
Mama Erin terlihat diam mematung di tempatnya. Ikram berjalan melewati Mamanya tanpa mengucapkan sepatah kata pun kemudian masuk ke dalam mobil dan menyalakannya.
Aku tidak berani berkata apapun karena pasti suasana hatinya saat ini sedang kacau. Mungkin dia sedang butuh waktu untuk sendirian dulu sampai suasana hatinya membaik lagi.
Selama perjalanan dia diam saja. Tetapi keningku mengeryit ketika dia berbelok mengambil arah jalan yang lain.
"Um... kita mau kemana?" tanyaku dengan hati-hati.
Ikram tidak menjawab perkataanku. Mulutku membulat menatap takjub ketika dia memasuki halaman parkiran di salah satu Villa mewah daerah atas.
Kenapa dia datang ke villa ini?
"Yuk, turun," kata Ikram ketika sudah membukakan pintu mobilnya untukku dan mengulukan tanganku. Aku tersenyum dan memegang uluran tangannya tersebut. Rasanya seperti Cinderella yang baru saja turun dari kereta kuda kemudian si pangeran mengulurkan tangannya utuk digenggam erat.
"Thank you," kataku dengan wajah tersipu. Ikram mengangguk dan tersenyum. Untunglah suasana hatinya sudah mencair.
Ikram memeluk pinggangku selama berjalan memasuki halaman villa ini.
Ya, Tuhan! Pemandangan di sini begitu bagus dan sangat asri. Udaranya juga masih sejuk padahal ini sudah pukul sembilan pagi.
Di halaman ini penuh bunga mawar, bunga kamboja berwarna pink setinggi lutut yang berjajar rapi di pinggiran pagar.
"Kenapa kita ke sini, Mas?" tanyaku yang masih heran.
"Kabur," kata Ikram sambil tersenyum. "Males kalau seumpama ketemu Mama di rumah," lanjutnya kembali.
Ah, aku sekarang paham. Mungkin Ikram mau menghindari Mama Erin sampai beberapa waktu ke depan sampai suasana hatinya kembali membaik.
"Tapi tadi kamu ninggalin Mama di parkiran, loh, Mas!" teriakku dengan refleks sambil menutup mulutku setelah itu. Aduh, bahkan kami lupa kalau kami, kan, tadi pagi berangkat bersama. Aku-Mama Erin-dan Ikram. Bagaimana nasib Mak Lampir itu?
Ikram tersenyum kemudian mengacak rambutku dengan gemas sekali.
"Nggak papa, lah. Lagian Mama bisa nelpon supir pribadinya, kok."
Aku mengembuskan napas lega. Kasihan juga kalau Nenek Lampir itu tidak bisa pulang dari rumah sakit Hermina. Bagaimanapun juga aku masih punya hati, tau!
Ketika kami sampai di halaman depan villa. Tampak Ibu-ibu yang sudah paruh baya sedang memegang sapu membungkuk untuk memberi salam ketika mengetahui kedatangan kami.
"Selamat pagi, Pak Ikram."
Ikram tersenyum ramah dan membalas senyumnya.
"Pak Ikram akhir-akhir ini sering datang ke sini, ya. Untung saya selalu ngebersihin ruang utama," kata Ibu-ibu tersebut. Ikram hanya diam saja sambil tersenyum tipis kemudian melangkah untuk masuk ke dalam dan masih dengan posisi merangkul pinggangku.
Aku mengernyit, apa maksudnya tadi?
Ikram sering datang ke villa ini? Kenapa dia tidak pernah cerita kepadaku?
"Kayaknya Mbok nggak masak, deh. Mungkin karena aku datang dadakan. Kamu udah lapar atau belum? Atau kita makan di luar aja? Dari tadi kamu belum sarapan, Sayang," kata Ikram penuh perhatian kepadaku ketika melihat meja makan yang kosong.
Aku menggeleng, fokusku bukan ke perihal itu.
"Apa maksudnya kamu sering ke sini? Kamu sering nyewa villa ini?" tanyaku.
"Aku nggak nyewa, ini punyaku."
Aku meringis mendengarnya. Dasar orang kaya!
Aku menggelengkan kepalaku karena arah pembicaraan kami yang tidak sinkron ini. Aku bertanya apa Ikram menjawab apa. Benar-benar menjengkelkan!
"Nggak sering, kok. Cuma beberapa kali kalau pulang dari perjalanan bisnis, doang. Villa ini deket sama bandara makanya aku milih tidur di sini sebelum pulang ke rumah karena kecapaian banget dan ngerasa jet lag. Terus biasanya besoknya aku baru pulang ke rumah," kata Ikram sambil menyentuh daguku dan menaikkannya sehingga kini tatapanku mendongak menatap mata cokelatnya.
"Lagian Mbok Sami juga udah sepuh, ingatannya juga udah nggak terlalu bagus. Kenapa kamu nanya kayak gitu? Aku tersinggung, loh," lanjutnya lagi. Aku mencoba menatap mata Ikram lamat-lamat mencari kebenaran dari ucapannya barusan di kedua netra cokelat favoritku itu.
Ikram tersenyum kemudian mencium lembut bibirku. Aku memejamkan mata sejenak. Setelan itu ciumannya pada bibirku ia sudahi dan Ikram menggandeng tanganku untuk melangkah ke lantai dua.
Aku tersenyum, kemudian menggelengkan kepalaku. Mungkin akunya yang salah paham. Tidak mungkin juga Ikram melakukan hal macam-macam di belakangku. Aku segera menepis pikiran negatif yang sempat terbesit di benakku meskipun sesaat.
Dia pria yang baik, pria yang manis, aku tidak sepatutnya berpikiran negatif kepada suamiku sendiri. Lagian benar kata Ikram, Ibu-ibu tadi memang sudah terlihat sepuh. Bisa saja dia salah ingat.
Ikram mengajakku untuk menaiki anak tangga yang menghubungkan ke kamar utama di lantai dua. Dengan tiba-tiba Ikram menggendongku ala pengantin baru membuatku memekik kecil karena kaget.
Aku memukul bahunya karena kaget, pipiku memerah karena malu. Aku mengalungkan tanganku pada leher belakangnya. Pipiku memerah dan dia fokus menatap wajahku yang memalu.
Dia menendang pintu membuatku sedikit tertawa.
Tanpa aku sadari Ikram membanting tubuhku di ranjang.
"Aduuh!" pekikku, untung saja ranjang ini sangat empuk. Jika tidak bisa remuk badanku! Aku mengeratkan gigiku hendak memarahinya namun urung ketika melihatnya sedang tersenyum miring dan mulai melepaskan kancing kemeja putihnya satu per satu dari yang paling atas.
Aku menelan ludahku, mataku membulat penuh.
A-apa yang sedang dia lakukan?
Kini Ikram sudah melepaskan kemejanya dan telanjang dada. Astaga! Perut seksinya itu! Jantungku semakin bedegub lebih kencang ketika dia melepaskan ikat pinggangnya dan menghampiriku.
"Ik--" perkataanku terputus ketika tiba-tiba dia menindihku dan memegangi kedua pergelangan tanganku erat. Kini posisinya mengunci tubuhku.
Setelah itu Ikram memposisikan diri menyatukan kedua tanganku ke atas dan menahannya menggunakan tangan kirinya. Pipiku benar-benar memerah merona.
Apakah kami akan memulai berhubungan suami istri setelah enam bulan lamanya?
Tangan kanan Ikram yang bebas kemudian menangkup pipiku, membelainya dengan lembut.
Aku menelan ludahku sedangkan kini Ikram hanya tersenyum nakal kepadaku.
"Kamu cantik," katanya dengan napas berat penuh gairah. Mata Ikram sudah sayu.
Ibu jari Ikram membelai lembut bibir merahku yang bagian bawah. Bibirku terbuka sedikit kemudian aku menggigit kecil jari tersebut dan mencium dengan gerakan sensual. Ikram menggerakan jarinya ke dalam mulutku dan kini aku mengisap jari tersebut dengan gerakan sensual. Kini gantian Ikram yang terlihat terbakar birahi terlihat dari wajahnya yang begitu merona menahan nafsunya.
Sial! Aku gila aku gila!
Aku menahannya selama enam bulan!
Ikram memajukan kepalanya lalu menciumku dengan buas, dia menggigit bibir bawahku yang tebal dan mengisapnya membuatku benar-benar gila.
Aku merasakan tangannya yang tadi sempat kucium kini berganti memasuki bajuku lewat bawah. Aku mendesah kecil dibawah tindihannya ketika tangan kekar Ikram mulai semakin bergerak ke atas menuju bagian atasku. Aku menggigit bibir bawahku menahan nafsu.
Lalu--
***