
"Aku mau kita cerai, Mas," kataku sambil mencoba lepaskan diri dari pelukannya. Dan akhirnya berhasil juga.
"Aku nggak mau sayang, aku nggak mau kita cerai. Please, maafin aku. Aku mohon, An."
Ikram menitikkan air mata dan menekuk lututnya sambil berlutut memegangi kakiku. Aku menggelengkan kepala kuat kuat.
Jangan luluh, Anha. kata gadis batinku.
"Aku nggak bisa, Mas. Aku nggak akan nuntut kamu mengenai harta gono gini. Aku cuma pengin kamu nggak mempersulit perceraian kita."
Akhirnya aku mencoba melepaskan tangan Ikram yang memegangi lututku kemudian setelah itu aku berlalu memasuki ruang keluarga dan memeluk Mama dengan erat karena memang ternyata Mama sedari tadi masih berdiri di balik korden ini.
Aku terisak di pelukan Mama. Mama mengusap punggungku menenangkan diriku ini.
"Kamu tenangin diri dulu. Mama mau ngomong sebentar sama suamimu," kata Mama menuntunku untuk duduk di sofa ruang keluarga. Aku mengangguk kemudian Mama berjalan keluar untuk menemui Ikram.
"Mama, please bantuin Ikram, Ma. Bantuin Ikram buat ngomong ke Anha," kata Ikram.
Kalau pun sumpamanya Mama benar benar mau membantu Ikram dan Mama berusaha sekuat tenaga untuk membujukku agar mau memaafkan Ikram. Tetap saja aku tidak akan pernah mau.
"Mama, Ikram mohon. Ikram masih cinta banget sama Anha, Ma. Ikram nyesel, Ma. Tolong kasih kesempatan ke dua buat Ikram."
Mama masih terdiam, pun sama halnya seperti diriku yang saat ini juga masih terdiam saja. Andai saja aku bisa menebak apa yang saat ini sedang Mama rasakan. Pasti aku juga akan bisa memengetahui apa yang Mama putuskan untukku.
"Mama…"
"Ikram, kamu tahu nggak?" Mama mulai membuka suara, tetapi ucapannya tergantung sesaat. Dan mungkin saja saat ini Mama sedang menggengam erat tangan Ikram. Atau kalau tidak saat ini Mama sedang menyentuh pipi Ikram.
Kemudian dari sini terdengar Mama melajutkan lagi ucapannya tersebut.
"Apa kamu tahu? Dulu kamu datang ke sini dengan itikad baik buat ngelamar anak Tante. Dulu… kamu udah Tante anggap kayak anak Tante sendiri. Sampai Tante ciumi pipi kamu waktu kamu mau pulang. Tapi kenapa kamu kayak gitu sama anak Tante? Kenapa kamu nyakiti dia?"
Kini Mama sudah tidak memanggil dirinya lagi dengan sebutan Mama, tetapi Tante. Hal itu sudah membuktikan seberapa sakit hatinya Mama kepada Ikram.
Aku mencoba bergerak dan mengintip sedikit apa yang saat ini sedang mereka lakukan dari celah pinggiran korden. Mama masih menggenggam erat kedua tangan Ikram. Mata Ikram masih memerah, menangis.
“Ma—”
"Tante tahu, kok, kalau anak Tante udah nggak sempurna lagi waktu nikah sama kamu. Tante nggak nyalahin kamu. Tapi apa kamu masih ingat, Ikram? Dulu kamu janji sama Tante buat bakalan bahagiain anak Tante, dulu kamu janji sama Tante kalau kamu bakalan ngelindungi dia apa pun yang terjadi.”
Mama mengarik napas dalam dalam.
“Tadi pagi Anha udah certain semuanya sama Tante kalau dia nggak diperlakuin dengan baik di rumah kamu. Tadi Mama juga udah denger gimana Mama kamu memperlakuin Anhanya Tante. Bahkan kamu tahu? Sebelumya Anha selalu mendem itu semua dan nutupin aib kamu dan Mamamu. Tapi kalian nggak memperlakuin Anha dengan baik. Hati ibu mana yang nggak hancur ketika mengetahui anaknya diperlakuin kayak gitu, Ikram?"
"Nggak gitu, Ma. Maafin Ikram. Ikram mohon maafin Ikram. Ikram nggak mau cerai. Bantu Ikram buat ngomong ke Anha, Ma. Ikram mohon."
Mama menggelengkan kepala dan melangkah mundur.
"Tante mungkin bisa maafin kamu meskipun hal itu butuh waktu lama. Tapi Tante nggak tahu apakah Anha mau maafin kamu atau engga. Dan, soal perceraian. Itu semua Tante pasrahin ke Anha karena dia yang ngejalani ini semuanya. Tante selaku orangtuanya akan selalu ngehargai keputusan dia."
"Tapi, Ma—” perkataan Ikram terputus. Dia tidak dapat melanjutkan ucapannya lagi.
Ikram menelan ludah ketika Mama menunjuk ke arah pintu.
Tetapi mau tidak mau Ikram tetap harus pergi. Ikram pun berjalan dengan gontai ke arah pintu keluar.
Setelah itu. Kini aku hanya harus tegar sampai masa persidangan perceraian kami selesai.
***
Hari demi hari berlalu, merajut menjadi bulan, semua itu mampu kulewati dengan perasaan yang…
Biasa biasa saja.
Mungkin aku gila, mungkin juga aku sudah mati rasa. Harusnya aku sakit hati sekali dengan Ikram. Harusnya aku membenci mereka berdua karena aku merupakan korban juga dalam khasus cinta segitiga ini.
Tapi… sekarang aku malahan bersikap biasa saja.
Dulu… dulu sekali… cintaku kepada Ikram yang menggebu-gebu kini itu seolah sudah terkisis. Sudah luntur, dan kini hanya menyisakan kenangan pahit di hatiku. Bahkan sepertinya namanya saja sudah tidak ada sama sekali di hatiku yang sudah remuk redam ini.
Bahkan aku sudah ikhlas dengan perceraian ini.
Mama yang melihatku semakin hari semakin membaik ini bahkan sering kali mengeryitkan dahi ketika melihatku dan bahkan Mama juga mengatakan kepadaku apakah aku benar benar baik-baik saja?
Aku hanya menjawab perkataan Mama dengan anggukan kepala saja.
Ternyata nasihat lama itu benar adanya. Kalau memang kisah cintamu saat ini terasa begitu menyakitkan. Maka lepaskanlah saja.
Dan yakinlah, pasti ada seseorang yang baik di depan sana, di mana esok cinta yang baru akan menghampirimu. Menyembuhkan luka di hatimu.
Kamu boleh membenci masa lalumu. Boleh marah. Tapi sialnya hidup terus berjalan. Maka melangkahlah, meskipun terasa begitu sulit sekali sampai terseok seok sekali pun.
Tetapi aku tidak munafik, seminggu setelah kedatangan Ikram waktu itu. Aku benar benar stuck karena meratapinya. Tapi hanya sampai dua hari saja.
Itu wajar, karena itu adalah fase patah hati terhebat dalam hidupku.
Tapi kini. Aku sudah berubah, aku yang saat ini seolah menjadi orang yang baru. Aku sudah semakin dewasa, semakin tegar.
Kehidupan mengajariku akan banyak hal. Problematika dalam kehidupanku membuatku menjadi sosok yang begitu tegar dan dewasa.
Benar kata orang, seseorang yang berdiri setelah di terjang badai maka tidak akan bisa goyah karena gerimis kecil.
"Sekarang?" tanya Mama dari arah belakang ketika aku sudah mengambil tas kecilku yang berada di atas meja riasku. Aku menganggukkkan kepala.
Hari ini, aku akan menghadiri sidang perceraianku dengan Mas Ikram.
Menunggu untuk palu itu diketuk. Tanda berakhirnya hubungan kami berdua.
Saat ini aku memang sengaja mengenakan kemeja berwarna putih dengan bawahan rok span berwarna merah maroon. Tak lupa riasan manis dengan eye shadow berwarna peach yang membuat wajah cantikku semakin terlihat segar.