
Aku mengemasi barang barangku ke dalam tote bagku. Kemudian setelah semua barangku sudah kumasukkan. Aku berjalah dengan gontai keluar dari toko ini.
Sekarang, apa yang harus aku katakan kepada Mama nanti di rumah?
Pasti Mama akan marah besar kepadaku karena hampir sebulan bekerja aku tidak meghasilkan gaji sama sekali seperti ini.
Aku mendang kerikil yang tidak bersalah sama sekali di dekat kakiku sebagai bentuk pelampiasan akan kekesalanku.
Aku dipecat... Kerja kerasku hampir satu bulan tidak menghasikan upah sama sekali. Dan saat ini aku pulang seperti gelandangan padahal tadi di dalam ruangannya Pak Erwin aku bertingkah seolah aku ini seperti seorang superhero saja.
"Hei. Kamu nggak papa?" kata seseorang memanggilku dari arah belakang. Aku menengok ke arah sumber suara dan kini aku menatap lelaki tersebut dengan saksama.
Oh. Ternyata orang yang tadi berada di ruangannya Pak Erwin. Rekan binisnya Pak Erwin kalau tidak salah. Mau apa dia si sini? Apakah hati Pak Erwin tiba tiba melunak dan menyuruh lelaki ini untuk membujuk diriku dan Tyas untuk kembali bekerja lagi di sana?
Aku memutarkan biola mataku. Tentu saja itu tidak mungkin sama sekali terjadi.
Lalu untuk apa lelaki ini mengejarku?
"Ada apa, ya?" tanyaku dengan cuek sambil memegangi tali tasku.
Aku sedang dalam keadaan mood yang tidak baik. Apalagi hanya untuk sekadar berbasa basi dengan pria ini.
"Kalau nggak ada yang penting. Saya duluan. Saya sibuk dan capek," kataku kepada lelaki di depanku ini karena dia malahan hanya diam saja membuatku bertambah kesal saja.
"Um... Saya anterin kamu pulang, ya? Rumah kamu di mana? Kasihan kamunya kalau pulang sendirian. Niat saya cuma itu, kok."
Dia tersenyum kepadaku. Aku mengamatinya dengan saksama dari atas sampai ke bawah dengan tatapan penuh menyelidik.
Sejujurnya lelaki ini oke juga. Malahan cukup tampan, sih, menurutku. Perawakannya dewasa, aku tidak tahu berapa parkiraan umurnya. Mungkin dia berumur kisaran tiga puluhan ke atas.
Rahangnya dihiasi jambang yang sangat menggoda membut lelaki ini terlihat panas.
Aku memalingkan muka ketika merasakan pipiku menghangat seketika, dia tampan sekali. Aku yakin wajahku saat ini sedang memerah.
"Rumah kamu di mana?" tanyanya kembali kepadaku.
"Um... Di-di daerah deket Indrapasta," kataku dengan terbata--mungkin karena efek aku sedang gerogi sehingga ucapanku terputus seperti tadi.
Dia teseyum lembut ketika melihatku yang tampak salah tingkah seperti ini.
"Aku anterin, ya?"
Lelaki yang belum aku ketahui namanya itu malahan menggenggam perngelangan tanganku tanpa permisi.
Aku yang merasa kurang nyaman mencoba menarik kembali tanganku dari genggamannya.
"Ah, nggak usah, aku bisa pulang sendiri, kok," kataku mencoba melepaskan tanganya.
"Kenapa? Kamu nggak mau pulang barengan sama aku?" tanyanya terhadapku.
Aku menggelengkan kepala. Bukan seperti itu maksudku. Duh, kenapa dia tidak mau melepaskan tanganku, sama sekali, sih.
"Woi, Om Om mesum! Lepasin tangan Tante itu, nggak! Mau kuhajar, Heh?!"
Mataku membulat sempurna ketika mendengar suara yang sangat familier di telingaku itu.
Aku tahu dengan bentul kalau suara tersebut adalah suara dari...
Sean!
Dan benar saja. Ketika aku menengok ke arah belakang, bocah itu sedang berjalan mendakatiku dengan wajah yang ditekuk tekuk karena tidak suka melihat tanganku dipegang oleh orang lain.
Aku menalan ludah. Tidak tidak. Spertinya akan ada masalah lain yang akan terjadi saat ini.
"Lepasin, nggak. Atau mau aku patahin tangan Om, Hah?!" kata Sean dengan begitu garangnya. Dia tidak takut sama sekali dengan lelaki di depanku ini padahal usia lelaki tersebut lebih tua daripada dirinya.
"Kalau aku nggak mau gimana?" kata lelaki dengan setelan jas biru tua tersebut seolah menantang dan masih saja memegang lenganku ini.
Aku dan Sean mengerutkan kening bersaman.
Ya tuhan! Sekarang apa lagi!
"Oh, jadi Om lebih milih berantem gitu?! Oke! Ayo maju!" tantang Sean dengan kesal sambil menggelung lengan seragamnya.
Aku memutar mataku ke atas. Lelah. Ya Tuhan. Anak muda zaman sekarang memang sangat berapi api sekali, sih.
Uh, dia ini ternyata sama saja! Sudah tua tapi masih saja mau meladeni anak kecil!
Aku mencoba menarik tanganku tapi dia masih memeganginya dengan begitu kuat.
"Dasar kau Om Om mesum!"
Sean mulai menunjuk lelaki tersebut dengan jari telunjuknya.
Aku menatap ke arah atas.
Ya Tuhan! Sepertinya drama cinta segitiga akan segera di mulai.
***
"Lepasin nggak? Pasti Om ini Om Om mesum yang mau merkosa Tante ini, kan? Mau dihajar, Hah?!" kata Sean dengan penuh emosi.
Aku menepuk dahiku sendiri. Kenapa situasinya malahan menjadi semakin rumit seperti ini? Sedangkan lelaki di depanku ini masih saja tidak mau melepaskan tanganku sama sekali.
Bahkan dia hanya terseyum kecil seolah puas melihat Sean semakin bertambah emosi.
Aku mencoba melepaskan jari jemarinya yang masih saja melingkar di pergelangan tanganku ini.
"Kalau kamu nggak mau kita berantem dan nggak mau kalau ada korban jiwa yang mau nggak mau lari ke rumah sakit karena bonyok. Lebih baik kamu terima aja tawaranku buat nganterin kamu pulang," katanya sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku sehingga kini jarak kami hanya terpisah beberapa senti saja.
Lelaki tampan ini tersenyum. Namun aku bisa membayangkan saat ini wajah Sean pasti sedang marah bukan main melihat tingkah agresif lelaki yang tidak aku kenal di depanku ini.
"Lepasin! Aku aja nggak kenal sama kamu ngapain juga aku harus pulang sama kamu! Gimana kalau kamu ini ternyata penculik organ dalam manusia. Lepasin aku atau aku bakalan teriak maling!" ancamku kepadanya sambil melotot.
Namun sebelum aku berteriak dia sudah melepaskan tanganku dan tersenyum manis sekali.
Aku mengusap pergelangan tanganku yang agak memerah sedikit.
"Tante nggak kenaapa napa, kan? Ada yang luka? Apa perlu kita ke rumah sakit buat periksa? Gimana kalau sekalian visum terus lapor ke polisi atas tuduhan khasus penganiayaan oleh orang yang tidak dikenal," kata Sean yang tiba tiba meghampiriku dan memegang tanganku untuk melihat pergelangan tanganku.
Aku memutar bola mataku ke atas. Dia ini lebay sekali. Aku kan tidak kenapa kenapa. Lagian kenapa juga mereka berdua berlebihan.
"Awas, ya, kalau Tante Anha kenapa napa! Gue nggak bakalan maafin elu dan bakalan hajar elu sampai mampus!"
Aku dan 'lelaki yang tidak kuketahui namanya itu' pun hanya mampu mememlototkan mata dan tidak percaya dengan apa yang baru saja Sean katakan.
Kekagetanku sangat wajar, karena...
Satu, aku belum sebegitu dekat dengan Sean, bahkan ini terbilang tiga kali pertemuan kami namun Sean sudah tahu namaku.
Aku memejamkan mata sejenak. Tentu saja dia tahu! Pasti tadi pagi Tyas, lah, yang memberitahunya. Dan alasan ke dua aku tidak percaya Sean seberani itu dengan orang yang usianya berada jauh di atasnya.
"Aku nggak papa, kok, Sean. Udah aku mau pulang," kataku mencoba menghindari Sean dan menghindari lelaki itu juga.
"Aku anter pulang, ya, Tante. Aku takutnya Tante kenapa-napa," kata Sean masih saja memaksakan diri untuk mengantarkanku pulang.
Namun aku menolak hal tersebut. Aku bisa pulang sendiri tanpa harus diantar antar oleh siapa pun!
"Jadi selera kamu bocah?" kata lelaki yang menggunakan jas berwarna biru tua tersebut asal menyeletuk, memancing kembali amarah Sean seketika.
"Bocah bocah! Siapa yang bocah! Dasar om om mata keranjang!"
Lelaki tersebut malahan tertawa melihat respons Sean yang marah marah tidak jelas.
"Anak kecil itu harusnya belajar yang bener. Bukannya malahan godain cewek yang sepantaran sama Tantenya ataupun kakak sepupunya," pancing si lelaki tersebut dengan wajah sangat santai sekali.
Wajar saja Sean marah. Lelaki tersebut memang pembawaanya kalem. Tetapi tak ayal memang wajahnya itu mengesalkan sekali.
"Emang harus dihajar ini orang," Sean bergerak hampir saja hendak melayangkan pukulan kepada lelaki tersebut namun berhasil kutahan.
Ya Tuhan! Mereka berdua ini apa tidak malu bertengkar di pinggir jalan seperti ini sedangkan mereka berdua sedang dilihati oleh banyak orang yang lewat!
Kekanakan sekali!
"Udah, Sean. Jagan berantem. Malu dilihatin banyak orang tau!" kataku sambil masih menahan tangan kanan Sean agar tidak terlepas.
Lelaki itu malahan tidak gentar dan malahan menyeringai dengan begitu bahagianya mlihat Sean yang sudah emosi bukan kepalang.
"Ayo sini pukul. Mau kelihatan sok jagoan di depan cewek cantik, ya?" katanya sambil menyeringai bahagia.