
"Sinting!"
Makiku kencang karena syok setelah mendengar suara yang awalnya berisik kini sudah berganti menjadi suara desahan yang terdengar sangat jelas. Dengan cepat kumatikan panggilan telepon tersebut.
Tubuhku gemetar, aku menggigit jariku. Tak butuh waktu lama ponselku pun berbunyi kembali, terlihat panggilan masuk dari orang tadi. Aku tidak bodoh, jelas saja aku tidak mau mengangkatnya. Tetapi orang itu tidak menyerah, dia terus saja mengulangi panggilannya sampai lima kali. Aku memilih membiarkannya sampai panggilan tersebut berhenti sendiri.
Ketika ponselku sudah tidak berbunyi lagi, buru-buru aku hendak memblokir nomor tersebut, tetapi mataku tidak sengaja membaca pesan masuk darinya.
+6281332345411: Kok, nggak diangkat, sih? Angkat, dong.
Dan pesan terakhir adalah pesan gambar darinya. Dengan refleks aku membuang ponselku ke lantai ketika melihat pesan terakhir pria itu.
Ya, Tuhan! Meskipun hanya dua detik tapi aku bisa melihat dengan jelas pesan gambar itu, gambar seorang yang sedang memamerkan alat kelaminnya.
Tubuhku gemetar. Kenapa dia bisa tahu nomorku? Apa Lidya yang memberikan nomorku kepada om-om itu? Jika memang benar Lidya yang melakukannya, kenapa Lidya bisa setega ini kepadaku?
Setelah lima belas menit mencoba menenangkan diri. Aku berjalan pelan ke luar kamarku untuk mengambil minuman di dapur. Ketika baru sampai di depan pintu kamarku, aku berpapasan dengan Mama yang sedang membawa kopi di tangan kanannya.
"Belum tidur?" tanya Mama.
Aku menggelengkan kepala.
"Nggak bisa tidur, Ma. Mama lembur?" tanyaku. Mama mengangguk, aku mengekori Mama dari belakang, sepertinya Mama akan pergi ke ruang keluarga untuk menghampiri tumpukan dokumen dan laptopnya yang masih menyala. Aku ikut duduk di sebelah Mama, mengurungkan niatku untuk mengambil minum di dapur.
"Kamu mau? Kopinya masih ada satu sachet, sih, di dapur kalau mau buat."
Aku menggeleng tidak mau, takutnya aku tidak bisa tidur.
"Besok kamu mulai berangkat?" tanya Mama sambil membaca berkas laporan di tangan kirinya.
"Hm," gumamku singkat. Mau tidak mau besok aku harus tetap berangkat kerja. Alasan terbesarnya yaitu aku harus meminta penjelasan semua ini kepada Lidya. Jika sampai Lidyalah orang yang memberikan nomorku ke Om itu, maka aku benar-benar tidak mau memaafkannya.
Mama menatapku lamat-lamat, kemudian mengerutkan keningnya.
"Kamu serius, kan, nggak kenapa-napa? Nggak biasanya, loh, kamu aneh kayak gini, An. Wajahmu juga pucet banget gitu."
Selidik Mama seolah Mama bisa membaca keanehan dari sikapku. Strike, insting ikatan batin antara orang tua dan anak memang selalu tepat sekali.
"Anha nggak kenapa-napa, kok, Ma. Cuma kecapaian aja, Ma."
Mama mengangguk kemudian melanjutkan mengetik laporannya lagi. Aku mengembuskan napas lega, untungnya Mama percaya dengan alasanku tadi.
"Ma..." kataku pelan, ingin rasanya aku menceritakan kejadian itu ke Mama. Tetapi kemudian kuurungkan niatku, aku tidak ingin membebani pikiran Mama.
"Ya?"
"Boleh nggak Anha tidur dipangkuan Mama? Kepala Anha pusing banget, Ma," bohongku. Mama tersenyum hangat dan mengangguk. Aku bergerak meletakkan kepalaku di paha Mama. Mama melanjutkan kembali kegiatan mengetiknya di laptop, aku sama sekali tidak terganggu suara keyboard dari laptop Mama.
Mataku mulai terasa berat, kututup mataku untuk menghadirkan rasa kantuk. Sesekali kurasakan tangan Mama membelai kepalaku ketika gerakan mengetiknya terhenti. Ketika berada di sisi Mama, rasanya begitu aman dan terlingungi.
***
Jam tanganku menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Aku mengembuskan napas lega, walaupun bus Trans kedua yang akan mengantarkanku transit dari halte ini ke halte dekat mal tempatku bekerja belum juga terlihat, setidaknya aku masih memiliki waktu setengah jam lagi untuk sampai.
Aku menggaruk lenganku karena gelisah, kenapa lama sekali bus kali ini? Biasanya hanya membutuhkan waktu lima belas menit saja, kok. Dengan tidak sabaran aku lebih memilih berjalan kaki saja mengingat jarak antara halte ini ke halte dekat mal hanya dua ratus meter. Hitung-hitung olahraga pagi.
Selama perjalanan aku menunduk dan melihat ke bawah saja. Aku lebih asyik mengamati ujung sepatu flat shoes-ku daripada menatap ke depan ataupun ke sekitar karena beberapa lelaki yang berada di sisi kanan jalan sesekali bersiul dan melontarkan kalimat menggoda kepadaku.
Memang sejak SMA aku sudah terbiasa dengan godaan macam itu, tetapi entah mengapa baru sekarang aku mulai risih ketika diperlalukan seperti itu. Aku memegang tali tasku erat-erat. Apa mungkin ini karena efek pelecehan kemarin, ya?
"Hai!" panggil seorang laki-laki dari mobil di sebelah kiri tempatku berjalan. Aku tidak tahu siapa lelaki tersebut karena aku terus saja berjalan menunduk. Apa jangan-jangan dia itu si Rudi yang semalam meneleponku, ya?!
Langkahku kupercepat, dia terus saja memanggilku, bedanya kini dia mulai menaikkan nada bicaranya—mungkin karena dia pikir aku tidak mendengar perkataanya. Aku bersyukur karena sepertinya dia sudah tidak mengikutiku lagi, terlihat dari suara mobilnya yang sudah menghilang.
"Lepasin!"
Aku menggeliat ketika seseorang memegang lenganku dari belakang. Tubuhku gemetar, dia membalikan tubuhku dan memegangi kedua bahuku sambil menatapku dalam. Kemudian aku bernapas lega ketika mengetahui orang tersebut bukanlah si Rudi. Melainkan adalah Ikram. Aku memegangi dadaku, Ya Tuhan, aku selamat!
"Kamu nggak papa? Hei!" Ikram mengguncang pelan bahuku. Pandanganku masih linglung karena masih dalam keadaaan syok. Aku mengangguk kecil dan mencoba bersikap tenang.
"Kamu serius nggak papa, kan? Wajahmu pucet banget."
Kemudian aku menatap Ikram, dia menampakkan ekspresi khawatir.
"Aku takut."
Itulah respons refleks yang keluar dari mulutku. Dia mungkin tidak paham dengan apa yang baru saja kukatakan. Ikram menawariku untuk berangkat bersama. Awalnya aku hendak menolak tawarannya, tapi aku takut jika nanti tiba-tiba aku bertemu dengan Rudi di jalan. Akhirnya aku memutuskan untuk menerima tumpangannya, terlebih lagi Ikram tidak terlihat seperti orang jahat.
Dia memasangkan seat bealt kepadaku, aku mengamati mobilnya, mewah juga. Sudut mataku melirik dirinya yang sedang fokus menyetir. Lengannya terlihat seksi ketika memegang setir lantaran Ikram selalu menggulung lengan kemejanya sampai ke siku.
Aku memiringkan tubuhku menatapnya. Kuamati dia dengan saksama, hidungnya mancung, terdapat bulu halus di dagunya karena belum bercukur, tetapi itu malahan membuatnya semakin panas, terutama bibirnya itu...
Aku mengalihkan pandangan ketika dia menengok ke arahku. Aku menggigit bibir bawahku, aku ketahuan mengamatinya. Beberapa detik kemudian dia memfokuskan pandangannya ke depan lagi. Barulah aku bisa mencuri-curi kesempatan untuk menatapnya kembali.
Ketika mobil berhenti sejenak di lampu merah. Ikram menatapku, pandangan kami beradu, kali ini aku dapat berpaling dari netra cokelat miliknya yang indah itu. Aku tersenyum kepadanya, namun dia tidak membalas senyumku sama sekali.
Sialan!
"Kamu masih pakai baju kayak gitu?" tanyanya dingin, masih menatap lurus ke depan. Aku mengamati penampilanku sendiri, kemudian aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal, memang terlalu ketat, sih.