After Marriage

After Marriage
Ingin Jujur



Seseorang memegang pelan pundak Anha membuatnya seketika menoleh ke arah belakang.


"Hai. Sendiri?"


Anha cukup terkejut melihat seseorang   yang sedang berdirii di belakangnya itu namun ia mencoba untuk menyembunyikannya sebisa mungkin dan memaksakan diri untuk mengukir senyum di sudut bibirnya agar rasa tegangnya tidak terbaca oleh lawan bicarannya itu.


"Iya," kata Anha dengan singkat sambil menatap kembali ke arah depan. Tangannya risau sendiri menggenggam pegangan gelas dipangkuannya itu yang minumannya sudah habis.


Beginikah rasanya hidup dengan terus terusan menyembunyikan sebuah rahasia dan kebohongan? Tidak ada tenang tenangnya sama sekali. Jantung selalu berdetak sangat cepat karena rasa takut yang berlebihan.


"Nggak dingin?" kata Lelaki tersebut bergerak melepas jasnya dan memasangkannya pada tubuh Anha dari belakang. Meskipun Anha terlihat biasa biasa saja, tapi dia paham dan tidak ingin wanita tersebut kedinginan.


Anha yang diberikan perhatian kecil seperti itu merasa memanas pipinya, menghangatkan udara malam yang terasa berbanding terbalik ketika menerpa pori pori kulitnya itu.


"Kok, kamu ke sini, sih. Kan, tamumu banyak," kata Anha dan masih belum berani menatap kekasihnya tersebut. Seolah olah Anha sedang menghindarinya.


Pertanyaan terpentingnya adalah…


Bagaimana jika nanti Hasan mengetahui jika ternyata koleganya adalah mantan suaminya. Padahal waktu itu Anha sudah mengatakan kepada Hasan agar dirinya tidak menyanyakan segala hal mengenai masa lalu Anha dan Hasan setuju akan hal itu. Namun, melihat kejanggalan kenapa juga Ikram bisa berada di sini membuat Anha semakin ketar ketir saja.


"Kamu kenapa, sih? Kamu baik baik aja, kan, An?"  tanya Hasan sambil memegang tangan kiri Anha dan menyatukan jemarinya pada sela sela jemari Anha. Bahkan bukan sekadar wajah wanitanya yang pucat, tetapi tangannya juga terasa amat dingin. Tapi kenapa pula dia masih betah saja berada di luar dengan udara sedingin ini.


"An, kamu serius, kan, nggak kenapa napa?" ulang Hasan. Jujur saja sejak mengenal Anha dari awal Hasan memang bukan tipe lelaki yang mudah peka. Tapi gerak gerak Anha yang semakin ke sini malahan semakin aneh saja—dan tiba tiba memilih untuk menyendiri terlebih dahulu di luar. Jelas saja Anha kenapa napa.


Kini tangan Hasan terulur untuk memegang dagu Anha membuat wanita tersebut yang semula betah berdiam diri sambil menatap ke arah depan kini berganti menatapnya.


"Hei… kamu kenapa nangis, An?" tanya Hasan ketika melihat mata cokelat wanita tersebut berkaca kaca dan meneteskan air mata. Jelas saja semua lelaki akan kebingungan apabila wanitanya tiba tiba menangis seperti itu.


Hasan bergerak mengusap pipi Anha yang basah karena terkena air mata.


Anha menatap lelaki yang amat dicintainya itu. Dia sudah tidak tahan lagi apabila harus menyembunyikan ini semua terus menerus.


Lebih baik Hasan tahu ini semua dari mulutnya sendiri daripada mengetahuinya dari orang lain—apalagi sampai tahu dari Ikram langsung.


“Hasan…”


Hasan menatap lamat lamat Anha yang masih mengusap air matanya dan berusaha menenangkan napasnya yang sesenggukan itu.


“Kamu kenapa sayang? Please kalau ada apa apa cerita sama aku. Nggak malahan kamu pendem sendiri kayak gini.”


Anha menatap ke wajah tampan calon suaminya tersebut. Terukir raut wajah khawatir di sana.


“Tapi kamu nggak akan marah, kan?”


Memangnya jika Anha cerita kepada Hasan, apakah dia tidak akan marah?


Hasan menangkup wajah cantik Anha sambil menggelengkan kepalanya.


“Buat apa juga aku marah sama kamu, An.”


Anha meremas dress bagian bawahnya.  Menimbang nimbang dalam hati apakah dia benar benar harus mengatakan itu semua kepada Hasan atau tidak. Tetapi senyum tulus dan wajah yang teduh itu seolah menyakinkan Anha dan memberinya rasa aman untuk mengungkapkan semua kenyataan yang sejak dulu dipendam olehnya.


Kalau cinta pasti bakalan nerima kamu apa adanya, kok, Anha.


Lebih baik jujur sekarang, kan, kalian mau nikah.


Anha menelan ludahnya sebelum memberanikan diri untuk berucap.


“Hasan…”


“Ya?”


Anha menatap mata Hasan dari netra kiri ke kanan. Mengamati apakah benar jika Hasan tidak akan marah kepadanya.


“A-aku…” ada ragu di nada bicara Anha.


“Ya? Kamu mau ngomong apa, An? Aku bakalan dengerin, kok,” kata Hasan yang sebenarnya sudah penasaran setengah mati hendak mendengar ucapan Anha yang setengah setengah itu.


“Hasan… sebenarnya. Sebenarnya...”


Hasan mengusap wajahnya sendiri karena gemas bukan main atas perkataan terbata itu.


“Sebenernya Ikram i-itu… mantan suami aku.”


Deg!


Satu kalimat yang Anha ucapkan tersebut berhasil membuat Hasan yang semula tertunduk ke bawah kini menatap lurus ke arah Anha.


Apa yang barusan Anha ucapkan tadi? Apakah telinga Hasan barusan tidak salah tangkap.


Hasan menatap Anha lamat lamat. Matanya sendiri beberapa kali menerjab mencoba mencerna kembali ucapan Anha tersbut.


“Maksudnya?” ulang Hasan kembali. Siapa tahu indra pendengarannya salah tangkap.


Anha menganggukkan kepala. Sudah tidak perlu lagi ini semua untuk di tutup tutupi lagi.


“Iya. Sebenarnya Pak Ikram kolegamu yang tadi itu mantan suami aku.”


Lalu…


 


 


***