
“Gimana kalau pernikahan kita dipercepat jadi satu bulan atau dua bulan lagi, An?” tanya Hasan sambil tersenyum ke arah Anha.
Anha yang mendengarnya terdiam sesaat. Memikirkan jawaban yang tepat untuk Hasan. Dia masih bingung dan belum bisa mengatakan; ‘iya, aku mau’ dengan mantab. Satu bulan itu terlalu cepat sekali, dan padahal tiga bulan adalah waktu yang pas untuk mereka saling mengenal satu sama lain dan memutuskan untuk menikah.
“A-aku…”
Anha menelan ludahnya sejenak. Kemudian melanjutkan kembali perkataannya itu.
“Hasan… bukannya aku nggak mau pernikahan kita dipercepat. Bukan pula aku ragu sama kamu. Tapi itu terlalu cepet banget buat aku. Lagi pula, kamu belum mengenal aku dengan baik, bukan? Aku juga belum cerita ke kamu tentang kenapa aku cerai dari suamiku yang dulu aku ke kamu.”
Hasan tersenyum mendengarnya. Memang itulah sebenarnya yang Hasan tunggu dari Anha. Dia ingin menanyainya perihal kenapa bisa Anha seorang janda padahal dia sangat muda sekali.
Bagaimana mulanya sampai bisa dia bercerai dengan mantan suaminya dulu.
Meskipun segala sesuatu mengenai hal tersebut adalah privacy, tetapi calon suaminya ini wajib mengetahui segala sesuatu secara transparan, kan.
Bagi Hasan sendiri, Janda ataupun gadis tidak masalah. Yang terpenting adalah kepribadian dari Anha sendiri.
Anha yang cantik dari luar, elegan, pintar masak, sayang dengan anak kecil dan keibuan. Wanita baik baik. Semua itu belum cukup menggambarkan Anha di mata Hasan.
Seolah tidak ada cela, tapi manusia kadang lupa jika tidak ada yang sempurna di dunia ini…
“Gimana kalau kita ke apartement aku dan nanti di sana kamu ceritain banyak hal tentang kamu ke aku, bukan?”
Anha menatap kedua netra milik Hasan yang berwarna hitam tersebut. Mata denga netra berwarna hitam yang indah, seolah olah Anha dapat bercermin di netra cokelatnya tersebut yang menampilkan bayangannya.
Tanpa terduga sama sekali, seolah refleks dalam batin, tangan Anha tergerak sendiri dan menyentuh wajah yang tampan sekali itu. Menyentuh hidung mancung Hasan dengan perlahan, dagu yang dihiasi jambang tipis membuat lelaki di sebelahnya ini benar benar terlihat sangat panas sekali. Seolah dapat membuat Anha tidak tersadar jika mereka masih di lingkungan yang ramai.
Hasan terkekeh.
“Sampai kapan kamu bakalan megang wajah aku, An? Dilihatin orang banyak, lho,” kata Hasan membuat Anha langsung tersadar dan melepaskan tangannya dari wajah Hasan.
Sekarang Anha malu bukan main.
Hasan tersenyum.
“Gimana? Jadi nggak ke apartement aku?” ulang Hasan bertanya kepada Anha.
“Eh?”
“Aku janji, kok, kalau aku nggak bakalan macam cama kayak dulu lagi, jadi kamu nggak usah khawatir, ya. Aku cuma pengin kamu masakin aja. Laper,” kata Hasan mencoba mencairkan suasana sambil mengusap perutnya yang sudah terasa keroncongan itu.
Anha terkekeh dan memukul pelan bahu Hasan. Dia juga tahu, kok, kalau Hasan tidak akan khilaf lagi seperti dulu.
Anha mengangguk menyetujui.
Setelah itu mereka berdua masuk ke dalam mobil, dan Hasan nantinya akan menepikan mobilnya di salah satu supermarket untuk berbelanja bahan makanan mengingat kulkas seorang bujang itu memang sering kosong melompong lantaran Hasan selama ini lebih suka makan di luar ataupun memesan gojek saja karena lebih simple.
Namun, ketika mobil mereka sudah melaju dan meninggalkan tempat tersebut. Seseorang yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua dari kejauhan kini masuk ke dalam mobilnya yang berwarna itam itu. Dia tidak ingin kehilangan jejak Hasan dan Anha.
***