After Marriage

After Marriage
Kedatangan Ikram dan Mama Erin ke Rumah



Mama menggenggam tanganku dengan lembut. Aku bisa merasakan kehangatan kasih sayang yang besar dari sana menjalar ke hatiku.


Mama menunduk ke bawah. Pandangannya begitu redup dan masih menangis.


“Ini semua salah Mama. Maafin Mama karena dulu Mama nggak pernah ada di sisi kamu dan nggak ngejagain kamu dengan baik sehingga kamu salah pergaulan di masa lalu. Mama yang salah, Anha. Ini semua salah Mama.”


Mama menghela napas sesaat, kemudian Mama melanjutkan kembali ucapannya yang tadi sempat terputus itu.


“Coba kalau dulu Mama ngejagain kamu dengan baik. Mungkin kamu nggak bakalan kejebak pergaulan bebas dan mungkin kamu nggak akan cerai sama suamimu. Mama egois, Mama cuma ngejar harta terus.”


Aku menggelengkan kepala kuat kuat sebagai bantahan atas perkataan Mama barusan karena memang dulu aku terjerat pergaulan bebas alasannya bukan karena kekurangan kasih sayang dari orang tua melainkan karena dulu aku yang masih muda itu hanya main-main saja dan memiliki prinsip senang-senang sesaat seperti:


‘Alah sekali rusak yasudah rusak saja. Toh, mumpung udah jebol juga. Pacar aku juga nggak bakalan tahu aku udah ngerasain berapa kali, tuh.’


Prinsip konyol yang Anha muda selalu pegang.


Kini nasi sudah menjadi bubur. Hancur. Sudah tidak dapat lagi dikembalikan ke bentuk semula. Menyalahkan orang lain pun juga sudah tidak bisa karena itu murni kesalahanku dan aku melakukan hal itu secara sadar.


Dan lihatlah aku. Kini aku kena getahnya sendiri. Dosa di masa lalu itu seolah menghantuiku sampai ke masa depanku. Menghancurkan indahnya pernikahan yang seharusnya aku dapatkan saat ini.


“Nggak, Ma. Ini semua bukan kesalahan Mama. Tolong jangan pernah salahin diri Mama di khaus ini karena memang ini semua kesalahan Anha. Saling menyalahkan satu sama lain juga bukan jalan keluar dari masalah ini, Ma. Mungkin ini memang karma dari Tuhan atas perbuat Anha yang dulu pernah Anha lakuin, Ma.”


Aku mengusap air mata Mama. Selalu ada pelajaran di setiap masalah. Selalu ada hal yang bisa dipetik dari sebuah musibah yang menimpa.


Aku tahu ini adalah buah dari karmaku. Tetapi aku yakin Tuhan pasti juga memiliki rencana indah di depan sana yang akan menantiku jika aku terus memperbaiki diri dan memperbaiki kehidupanku.


Orang lain yang memiliki jalan hidup sepertiku mungkin saja memiliki masalah lebih pelik lagi daripada aku. Seperti hamil diluar nikah karena pergaulan bebas dan bahkan ada yang aborsi juga. Ada juga yang menderita HIV ataupun penyakit lainnya.


Aku memeluk Mama yang masih menangis. Aku cinta Mama. Aku sayang Mama. Seberapa terpuruknya aku, Mama akan selalu ada di sampingku.


Ketika aku sedang memeluk Mama. Aku mendengar ada seseorang yang mengetuk pintu rumahku.


“Assalamualaikum, Anha…”


Tubuhku meremang ketika mendengar suara dari si pengetuk pintu tersebut begitu sangat familiar di telingaku.


Itu suara Ikram!


Itu suara Ikram!


Kukira aku sedang berhalusinasi mendengar suara Ikram, tapi ternyata tidak, itu memang benar benar suara dari Ikram.


Ternyata bukan aku saja yang mendengar suara Ikram. Mama juga mendengarnya.


Aku hanya mampu terdiam sambil memegang cangkir teh yang tadi Mama buatkan untukku. Aku memegang erat cangkir yang berada di atas pangkuanku dengan begitu erat, mungkin karena efek panik yang saat ini sedang melanda diriku.


Tetapi untungnya saat ini aku masih berada di ruang keluarga. Bayangkan jika saat ini aku berada di ruang tamu, pasti Ikram akan otomatis tahu keberadaaanku mengingat tadi pintu rumah kami memang masih dibiarkan terbuka.


"Assalamualaikum," ulang Ikram sambil masih berusaha mengetuk pintu rumahku karena tidak ada jawaban dari dalam.


"Biar Mama aja yang tangani, kamu tetep diem di sini aja," kata Mama dengan agak memelankan suaranya sambil menggenggam erat tanganku sejenak sambil tersenyum teduh kepadaku.


Tatapan Mama begitu teduh, dari kedua bola matanya ia seolah mengatakan seperti ini kepadaku:


‘Biar Mama saja yang keluar. Mamamu ini akan terus menjadi tameng buat kamu dan Mama akan selalu menjaga kamu, Sayang. Karena kamu itu adalah putri kesayangan Mamamu ini.’


Mama, orang yang dulu terasa jauh bagiku. Mama, orang yang dulu kuanggap tidak pernah menyayangiku dan tidak pernah peduli akan diriku namun pada kenyataannya kini aku dapat melihatnya secara langsung jika sebenarnya di hidup Mama, di hati kecil Mama, di dunia Mama, hanya akulah priotitasnya.


Kasih sayang Ibu memang sepanjang masa, sedangkan kasih sayang anak hanyalah sepanjang galah. Aku percaya akan kata pepatah itu. Anak bisa menilai namun tidak bisa memahami orang tua mereka sama sekali, sedangkan sebaliknya, orangtua selalu memahami anak-anak mereka dengan baik dan benar.


Aku mengusap air Mataku.


Menata punggung Mama yang saat ini berjalan ke arah ruang tamu. Tangan Mama membuka korden pada kusen pintu yang menghubungkan ruang tamu dengan ruang keluarga.


"Iya. Ada apa, Nak Ikram?" kata Mama dengan nada ramah yang berhasil tertangkap oleh indra pendengaranku.


Sejujurnya aku sangat ingin berdiri, berdiri dari posisi dudukku, melangkahkan kakiku untuk mendekati korden bermotif bunga sakura yang menjadi pembatas antara ruang keluarga dan ruang tamu itu.


Kemudian aku juga sebenarnya memiliki hasrat sangat tinggi untuk berjalan ke arah ruang tamu dan tanganki pun juga sangat ingin menyibakkan sedikit saja sekali sisi pada korden tersebut untuk hanya untuk mengintip apa saja yang saat ini Mama dan Ikram katakan.


Rasa penasaran di hatiku begitu tinggi. Aku begitu penasaran dengan wajah suamiku yang tiga hari ini sudah tidak kulihat lagi.


Apakah saat ini wajahnya sedang menampilkan ekspresi sedih  karena kutinggalkan selama tiga hari ini?


Atau jangan jangan ekspresinya saat ini dia sedang menampilkan wajah puas sekali karena aku sudah pergi dari kehidupannya dan dia juga sudah begitu bahagia dengan selingkuhannya si Dewi itu makanya dia datang ke sini untuk menemuiku dan hanya untuk memberiku surat cerai lalu dia akan mengatakan jika saat ini adalah hubungan kami berdua telah selesai dan ini adalah terakhir kalinya pertemuan kami?


Aku memegangi dadaku. Masih ada sisa sisa rasa ngilu di hatiku.


"Buruan Ikram! Panas banget tau di sini! Ini rumah, kok, ya, nggak ada AC-nya, sama sekali, sih. Parah, deh. Kalau Mama, Mah, bisa mati kepanasan kalau tinggal di dalam rumah kecil, sumpek, jelek, dan nggak ada AC-nya kayak gini," celoteh seseorang dengan nada menghina.


Suaranya begitu terdengar tidak asing di telingaku.