After Marriage

After Marriage
Anak Jeng Asih



"Anha cepetan temenin Mama buat ke rumah sakit jenguk Jeng Asih!" teriak Mama dari luar kamar Anha.


Hah, menengok Jeng Asih semalam ini? Yang benar saja. Apa memangnya tidak ada besok saja, sih?


"Buruan, Anha!" teriak Mamanya dari luar kamar memekikkan gendang telinganya.


"Iya iya, Ma. Bentar, dong."


Anha keluar dari dalam kamarnya sambil menekuk nekuk wajahnya. Dia menggerutu dalam hati dan mengekori Mamanya yang sudah memegang kunci motor.


Mata Anha sudah lima watt walaupun ini masih pukul sepuluh malam hari. Tapi dia benar benar ngantuk.


"Ma, ngantuk," rengek Anha kepada Mamanya setelah mamanya mengeluarkan motor dari garasi.


Anha memang hanya memiliki satu motor yang biasa digunakan oleh Mamanya ketika berangkat kerja. Dia sendiri lebih sering naik ojek online karena memang sebenarya Anha tidak bisa naik motor. Ada yang mengatakan hal tersebut malahan membuat boros. Tapi tiap orang berbeda, sih.


"Udah buruan naik. Tinggal bonceng aja banyak protes," kata Mama dengan kesal karena anaknya tersebut terlalu banyak menggerutu.


Dengan perasaan yang masih kesal dan mata yang ngatuk. Anha membonceng di belakang.


Untung saja sweeters yang dikenakannya dapat menghalang rasa dingin dari angin malam.


Anha mengingat ngingat sejenak dan mencari topik agar tidak lengang selama perjalanan ke rumah sakit.


"Ma, bukannya Jeng Asih itu sahabatnya mama yang waktu makan malam itu, ya?" tanya Anha sambil menopang dagunya pada pundak Mamanya yang masih sibuk menyetir.


"Iya. Betul."


"Emang sakit apa, Ma, kok sampai di rawat di rumah sakit?"


"Dulu dia kecelakaan, kaki kanannya sempat retak. Nggak tahu mungkin kambuh lagi rasa sakitnya. Kasihan anaknya jarang di rumah terus suaminya lagi dinas keluar kota."


Anha mengangguk anggukkan kepalanya. Anha ingat, sih, dulu ketika makan malam Tante Asih terlihat kesusahan dan tertatih ketika berjalan.


Anha menggigit bibir bawahnya dan setengah menyembunyikan senyum geli ketika mengingat pertanyaan yang hendak ia tanyakan kepada Mamanya tersebut.


“Ma. Anaknya Jeng Asih ganteng nggak? Ganteng mana sama Hasan?”


Kini tampak Mamanya bersemangat menjawab pertanyaan dari anaknya itu. Suasana sudah mulai menghangat, mengalahkan aingin malam yang terasa dingin menyentuh kulit tubuh.


“Jelas, dong, gantengan anaknya Jeng Asih. Udah ganteng, kaya raya, baik juga kayaknya. Terus kalau nggak salah dulu Jeng Asih pernah cerita, kok, ke Mama kalau anaknya itu pengusaha property.”


Anha memutar ke dua bola matanya mendengar hal tersebut. Halah. Palingan mamanya ini terlalu melebih lebihkan dalam memberikan penilaian kepada si anaknya Jeng Asih itu.


“Lebay, ih, Mama. Emangnya Mama pernah gitu ketemu sama dia?”


“Ya, pernah, nah. Waktu dia jemput Jeng Asih, kan, dia sempet salim juga sama Mama. Wah, pokoknya nyesel kamu nggak mau dijodohin sama dia. Kalau Mama masih muda dan dijodohin sama dia, mah, Mama mau mau aja.”


Anha memegang kepalanya yang dilapisi helm berwarna merah tersebut. Kalau begitu kenapa juga bukan Mamanya ini yang menikah dengan anaknya Jeng Asih.


Tanpa terasa karena saking asyiknya mengobrol sampai mereka tidak menyadari jika sudah sampai ke rumah sakit ini.


Anha hanya diam saja sambil mengekori Mamanya yang saat ini sibuk menekuri ponselnya untuk mencari dimakah letak dari ruangan Jeng Asih berada.