
***
“Terus kalau kamu nggak terima, kamu mau apa? Mau cerai, gitu?”
Mendengar hal tersebut Dewi hanya mampu terdiam—dan hanya mampu menangis saja. Dewi memegangi lengan kirinya dan semakin menundukkan kepalanya, tenggelam dalam tangisan.
Dia tidak ingin diceraikan oleh Ikram.
“Kok, kamu giniin aku, sih, Mas.”
Ikram mengembuskan napas lelah.
Mau bagaimana lagi? Cinta bukanlah sesuatu yang dapat kita kendalikan.
“Terus aku harus gimana? Emangnya kamu bisa ngasih anak buat aku? Nggak, kan? Kamu nggak aku cerein aja udah bersyukur banget, kok,” kata Ikram begitu menyayat hati.
Dewi menangis dan tubuhnya merosot ke bawah. Sedangkan Ikram lebih memilih untuk keluar dari ruangan ini karena merasa sangat lelah sekali.
Memang begitulah kenyataannya. Dewi mandul, ia tidak dapat memiliki anak.
Tapi dia juga tidak ingin diceraikan oleh Ikram, padahal Mama Erin saja sudah menyuruh Ikram untuk menyeraikannya dan menyuruh Ikram untuk mencari istri baru saja karena Dewi tidak bisa menghasilkan anak dan tidak berguna sama sekali di mata Mama Erin dan Ikram.
Alasan Ikram belum menceraikan Dewi karena dia kasihan kepada wanita itu, apalagi dulu Dewi pernah sampai menangis dan memohon mohon kepadanya agar tidak diceraikan.
Dewi menenggelamkan wajahnya yang basah oleh air mata di sela sela lututnya yang dipeluknya dengan erat.
Maka benar ucapan Ikram tadi, Dewi tidak diceraikan saja sebenarnya alangkah bersyukur sekali.
‘Nggak papa, Dewi. Nggak papa,’ kata Dewi dalam hati mencoba menguatkan dirinya sendiri.
‘Mending hidup kayak gini. Seenggaknya kamu masih berkecukupan dan nggak hidup susah. Seenggaknya kamu masih bisa ngasih uang dan kebahagiaan buat orang tua kamu.’
Dan keputusan Dewi adalah tetap bertahan, mencoba tegar memilih untuk berada di rumah mewah ini yang padahal rasanya tidak jauh berbeda seperti di neraka.
Mendengarkan makian mertuanya, melihat suaminya mencintai wanita lain.
Tapi…
Meskipun dia tidak mendapatkan cinta dari suaminya. Meskipun suaminya sangat mencintai wanita lain selain dirinya.
Demi hidup enak, dia sanggup.
***
Ketika Ikram sudah sampai di lantai bawah, dia merogoh ponselnya yang berada di saku celananya. Ikram mencoba untuk menghubungi Frans.
Tidak perlu menunggu lama, Frans dari seberang sana buru buru mengangkat panggilan dari sumber uangnya tersebut.
“Ya, boss. Gimana?”
Tapi untung saja Frans pandai dalam mencari informasi.
“Frans. Kayaknya rencana kita yang terakhir itu harus kita lakuin.”
Frans cukup terkejut mendengarkannya. Benarkah apa yang bossnya itu katakana? Tetapi Frans tetap menurut saja dengan perkataan bossnya itu.
Frans masih bingung. Bahkan seorang pria kaya seperti bossnya itu sampai terobsesi dan bertindak gila hendak menghancurkan hubungan dan pernikahan mantannya itu.
Frans saja sebagai manusia tidak akan tega melakukan hal tersebut kepada mantannya.
“Yakin, Boss? Nggak mau mikir ulang lagi?” tanya Frans untuk meyakinkan perasaan bossnya itu. Siapa tahu omongannya kali ini terucap karena bossnya sedang emosional dan sakit hati semata lantaran ditinggal mantannya menikah.
Terdengar helaan napas berat dari seberang sana.
“Iya. Gue serius. Kita lakuin ‘rencana terakhir itu’. Apapun caranya, gue harus ngedapetin Anha lagi.”
“Yaudah. Kalau boss setuju. Kita atur aja sesuai rencana. Tapi gue nggak ikut ikutan, resikonya boss yang nanggung pokoknya.”
Ikram mengangguk.
“Kapan ‘hal itu’ bisa dilakuin? Lo serius, kan, bisa ngatur itu semua?” tanya Ikram meyakinkan partenernya itu.
“Bisa, sih, bisa. Cuma, ya, butuh beberapa hari aja sampai semuanya siap.”
“Berapa hari yang lo butuhin buat nyelesein itu semua?” tanya Ikram membutuhkan sebuah kepastian mengingat hari pernikahan Anha saja tinggal menghitung hari.
Jika rencana mereka melewati hari pernikahan Anha. Maka akan sangat sulit lagi bagi Ikram untuk memisahkan mereka berdua nantinya.
“Ya, nggak tahu, lah, Boss. Mungkin tiga minggu lagi. Itupun kalau lancar.”
Ikram berdecak kesal, kenapa tidak bisa dipercepat saja, sih. Tiga minggu itu terlalu lama! Kenapa pula tidak sekarang saja.
“Mana bisa selama itu! Gue nggak peduli. Lo gue bayar buat kerja. Pokoknya bisa nggak bisa percepat rencana itu.”
Ikram memutuskan panggilan teleponnya secara sepihak.
Frans menepuk dahinya karena bossnya itu tidak mau dibantah dan seenak hati menyuruhnya ini itu.
Tetapi demi uang, maka tidak apalah.
***
Ikram menatap layar ponselnya yang mati. Dia meremas ponsel mahalnya itu.
‘Anha. Pokoknya aku bakalan ngelakuin segala cara biar kita bisa barengan lagi,’ kata Ikram dalam hati diakhiri dengan embusan napas berat.