
Jika kau bertanya kepadaku tentang lebih baik mencintai atau dicintai?
Maka aku akan menjawab jika lebih baik dicintai orang yang tidak kita cintai sama sekali. Lebih baik cintai oleh yang mengejar-ngejar kita walaupun kita tidak mencintainya.
Karena apa? Karena pada kenyataannya aku sudah merasakan betapa sakitnya mencintai seseorang yang tidak mencintai diri kita.
Cinta sepihak itu menyesakkan, karena pada dasarnya sebuah hubungan percintaan harusnya saling timbal balik, dua-duanya harus saling mencintai dan saling berusaha melengkapi satu sama lain.
Aku menyisir rambutku ke belakang dengan jariku, kemudian menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku.
Semuanya sudah berakhir!
Berakhir!
Ikram sekarang benar-benar sudah berubah, dia seolah asing bagiku, dia seolah bukan Ikramku yang dulu pernah aku kenal.
Banyak orang yang mengatakan tahun-tahun rawan perceraian dalam sebuah pernikahan adalah pada lima tahun pertama, karena di tahun tersebut kontrol emosi dari kedua belah mempelai masih belum stabil, kondisi ekonomi mereka masih lemah, atau kalau tidak masalah pada kelahiran anak pertama dan masalah pada kebutuhan yang semakin membengkak.
Tapi... lihatlah aku, bahkan usia pernikanku belum menginjak lima tahun pertama, bahkan baru saja memasuki hari ke tiga setelah menikah tetapi talak pertama sudah dilayangkan oleh suamiku, suamiku tidak mau berbicara sepatah kata pun kepadaku dan lebih memilih mengabaikanku--bahkan mungkin menganggapku tidak ada.
TIGA HARI, badai rumah tangga itu terlalu dini untuk hadir. Tapi aku juga tidak dapat mengelak, ini semua salahku. Andai aku berkata jujur ketika dia menanyaiku apakah aku masih perawan atau tidak, pasti semuanya tidak akan berakhir seperti ini.
Lalu harus bagaimana lagi, waktu itu pikiranku buntu. Mungkin alasan pertama aku tidak mengaku karena aku sangat mencintai Ikram, aku takut jika aku berkata jujur maka dia akan meninggalkanku. Alasa kedua, Ikram sudah menggelontorkan uang puluhan juta untuk acara pernikah kami, mulai dari biaya resepsi, sewa gedung, dan semua printilannya. Waktu itu juga sudah banyak tetangga dan kerabat yang sudah terlanjur tahu jika kami hendak menikah.
Dan alasan yang terakhir, mau ditaruh di mana muka orang tuaku jika menjadi bahan omongan orang lain jika mereka tahu putrinya batal menikah, apalagi jika tahu alasan dari batalnya pernikahan karena aku sudah tidak perawan lagi.
Ini semua salahku, andai dulu aku berpikir tentang konsekuensi jangka panjang tentang diriku ketika sebelum aku melakukan seks dengan mantan-mantanku pasti ini semua tidak akan terjadi. Andai aku tidak mau masuk ke kelas kosong itu dan melepas kehormatanku kepada Angga.
Aku mengusap pipiku yang basah oleh air mata. Bahkan Angga pun sebenarnya tidak seratus persen bersalah. Aku yang terlalu murahan. Seharusnya aku menolak. Aku menangis terisak, sekarang nasi sudah menjadi bubur. Aku kehilangan orang yang paling kucintai.
Aku rindu Ikram yang dulu selalu bersikap lembut kepadaku. Aku rindu Ikramku yang dulu selalu menatap diriku penuh cinta dari netra cokelat menyejukkan miliknya. Tetapi kini tatapan itu sirna, digantikan dengan tatapan kesedihan dan kekecewaan. Aku rindu ketika dulu dia mengusap lembut pucuk kepalaku, menggendongku ketika awal kami menjadi pengantin baru.
Aku bodoh!
Aku bodoh!
Sejak kemarin malam kami pisah ranjang, aku tidur di kamar utama sedangkan Ikram tidur di ruang kerjanya yang letaknya berada di sebelah kamar utama kami dengan pintu yang menghubungkannya dari dalam kamarku. Tetapi Ikram selalu mengunci diri ketika bermalam di sana, aku tidak bisa masuk sama sekali. Dia tidak mengucapkan sepatah katapun kepadaku sampai sekarang.
Andai saja aku masih perawan dan hubungan kami baik-baik saja, pasti saat ini kami berdua sedang melakukan Honeymoon sambil menikmati es kelapa muda di pinggiran pantai Hawai atau menyewa resort di Maldives. Itulah rencana yang aku dan Ikram susun bersama senelum menikah. Honeymoon yang menyenangkan selama sepuluh hari penuh. Tetapi itu dulu. Kini semuanya hanya dalam kata 'Andai' dan ini semua karena kesalahan bodohku.
Apa mungkin cerai memang jalan yang terbaik?
Tetapi ini baru tiga hari. Apa kata orang nanti? Lalu bagaimana dengan...
Ikram memang sudah menjatuhkan talak pertama, setahuku suami istri baru sah bercerai ketika pihak suami sudah menjatuhkan jatuh talak tiga. Kupikir setelah malam itu aku akan langsung dipulangkan ke rumah Mama, atau kemungkinan paling buruknya bisa jadi aku langsung diusir dari rumah ini. Jika sampai saat ini aku masih di rumah ini selama dua hari... apa itu artinya aku masih diberi kesempatan oleh Ikram?
Aku melihat Ikram keluar dari ruang kerjanya dengan rambut berantakan dan wajah kusut seperti habis bangun tidur. Aku melangkak pelan mendekatinya.
"Mas..." panggilku pelan sambil mencoba memegang lengannya, namun Ikram mengabaikanku dan terus berjalan ke depan seolah aku tidak ada.
Hatiku mencelos, ada pisau tak kasat mata yang sedang menyayat pelan jantungku. Rasanya diabaikan begitu sakit.
Aku mengekori dirinya yang sedang mengambil botol minuman dari dalam kulkas.
"Kita harus bicara, Mas."
Ikram tidak merespons sama sekali, dia menutup botol dengan gerakan pelan.
"Aku nggak mau cerai sama kamu. Aku cinta sama kamu. Maafin aku, Mas."
Suaraku bergetar, aku berharap dia menatapku, mengusap air mataku dengan ibu jarinya kemudian memelukku erat seperti yang dulu dia lakukan ketika menyelamatkanku dari Rudi. Namun aku tahu diri jika hal itu tidak akan mungkin terjadi.
"Kumohon," kataku memelas sambil memegang lengannya.
"Gimana perasaan Mama kalau kamu ceraiin aku setelah dua hari nikah? Apa kata orang nanti tentang aku? Kasih aku kesempatan buat memperbaiki ini. Demi Mama aku, Mas. Aku nggak mau bikin Mama malu, aku nggak mau Mama jadi bahan omongan orang lain kalau aku cerai baru satu hari nikah."
Napasku tercekat, rongga pernapasanku seolah menyempit.
Ikram hanya terdiam, sorot matanya redup dan menatap kosong ke arah lain, aku tahu betapa kecewanya dia terhadapku.
"Seharusnya kamu mikir kayak gitu waktu dulu kamu ditidurin cowok kamu, An. Udah telat semua penyesalan kamu."
Itulah kata pertama Ikram setelah dua hari satu malam mendiamankanku penuh. Ikram mengembalikan botol minuman ke dalam kulkas dan menutup pintu kulkas pelan.
Aku memegangi lengannya ketika dia hendak pergi. Aku menangis terisak, aku tidak mau cerai, aku tidak bisa membayangkan jika harus pulang ke rumah Mama setelah baru dua hari menikah.
Aku menarik napas menguatkan diriku sebelum melanjutkan perkataanku kembali.
"Mas, Aku mohon maafin aku. Aku minta satu hal sama kamu."
Air mataku bercucuran, napasku sasak, lututku goyah kemudian aku memegang kaki Ikram dan berlutut memohon kepadanya. Aku rela memohon-mohon demi dia mau memaafkanku.
Ini semua demi Mama.