
***
“Oh. Jadi ini calon kamu yang waktu itu kamu ceritain ke papa?”
Papa Hasan turun dan duduk di sofa yang berada di depan Anha dan Hasan. Mereka saling berhadap hadapan.
Anha menarik napasnya dalam dalam. Tidak apa, aku pasti bisa, kok, ngelaluin ini semua,’ batin Anha dalam hati mencoba menguatkan dirinya sendiri.
“Iya. Pa, dia Anha. Calon istri aku yang mau aku kenalin ke papa sama mama. Gimana menurut Papa dan Mama? Dia Cantik, kan?”
Hasan tersenyum senang, pipi Anha memerah dan hatinya terasa menghangat melihat Hasan seperti sangat bangga karena memilikinya.
Papa Hasan dengan Mamanya saling tatap satu dengan yang lainnya. Entah apa yang saat ini sedang mereka pikirkan. Anha pun tidak dapat menebaknya.
Setelah itu Papa Hasan menatap Anha dengan saksama. Anha menunduk karena malu dan takut.
“Cantik, kok.”
Hanya sesingkat itu respon dari Papa Hasan. Anha belum dapat menyimpulkan dengan benar apakah Papa Hasan menyukainya atau tidak.
“Kami di sini mau minta restu sama papa dan mama. Karena bulan depan aku bakalan nikah sama Anha.”
Mama dan Papanya langsung terkejut mendengarnya. Bagaimana bisa Hasan memutuskan untuk menikah secepat itu.
Mamanya menatap dalam diam, namun matanya menyorot tajam ke putranya.
“Kalian nggak hamil di luar nika--” agak ragu apakah Mamanya meneruskan ucapannya atau tidak.
Hasan terkekeh. Kenapa juga stigma di masyarakat beredar luas tentang konsep kalau nikah muda artinya hamil di luar nikah, kalau menikah secara dadakan artinya si wanita sudah hamil duluan. Kan, tidak semuanya seperti itu.
“Nggak, kok, Ma. Kami nggak mungkin kayak gitu. Alasan Hasan pengin cepet cepet nikah biar cepet sah aja. Gimana menurut Mama?”
Mamanya terdiam sejenak, matanya masih saling tatap dengan suaminya. Kemudian Mamanya berdehem dan memberikan jawaban atas restunya.
“Kalau Mama pribadi, sih, terserah kamunya mau kayak gimana. Kan, kamu yang ngejalanin. Mama ngikut aja.”
Sekarang tinggal meyakinkan papanya yang agak sulit menerima Anha.
“Papa sendiri gimana?” tanya Hasan kepada papanya tersebut. Tapi jawaban dari Papanya malahan hal lain berupa pertanyaan kepada Anha.
“Kamu kerjanya apa?”
Anha menelan ludah mendengar hal tersebut. Sesi tanya jawab mengenai bibit bebet bobot dimulai.
“Saya kerja di perusahaan telekomunikasi, Om.”
“Oh. Satu perusahaan bareng Hasan. Pantesan saling kenal.”
“I-iya.”
Hasan mengeratkan genggamannya pada jemari Anha agar Anha tidak gerogi. Senyuman hangat dari Hasan seolah memberitahunya, ‘tidak apa. Aku di sini bersamamu.’ Hal itu membuat Anha merasa agak tenang.
“Orang tua kamu kerjanya apa? Jelas saya pengin menantu yang baik buat anak saya.”
Dengan perasaan yang tidak karuan, jantung yang berdetak begitu cepatnya. Anha berusaha tersenyum dan setenang mungkin.
“Papa saya udah nggak ada sejak saya kecil. Mama kerja di bank swasta di kota ini.”
Papa Hasan hanya mengangguk anggukkan kepala. Tapi jujur, meskipun papa Hasan tidak terlihat galak. Tetapi pembawaannya lebih ke dingin dan tidak banyak omong. Hal itu semakin membuat Anha merasa kikuk.
“Om denger. Kamu sebelumnya udah pernah nikah, ya?”
Anha menggigit bibirnya bagian dalam. Dia tahu, pertanyaan pertanyaan tadi adalah openingnya saja. Pertayaan intinya adalah yang ini.
Belum sempat Anha menjawab pertanyaan tersebut. Papa Hasan sudah melanjutkan ucapannya kembali.
“Tapi maaf sebelumnya. Sejujurnya saya agak nggak setuju Hasan sama kamu kalau emang statusmu janda.”
Anha terdiam mendengarnya, seolah ucapan lantang tersebut adalah skak mat untuknya.
A-apa?