After Marriage

After Marriage
Tidak Jujur



"Selamat siang, Mas Ikram."


Sapa ramah pembantunya yang berusia kisaran empat puluhan itu. Ikram tersenyum ramah dan menjawab salamnya.


"Mama udah pulang, Bik?" tanya Ikram, dia mengajakku duduk di sofa panjang di ruang keluarga.


"Belum Mas, nyonya besar belum pulang, mungkin langsung ke ruman utama."


Ikram mengangguk dan menyuruh pembantunya mengambilkan minuman untuk kami berdua.


Ketika pembantunya sudah membawakan minuman dan berlalu ke arah pintu belakang, aku mulai menyenderkan kepalaku di bahu bidang Ikram, acara di rumah Mai sebenarnya cukup melelahkan juga. Ikram mengusap kepalaku dengan penuh kasih sayang.


"Kok, rumah kamu sepi banget, sih? Adek, Mama sama Papa kamu belum pulang, ya?" tanyaku. Ikram mengangguk.


"Tadi kamu bilang mau cerita."


Kini aku memeluk lengan kekar Ikram.


"Sebenernya ceritanya rumit, An."


"Aku siap dengerinnya, kok. Sampe sore juga boleh. Hehe."


Ikram tersenyum, kemudian mengecup bibirku sekilas, hanya kecupan kecil, tidak se-hot tadi ketika kami berciuman di rumahku.


"Um... Hubungan keluargaku cukup rumit, An. Mama sama Papa cerai. Mama punya dua anak sehingga kami sama-sama harus pisah. Adek ikut Papa, dan Aku ikut Mama. Aku dari dulu pengin deket sama adekku tapi selalu Mama larang. Adekku saat ini lagi kuliah di UNDIP. Namanya Kanaya, panggilannya Naya. Tapi sayangnya Mama benci banget sama Papa dan sama Naya."


Aku meringis mendengar penggalan cerita tersebut. Kemudian aku mengusap jemarinya yang bertaut erat dengan jemariku.


"Aku udah berusaha deket sama Naya, tapi Mama nggak ngebolehin dan seolah memblokade semua hal tentang Papa dan Naya dari aku. Mamaku benci banget sama Papaku... karena Papa ninggalin Mama..." ucapan Ikram kemudian berhenti sejenak untuk mengambil jeda.


"Karena cewek lain?" tanyaku mencoba menebak-nebak cerita.


"Bisa iya, bisa enggak. Masalahnya rumit, dan dulu aku sama Naya masih kecil jadi belum paham semuanya. Tapi lambat laun setelah aku dewasa, aku semakin ngerti, An. Mama aku itu orangnya keras, mereka pisah karena setiap hari selalu aja ribut. Di samping itu, keadaan finansial Mama juga lebih bagus dibanding keadaan finansial Papa. Papa cuma pegawai kantoran sedangkan Kakek dari Mama orang kaya, Mama tiap hari cekcok sama Papa. Mama maki-maki Papa dan merasa lebih superior daripada Papa. Akhirnya ego Papa terluka karena direndahin terus sama Mama. Terus waktu itu ada cewek lain di luar sana yang lebih menghargai Papa, akhirnya Papa mutusin hidup bareng sama cewek itu."


Mata Ikram meredup. Kemudian Ikram melanjutkan ucapannya kembali...


Aku memeluk Ikram, entah mengapa sepertinya dia butuh pelukan saat ini.


Tetapi terbesit pula rasa senang di hati kecilku. Aku pernah mendengar, jika seorang lelaki menceritakan tentang kelaurganya ataupun menceritakan masalah yang dia hadapi kepadamu, itu artinya dia memercayaimu dan menganggapmu sepesial. Aku merasa tersanjung karena itu.


"Jadi aku minta tolong, ya, sama kamu, An. Kalau seumpamanya nanti Mama nggak cocok sama kamu, kamu tolong sabar dan berusaha ngalah, ya. Soalnya Mama emang keras orangnya."


"Iya, Sayang," kataku sambil mengusap pipinya yang dihiasi jambang yang baru tumbuh. Dia tampan. Aku mecium sekilas bibirnya. Bibir yang tadinya bersedih itu kemudian membentuk garis lengkung senyuman.


Ikram bergerak merubah posisi duduknya, dia memiringkan tubuhnya kemudian menaikkan sebelah kakinya di sofa hingga kini posisinya berhadap-hadapan dengaku. Dia menatapku lamat-lamat.


"An, boleh nggak aku tanya satu hal?"


"Hmm. Boleh. Emang mau tanya apa?"


"Emm..."


Ikram menggantung ucapannya beberapa detik.


"Kamu masih perawan, kan, An?"


Tidak ada angin, tidak ada hujan, bagai tersambar petir di siang bolong. Aku kesusahan menelan salivaku ketika tiba-tiba Ikram menanyakan hal tersebut kepadaku. Aku menggigit bibir dalamku. Kenapa dia menayakan hal seperti itu kepadaku? Tidak mungkin, kan, Ikram tahu jika aku sudah tidak perawan lagi padahal kami belum pernah tidur bersama? Atau jangan-jangan tanpa sepengetahuanku Lidya datang menemui Ikram kemudian mengatakan tentang pergaulan bebasku di masa lalu kepadanya? Atau jangan-jangan Ikram bertemu dengan orang-orang di masa laluku dan akhirnya mengetahui hal tersebut dari orang di masa laluku?


Kepalaku mulai pusing menebak-nebak kenapa Ikram bisa bertanya kepadaku tentang hal tersebut. Sekarang ini otakku penuh dengan dugaan-dugaan apa yang membuat Ikram menanyaiku seperti itu.


"Kenapa kamu nanyak kayak gitu?" tanyaku mencoba mengalihkan pembicaraan ini. Aku menampilkan ekspresi senormal mungkin supaya dia tidak curiga terhadapku.


"Ya, nggak papa, sih. Nggak ada salahnya, kan, nanyain itu ke calon istriku?" kata Ikram dengan santai sambil mengambil biskuit rasa kelapa dari dalam toples yang tadi disajikan oleh pembantunya.


"Emang kenapa kalau seumpamanya calon istrimu ternyata nggak perawan?" tanyaku lagi. Aku merasakan jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya ketika menanyakan hal tersebut kepada Ikram.


"Ya, nggak papa, sih. Kan, nggak ada salahnya kalau aku tanya kayak gitu. Aku cuma pengin aja punya istri yang cantik, baik, dan... ya, masih perawan. Toh, selama ini aku juga nggak pernah macem-macem sama cewek lain dan selalu jaga diriku buat calon istriku kelak. Dan tentunya aku bukan sekadar nyari istri buat aku aja, tapi nyari ibu yang baik buat anak-anakku kelak."


Rasanya seperti tubuhku dijungkir balikkan sehingga semua isi perutku keluar. Semoga Ikram tidak menangkap gelagat aneh pada diriku. Berbeda dengan diriku yang saat ini sedang gugup, Ikram saat ini hanya tersenyum dan mengusap pipiku dengan ibu jarinya. Tatapan matanya penuh damba kepada diriku. Tangan kananku terulur memegang tangannya yang sedang mengusap pipiku itu, aku memejamkan mata menikmati sensasi hangat penuh kasih sayang yang ia berikan kepadaku. Ya, Tuhan. Aku mencintai lelaki ini. Sangat mencintainya. Aku tidak mau kehilangan lelaki di depanku ini.