
***
Dengan tagan gemetar, peluh yang membasahi dahinya dan jantung yang berdetak kencang.
Kini Dewi bergerak memasukkan benda berwarna perak tersebut ke dalam lubang kunci pada pintu ruang kerja Ikram.
Dewi menelan ludah.
Sudah dari dulu dia menahan rasa penasarannya yang amat sangat tentang apa isi dari ruang kerja suaminya itu. Kenapa pula suaminya sampai menutup rapat rapat ruang kerjanya?
Bahkan suaminya itu sampai sehari hari lebih memilih untuk bermalam di dalam ruangan tersebut daripada bermalam dengan dirinya layaknya suami istri pada umumnya di luar sana.
Pernah sekali dua kali Dewi hedak masuk ke dalam ruangan itu, nyaris saja ruangan itu terbuka, tapi sialnya selalu ketahuan oleh Ikram.
Saat itu Ikram juga marah besar kepada dirinya serta mengatakan jika dia jangan sampai mengulangi kembali masuk ke dalam ruangan itu.
Tanpa basa basi lagi. Kini Dewi memutar kunci tersebut ke arah kanan sampai berbunyi 'klik' tanda pintu tersebut kini berhasil terbuka membuat jantung Dewi semakin berdetak lebih kencang lagi.
Saat ini bahkan Dewi terlihat seperti seorang pencuri saja. Apabila Ikram mengetahui hal ini maka tamatlah riwayatnya.
Dewi memutar gagang pintu ke arah bawah. Kemudian mendorong dengan perlahan pintu tersebut ke arah dalam sehingga perlahan pintu tersebut terbuka.
Kaki Dewi melenggang masuk ke dalam ruangan.
Awalnya Dewi tidak menyadari apa apa ketika memasuki ruangan tersebut. Dan tidak ada hal yang special di ruangan ini.
Dan di ujung kanan ruangan ini terdapat meja besar berwarna cokelat pekat lengkap dengan dokumen dokumen milik Ikram yang menggunung.
Di sisi lain terdapat ranjang single bad yang mungkin biasanya diguakan suaminya untuk tidur.
‘Tidak ada yang menarik di sini,’ itulah pikir pertama Dewi.
Lalu mengapa pula suaminya sampai menutup ruang ini rapat rapat dan tidak mengizinkan seorang pun untuk masuk? Bahkan Ikram juga tidak meminta bantuan dari pembantu mereka untuk membersihkan ruang pribadinya ini. Seolah ada yang ditutup tutupi.
Dewi semakin melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan, menghampiri meja kerja Ikram yang besar itu.
Ada orang yang mengatakan, jika kau tidak ingin sakit hati dan kecewa maka janganlah mencari cari sesuatu yang kau tahu sendiri nantinya hanya akan menyakiti perasaanmu. Mungkin perktaan tersebut cocok untuk Dewi. Rasa penasarannya mendorongnya kepada luka yang sebentar lagi akan dirasakannya meskipun penasarannya selama ini akan terbayarkan sudah.
Mata Dewi menangkap sesuatu yang menarik perhatiannya, yaitu figura kecil yang berada di atas meja kerja Ikram di antara dokumen dokumen Ikram.
Tangannya terulur untuk mengambil figura kecil yang berada di atas meja itu.
Seketika, tubuh Dewi pun otomatis meremang ketika mengetahui siapa yang berada pada bingkai figura kecil tersebut. Napas Dewi kembang kempis, jantungnya berdetak lebih cepat melebihi rasa ketika terakhir kali ia membuka ruangan ini.
"A-Anha," gumam Dewi dengan pelan ketika melihat foto Anha dengan gaun merah dengan membawa sebuket bunga mawar di dalam pigura tersebut.
***
Follow juga instagramku: @Mayangsu di sana aku lebih aktif dan post banyak info tentang novelku + jadwal update + visual tokoh. Makasih. Follow juga instagramku: @Mayangsu di sana aku lebih aktif dan post banyak info tentang novelku + jadwal update + visual tokoh. Makasih.