
Kini jarak wajahku dan wajahnya sangat dekat. Dia memiringkan kepalanya. Instingku tahu apa yang selanjutnya akan terjadi. Aku memejamkan mata dan menggenggam erat seprai putih kami. Dia mengecup bibirku sangat pelan. Menciumku dengan kecupan lembut.
Di sela ciuman hangat kami, rasa takut itu kembali menghampiriku lagi. Kini apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus pura-pura menstruasi atau pura-pura kelelahan karena acara pernikahan kami yang sangat panjang itu untuk menghindari momen ini? Aku takut hal buruk itu akan terjadi.
"Kamu cantik, An," katanya memuja, suaranya sudah serak, aku melihat hasrat bergejolak pada kedua netra cokelat miliknya. Aku menundukkan kepalaku ke bawah, memutus pandangan kami.
"Nggak usah takut. Aku tahu ini pertama kalinya bagi kamu. Aku bakalan pelan-pelan, kok," bisiknya pelan ada kupingku membuat tengkukku meremang. Aku kesusahan menelan salivaku. Baik, rasanya jantungku seperti diremas dan ditarik ke luar saat ini juga.
Dengan gerakan pelan dia menarik pelan tali piyamaku, kemudian membuka piyamaku. Dia mengusap lembut bahuku agar aku terlentang.
Kami akan memulai ritual malam pertama ini.
Dibandingkan dengan mantan-mantanku yang agresif, dia sangat lambat, mungkin dia mencoba membuatku nyaman. Aku hanya diam terlentang. Pasif. Sejujurnya aku lebih liar daripada ini. Aku hanya menatap kosong langit-langit kamar yang bewarna putih.
Tanpa kusadari air mataku menetes di pipiku, tetapi kemudian langsung buru-buru kuusap dengan punggung tanganku agar dia tidak tahu bahwa aku menangis.
Kemudian kami memenyatukan tubuh kami kembali. Dia melihat mataku dalam-dalam, jarak kami hanya terpisah beberapa senti saja, aku merasakan napas hangatnya menerpa pori-pori wajahku.
Dia mencium pipiku pelan, mengatakan bahwa dia sangat mencintaiku. Aku memeluknya lebih erat, mengatakan aku juga sangat mencintainya. Air mataku jatuh, aku sudah tidak dapat lagi menahan perasaan bersalah ini.
"Maaf."
Hanya itulah kata yang keluar pelan dari mulutku, tepat di telinganya.
Dan malam pertama kami terjadi tanpa respons cengkeraman dari kukuku di punggungnya ataupun gigitanku di pundaknya, atau jeritanku karena kesakitan. Aku benar-benar menangis dan memeluknya erat, sangat erat. Takut dia akan pergi dariku. Takut ini adalah pelukan terakhir kami.
Tetapi akhirnya hal yang kutakuti pun terjadi. Dia memberi jarak dari tubuhku, kemudian dia melihat ke arah bawah. Tidak ada noda merah bekas darah sama sekali di seprai. Dia menatap lurus ke arahku, setelah itu rahangnya mengeras. Hingga mata itu, mata cokelat indah yang dulunya selalu teduh ketika dia menatapku, kini semuanya seolah berubah. Tatapan itu berubah menjadi tatapan, marah, kalut, dan tentunya dia sangat kecewa terhadapku.
"Maafin aku."
Seharusnya aku mengatakan ini semua dari awal. Aku menyesal. Dia bangkit, menarik dirinya dari diriku. Kemudian dia berdiri membelakangiku, menarik rambutnya ke belakang. Aku menarik selimut sehingga menutupi tubuhku sampai ke bagian atas dadaku.
"Kamu bilang kamu masih perawan, An!"
Dia berteriak marah. Berbalik menatapku tajam, rahangnya mengeras, aku bisa melihat kemarahan yang sangat besar pada dirinya saat ini, dia kecewa denganku karena mendapati diriku yang sudah tidak perawan lagi di malam pertama kami.
"A-Aku..."
Aku tidak bisa mengatakan apa pun, hanya bisa menunduk dan menangis. Ini semua salahku.
"Jawab aku, An!" desaknya lagi, tapi kini nada suaranya tidak sekeras tadi. Aku masih tidak berani menatapnya, menatap matanya sangat berat bagiku.
"A-Aku takut... Takut kamu bakalan batalin pernikahan kita ka-kalau aku ngasih tahu aku udah nggak perawa--" suaraku tercekat, hilang di tenggorokanku, aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku lagi. Aku memeluk selimut ini dengan lebih erat. Tidak ada respons apa pun darinya, dia hanya diam saja. Aku memberanikan diri mengangkat pandanganku untuk melihatnya. Dia sedang membalikkan tubuh sambil mengusap wajahnya kasar.
"Maafin aku."
Aku menangis, berharap dia bisa memaafkanku, tapi aku yakin hal itu tidak akan mungkin terjadi mengingat begitu besarnya kesalahanku terhadapnya.
Seharusnya aku jujur saat dulu dia bertanya kepadaku tentang status diriku yang masih perawan atau tidak. Waktu itu aku mengatakan aku masih perawan karena aku mencintainya. Aku takut dia akan pergi meninggalkanku dan membatalkan pernikahan kami jika aku mengatakan kalau aku sudah tidak perawan lagi.
Aku terisak, dia berjalan ke arah jendela--masih dalam keadaan telanjang. Dia menatap ke arah luar. Aku benar-benar melakukan kesalahan besar karena dia sendiri dari awal mengatakan jika dirinya tidak pernah tidur dengan wanita lain sebelum menikah dan menjaga diri untuk calon istrinya kelak.
"Maafin aku, Mas."
Dia tidak mau memalingkan pandangannya sama sekali ke arahku.
"Apa kamu nggak perawan karena kecelakaan atau karena jatuh dari sepeda?"
Akhirnya dia mengangkat suara. Aku hanya diam, masih menangis, padahal aku berharap saat ini dia memelukku dan mengatakan, "Nggak papa, aku nerima kamu apa adanya, An." Tetapi kenyataanya tidak seperti itu.
"Kamu diperkosa?" tanyanya lagi, aku tidak bisa menjawabnya. Aku tidak bisa berbohong lagi, aku sudah membohonginya terlalu banyak dan aku tidak mungkin mencari-cari alasan lagi untuk menutupi ini semua. Dia menarik rambutnya ke belakang, seolah tahu situasi saat ini dengan cepat.
"Siapa yang pertama ngambil itu semua, An?"
Aku masih terdiam dan menangis sesenggukan.
"Jawab aku, An!"
Aku gemetar mendengar nada bicaranya yang meninggi.
"Pa-Pacarku... Waktu aku SMA dulu," kataku gemetar.
Tidak ada pertanyaan lagi setelah itu. Dia berjalan ke arah lemari pakaian. Mengabaikanku yang masih menangis. Sekilas aku melihat matanya memerah dan berkaca, dia pasti sangat kecewa terhadapku. Aku mencoba memanggil namanya dan mengatakan maaf. Dia hanya diam saja mengabaikanku. Dia mengambil baju tidurnya di lemari kemudian memakainya.
Aku harus melakukan sesuatu. Aku harus meminta maaf!
Aku turun dari ranjang dan menghampirinya. Dia melangkah ke arah kamar mandi, aku meraih lengannya tetapi dia mengempaskan lengannya tanpa melihatku sama sekali. Ketika dia hendak membuka gagang puntu kamar mandi. Dia mengatakan sesuatu yang membuat tangisku lebih terisak, kakiku terasa lemas ketika mendengar perkataan itu. Kata-kata yang menusuk tepat di jantungku di hari pertama kami menjadi suami istri.
"Kita cerai aja. An."
***
Contact Person:
IG: @Mayangsu_
Mangatoon: @Mayangsu
Storial: @Mayangsu
Wattpad: @Mayangsu
Email: Mayangsusilowatims@gmail.com