After Marriage

After Marriage
Badai Terlalu Dini



"Kita cerai aja. An."


Tubuhku lemas seketika, lututku tak mampu lagi menyangga badanku. Tubuhku merosot ke bawah dan aku menangis terisak membenamkan wajahku di antara kedua kakiku. Dadaku seolah sesak, bahkan aku kesulitan mengatur napasku. Air mataku rasanya sudah tidak dapat kuhentikan lagi.


Bukan akhir seperti ini yang kuharapka, seharusnya di malam pertamaku ini, aku dan suamiku bahagia seperti pasangan pengantin lainnya di luar sana. Aku berdiri kemudian mengetuk pintu kamar mandi berharap Ikram membukakan pintu untukku. Namun nihil, dia sudah kecewa denganku, padahal aku berpikir aku akan baik-baik saja jika aku berbohong mengenai diriku yang sudah tidak perawan. Aku berpikir jika aku berbohong tetap saja pada akhirnya Ikram mau menerimaku.


Aku berjalan pelan ke ranjang dan membaringkan tubuhku di sana, aku menarik selimut untuk menutupi tubuhku. Tatanan mawar merah yang tadi sangat indah kini rusak tidak berbentuk.


Seperti nasib pernikahanku saat ini.


Entah berapa jam aku menangis terisak sambil menutupi wajahku dengan guling, sampai pada akhirnya aku terjatuh tidur.


***


Pagi harinya aku mengerjapkan mataku, padangan di sekelilingku terlihat agam buram—mungkin karena efek menangis semalaman membuat mataku sedikit sembab.


Ketika aku tahu bahwa diriku terbangun tanpa suamiku di sampingku membuat hatiku terasa terisis. Buru-buru aku bangun dan berjalan ke arah kamar mandi.


Aku menelan ludah ketika menarik ke bawah gagang pintu kamar mandi yang sekarang tidak dikunci, dan ketika aku melihat ke arah dalam. Ikram sudah tidak ada lagi di sana.


Aku menggulung rambutku dan memilih untuk mandi. Ketika di bawah guyuran shower, tiba-tiba air mataku turun lagi, tetapi air mata tersebut hilang terbawa air. Aku mengusap wajahku, kenapa semuanya menjadi seperti ini. Aku masih ingat bagaimana Ikram menolongku di malam itu, aku masih ingat bagaimana dia menatapku dengan penuh cinta, bagaimana wajahnya tersenyum. Aku masih ingat ketika dia mencium keningku lembut dengan cukup lama, aku bahkan masih mengingat ketika dia menggendongku menaiki anak tangga. Tetapi tadi malam tatapan itu berubah menjadi tatapan penuh kekecewaan.


Tubuhku terjatuh di bawah guyuran air shower dengan tangis isakan.


Setelah selesai mandi aku mengeringkan tubuhku dengan handuk, berjalan lemas keluar dari kamar mandi, kemudian memilih baju berwarna abu-abu dari lemari pakaian—entah refleks atau apa, kenapa warna baju ini bisa persis seperti suasana hatiku saat ini.


"Enak, ya! Berasa kayak tuan putri sekarang dia! Jadi menantu itu jangan pemales! Masa jam segini baru bangun, yang bener aja!" kata Mama Erin sangat ketus, bahkan tanganku yang sedang mengambil nasi terasa gemetar mendengarnya. Aku menatap suamiku yang berada di sebelahku. Berharap dia akan membelaku seperti yang dulu pernah ia lakukan ketika mertuaku berkata menyakitkan terhadapku, tapi nyatanya nihil, Ikram hanya diam saja sambil menatap makannya yang tinggal seperempat di piring.


"Kok, nggak ada bagus-bagusnya sama sekali, sih, jadi mantu. Heran, deh, kenapa si Ikram bisa cinta mati sama gadis kampungan kayak gitu."


Meskipun perktaan dari Mama Erin tadi pelan, tetapi kupingku dapat menangkap apa yang diucapkannya dengan jelas, dan itu sungguh menyakiti hatiku. Kini nafsu makanku seolah menguap, aku hanya mengaduk-aduk makananku setelah satu suapan nasih masuk ke dalam tenggorokanku. Perutku sudah terasa kenyang akan makian Ibu Mertuaku sendiri di pagi hari. Mama Erin berdiri dan melangkah angkuh meninggalakan kami berdua. Di saat itulah aku baru bisa mengembuskan napas berat yang tadi kutahan.


Ikram meletakkan sendoknya karena ia telah selesai makan, aku hrus melakukan sesuatu! aku harus berbicara dengan Ikram saat ini juga!


Kemudian setelah Ikram melangkah pergi dan hendak naik ke atas tangga aku otomatis langsung mencegahnya, memegangi tangannya dan mengatakan,


"Mas, tunggu dulu. Kita harus ngomong,"


Tetapi respons yang kudapat tidak seperti yang kuharapkan, Ikram mengempaskan lengannya yang kupegang membuatku terdiam.


Ikram menaiki anak tangga, dan aku hanya menatap punggungnya dari bawah.


Aku menarik rambutku ke belakang. Tubuhku merosot ke bawah dan kini aku duduk di anak tangga dan menyandarkan kepalaku di sisi tangga. Dulu aku bisa berkata jumawa karena hubungan kami terasa Adem Ayem tanpa masalah. Tetapi sekarang tidak. Semuanya sudah hancur.


Pernikahanku hancur.


Dan itu semua salahku.


***