After Marriage

After Marriage
HangOut



Tapi sebenarnya mereka bercanda, kok, ketika mengatakan hal tersebut. Mereka berdua tidak bermaksud membicarakan Anha secara sembunyi sembunyi seperti itu.


Anha sejak dulu memang menjadi primadona dan sangat magnetik sekali dikalangan para pria. Jadi, tidak heran kalau dia bisa mendapatkan pasangan yang sering diimpikan oleh semua kaum hawa dengan mudahnya. Kebanyakan mantan Anha memang kaya raya dan tampan.


Ketika sudah sampai di meja nomor lima tempat Sisil dan Lidya berada. Anha bercipika cipiki melepas rindu dengan Sisil, kemudian bergantian dengan Lidya sama seperti kebanyakan orang ketika sudah tidak bertemu dengan teman lama pada umumnya.


"Masih tetep cantik aja kamu, An," kata Lidya memuji kecantikan temannya tersebut  yang memang tidak ada bedanya dari satu setengah tahun yang lalu ketika terakhir kali mereka bertemu.


Anha terkekeh dan mengatakan Lidya terlalu berlebihan dalam memujinya.


Namun ketika giliran Hasan bergerak hendak menyalami teman temannya itu—apalagi gerak gerik Lidya yang sepertinya hendak bercipika cipiki dengan pacarnya itu otomatis membuat Anha menengahi mereka berdua dan memanyunkan bibirnya seketika, cemberut sambil menatap tajam ke arah Hasan, seolah menyampaikan bahasa isyarat kepadanya kalau ti-dak-bo-leh!


Lidya terkikik geli melihat hal tersebut. Anha benar benar seperti istri yang possesif sekali.


Jelaslah Anha tidak memperbolehkan pacarnya bersentuhan pipi bertemu pipi dengan wanita lain. Apalagi Lidya juga sama sama seksinya seperti Anha. Anha takut kalau Hasan kepincut dengan temannya tersebut.


"Ecie… protektif banget, sih, si Anha ini sama pacarnya," ledek Sisil sambil tertawa geli.


"Tahu, tuh, si Anha pelit banget pacarnya dipegang dikit aja nggak boleh," kata Lidya sambil menutup mulutnya menahan tawa.


Hasan ikut terkekeh melihat Anha yang cemburu secara terang terangan itu.


“Biarin!”


Kini Anha bersedekap dada sambil raut wajahnya murung seketika. Uh, menyebalkan semuanya. Padahal sudah lama tidak bertemu malahan sekarang semuanya menertawakannya.


Hasan sebenarnya ingin mencubit pipi yang mengembung karena cemberut itu. Uh, lucunya…!


"Udah udah, ayo kita duduk, An. Kita udah nungguin kalian lama banget tau."


Lidya memang seksi dengan baju yang potongannya rendah. Sisil teman Anha di kantor juga sebenarnya manis tapi badannya agak berisi.


Tapi kalau Hasan boleh jujur, di antara mereka bertiga, tetap saja Anha yang paling cantik, dan tidak ada yang dapat menggeser posisinya dari hati Hasan saat ini.


Anha duduk bersebelahan dengan Hasan, dan di depannya ada Sisil yang duduk bersebelahan dengan Lidya berhadap hadapan dengan dirinya. Mereka memesan beberapa steak dan jus dengan varian rasa yang berbeda beda.


Sambil menunggu pesanan mereka disiapkan dan diantarkan oleh pelayan. Mereka mulai bercengkrama saling melepas rindu karena sudah lama tidak kumpul bersama seperti ini.


"Gimana kabar kamu, An?" tanya Lidya, mereka mulai membuka obrolan dan saling menanyai tentang kehidupan mereka masing masing.


“Baik, kok. Kalau kamu sendiri, Lid?” tanya Anha kepada Lidya.


“Aku juga Alhamdulillahnya baik. Eh, omong omong katanya Sisil kalian mau nikah, ya? Cie selamat, ya.”


Anha tersenyum malu dan mengucapkan terima kasih.


“Pokoknya undang aku, loh.”


Anha menganggukan kepala. Tak sampai lama pelayan tersebut pun sudah membawa pesanan makanan mereka dan menatanya di atas meja.


Sambil makan Lidya mulai menceritakan dirinya kepada teman temannya tersebut. Sedangkan Hasan yang masih canggung hanya diam saja sambil menikmati jusnya.


"Aku udah cerai, An, sama suami aku."


Anha dan Sisil terkejut seketika.