After Marriage

After Marriage
Angga



Hamkan merogoh ponselnya yang berada di saku celana jeans-nya.


Ia hendak menanyakan kepada Mamanya mau dibelikan apa lagi mumpung Hamkan masih berada di Mall ini.


Hamkan menepi sejenak di pinggiran pembatas kaca pada lantai dua dan menjepit ponselnya di antara pundak dan telinganya karena tangannya sibuk membaca daftar belanjaan dari Mamanya yang tadi dititipkan kepadanya.


“Halo, Ma. Hamkan masih ada di Mall, nih. Mama mau titip apa lagi?”


“Nggak ada, sih. Itu, doang. Gimana kado buat adek udah kamu beli?”


“Udah, Ma.”


Hamkan terdiam sejenak teringat akan suatu hal. Ia menimbang-nimbang apakah dia akan mengatakan jika dia bertemu dengan Anha di mall ini atau tidak, ya.


Tapi…


Ya, sudahlah…


“Ma, tadi Hamkan ketemu sama Anha di sini.”


Kini Hamkan memegang gawainya menggunakan tangan kanannya setelah memasukkan secarik kertas daftar belanjaan mamanya tadi ke dalam tote bag yang berisi kado untuk adiknya.


Mendengar hal tersebut langsung hebohlah Mamanya yang berada di seberang sana.


“Lho. Iya, kah?! Kok, kamu nggak bilang-bilag, sih, sama Mama. Gimana? Gimana ceritanya, kok, kalian berdua bisa ketemu di sana?!”


Ya ampun. Rasanya Hamkan menyesal telah mengatakannya kepada Mama tapi sudah terlanjur juga mau bagaimana lagi.


“Ya, tadi cuma ketemu, doang, kok, Ma. Dia lagi jalan sama tunangannya terus ngasih Hamkan kartu undangan buat Hamkan sama Mama.”


Terdengar helaan suara kecewa dari seberang sana.


“Kamu, sih, nggak gercep banget jadi orang. Coba kalau sejak makan malam itu kamu datang terus PDKT sama Anha. Kan, bisa jadi Anha naksirnya sama kamu duluan. Kamu itu bikin Mamamu ini sebel aja. Diambil orang, kan, jadinya si Anha itu. Bla bla bla—”


Hamkan meringis dan menjauhkan ponselnya sejenak dari telinganya karena tanpa di loudspeaker pun suara mamanya sudah menggelegar pada gendang telinganya.


Setelah dirasa Mamanya sudah cukup puas menerocosi dirinya. Hamkan barulah menempelkan kembali benda pipih itu pada telinga kanannya.


“Terus sekarang Anhanya lagi di mana, Ham?” tanya Mamanya lagi.


Hamkan menggaruk ujung hidungnya. Sebenarnya Hamkan merasa agak sebal juga, sih, kepada Mamanya itu. Lagi pula kenapa juga Mamanya selalu heboh sendiri jika membahas soal wanita itu? Padahal, kan, yang anaknya itu dirinya. Misteri yang sampai sekarang belum dapat Hamkan pecahkan adalah kenapa mamanya itu bisa sangat sayang sekali dengan Anha.


“Hamkan! Halo, masih kesambung, kan?” kata Mamanya menaikkan nada bicaranya karena Hamkan tidak menjawab perkataannya padahal ia sibuk melamun.


“Eh, gimana, Ma?” ulang Hamkan setelah pulih dari kesadarannya.


Mamanya mendengus kesal.


Hamkan menatap horror ke ponselnya tersebut. Astaga, sejak kapan Mamanya itu sampai tahu bahasa gaul PAP segala.


“Ya, mana Hamkan tahu, Ma,” jawab Hamkan sekenanya.


“Kamu cari, gih, Anhanya. Beliin dia tas atau sepatu yang mahal gitu sebagai ucapan terimakasih karena kemarin udah mau ngerawat Mama waktu Mama sakit. Eh, jangan sepatu, deh. Kan, kamu nggak tahu berapa ukuran kakinya. Kasih aja dia tas atau baju yang bagus. Kalau nggak ketemu sama dia nanti kamu anterin ke rumahnya, ya, Nak.”


“Tap—” belum sempat Hamkan berkata, mamanya sudah mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.


Hamkan mengemsukan napas lelah.


Ya, sudahlah. Lagi pula Hamkan akan selalu menuruti keinginan mama tercintanya itu meskipun terkadang aneh-aneh atau keterlaluan sekalipun karena memang dari dulu Hamkan sangat sayang dengan Mamanya.


***


“Aku mau makan di sana,” kata Anha sambil bergelayut manja di lengan Hasan.


Tangan Anha menujuk salah satu tempat makan bernuansa Jepang yang sepertinya menjual makanan yang enak.


Hasan menurut saja keinginan kekasihnya itu. Mereka memilih tempat duduk yang dekat dengan tembok agar jauh dari keramaian dan bisa bermesraan dengan leluasa.


Belum sempat Anha mendaratkan bokongnya di kursi.


Seseorang yang tanpa di undang kehadirannya sama sekali kini menghampirinya membuat Anha terkejut.


“Hai, An. Nggak nyangka, ya, kita bisa ketemu di sini,” kata lelaki tersebut sambil menyunggingkan senyuman—tetapi Anha sendiri tidak.


Kenapa orang itu bisa ada di sini!


Mata Anha terbelalak, napasnya berhenti sejenak, bahkan mungkin saat ini wajahnya pucat pasi seperti melihat hantu saja.


Bibirnya gemetar.


“A-Angga.”


***


INFO PENTING!


Karena cerita Anha sudah hampir tembus 300bab, maka dari itu Anha aku pecah jadi 2 buku ya biar nggak kepanjangan banget.


Sudah ada lanjutannya kok di N T sampai TAMAT. Cek aja profilku terus pilih cerita yang judulnya DICERAIKAN DI MALAM PERTAMA.


Bagi kalian yang pengen baca ceritaku yang lain bisa follow (i n s t a g r a m)-ku Mayangsu. Di sana aku lebih aktif balesin komen dan posting spoiler/post visual.


Aku juga ada akun TIK T0K (Mayangsu). F B juga namanya mayangsu tapi di sana aku nggak terlalu aktif hehe.