika aku baru saja berjalan dua langkah hendak meninggalkannya tiba-tiba Ikram berlutut di hadapanku sambil menangis memohon-mohon agar aku memaafkannya, dia menangis sesenggukan dan memegang lututku. Mirip sekali dengan diriku yang dulu pernah berlutut memohon kepadanya agar tidak dipulangkan ke rumah orang tuaku di hari ketiga dia menceraikanku.
Aku hanya mampu menutup mulutku tidak percaya dia melakukan hal ini.
"Kumohon Anha, kumohon maafin aku, Sayang, Aku nggak mau kita pisah, kumohon kasih aku kesempatan lagi, An," kata Ikram sambil menangis sesenggukan. Tanganku gemetar hendak menyentuhnya namun aku mengepalkan tanganku mengurungkan niatku.
Sebenarnya aku tidak tega dia sampai berlutut dan memohon seperti ini kepadaku.
Tapi sisa rasa cinta di hatiku seolah lebih terdominasi dengan rasa sakitnya perselingkuhan yang ia lakukan terhadapku.
Tidak. Aku tidak mau memberikan kesempatan kedua untuknya.
Ibu mertuaku tidak menyukaiku.
Suamiku berselingkuh.
Bahkan lebih gilanya lagi dia menikah siri di belakangku tanpa persetujuanku.
Apalagi yang aku harapkan dari pernikahan ini?
Aku menggelengkan kepalaku. Kemudian tanganku mencoba melepaskan cincin kawin yang melingkar pada jari manisku.
"Maaf, Mas. Aku nggak bisa nerusin ini semua. Ini sakit banget, Mas bagi aku. Aku cuma mau kita cerai," kataku sambil melepaskan tangan Ikram yang memegang lututku.
Setelah itu aku berbalik badan dan menjatuhkan cincin nikahku ke lantai. Aku berlari pergi dari rumah ini. Ikram mencoba mengejarku dan memegang erat lengaku.
"Oke, fine. Tapi please kamu bisa pulang ke rumah Mama besok, An. Bukan semalem ini. Ini udah jam sembilan malam, An."
Aku menghempaskan tangannya dengan kuat. Aku tidak peduli! Aku mendorong Ikram kemudian aku segera lari melewati pagar dan menangis sesenggukan.
Aku memasuki beberapa gang sempit, jalan pintas yang menghubungkan perumahan ini dengan jalan raya yang biasa kulewati dengan Siti ketika kami berbelanja ke supermarket dan jelas saja Ikram tidak akan mungkin mengetahui rute jalan rahasia ini karena jika aku melewati jalan normal Ikram pasti akan menemukanku.
Aku mengusap air mataku dan menyebrang jalan raya, kemudian aku berhenti sejenak dan duduk di halte bus. Ini sudah sangat malam, tidak ada angkutan umum yang lewat.
Dinginnya udara malam seolah membelai kulit lenganku yang terbuka. Jika semakin larut lagi maka malam akan semakin dingin dan terlihat semakin menyeramkan pula.
Aku menggigit kuku ibu jariku. Bingung dengan keputusan yang hendak aku ambil.
Haruskah aku pulang ke rumah Mama?
Tapi...
***
Instagram: @Mayangsu_
Wattpad: @Mayangsu
Email : Mayangsusilowatims@gmail.com
Storial: Mayangsu
Mangatoon: Mayangsu