
Selama jam kerja siang itu Anha lalui dengan wajah murung. Dia tidak semangat sama sekali setelah mengetahui kabar burung dari Sisil yang padahal kenyataanya sudah ditambahi dengan bumbu special oleh sahabatnya tersebut.
Sekarang Anha menganggap Hasan sama saja berengseknya dengan Ikram—mantan suaminya yang menyelingkuhinya itu. Man always be Man.
Kini Anha memasukkan beberapa barangnya ke dalam tas miliknya. Anha bergerak agak bergegas supaya hari ini dia menghindari janji pertemuanya dengan Hasan setelah jam pulang kantor.
Anha sudah malas dengan Hasan. Ia sudah tidak bergairah sama sekali untuk bertemu dengannya. Pulang kantor dengan cepat adalah opsi terbaik yang dipilih Anha saat ini.
“An, aku pulang dulu, ya,” kata Sisil menghampirinya hanya untuk sekadar bercipika cipiki dengan sahabatnya yang masih murung karena ulahnya itu.
Anha mengangguk lemas. Kini Sisil terkikik geli melihat hal tersebut.
“Oh iya , An. Selama janur kuning belum melengkung, mah, gas aja, atuh, An. Siapa tahu emang si jambang hot itu emang beneran jodoh kamu. Hehe,” kata Sisil agak mengeraskan nada bicaranya ketika ia hendak melangkahkan kaki keluar dari ruangan ini— dan untung saja karyawan lainnya sudah keluar menyisakan Anha sendirian jadi ia tidak malu ketika Sisil berteriak seperti tadi.
Anha tidak menjawab perkataan Sisil. Saat ini mood-nya benar benar masih belum membaik sama sekali.
Selama janur kuning masih belum melengkung, mah, gas, atuh, An?
Anha memutar bola matanya ketika mengingat ucapan sahabatnya tersebut.
Yang benar saja! Anha tidak pernah mau sama sekali merusak hubungan orang lain. Itu sudah menjadi prinsip Anha dari dulu.
Begitu pula saat ini, ketika Anha tahu kalau Hasan sudah tunangan dengan Bella maka jelas saja Anha memilih untuk mundur dengan teratur. Anha sudah pernah merasakan sakitnya di selingkuhi. Dia tidak ingin melakukan apa yang dulu pernah Dewi lakukan kepada orang lain.
Anha berjalan gontai menuju arah pintu keluar. Dia akan pulang memesan ojek saja dan memilih untuk menghindar dari Hasan—yang tadi siang mengatakan kalau dirinya saat ini mungkin saja masih lembur di ruangannya dan mungkin juga saat ini Hasan sedang menunggu kedatangan Anha ke ruangannya.
Namun sialnya ketika Anha berjalan hendak memasuki lift dia bertemu dengan Hasan yang keluar dari dalam lift dengan membawa dua cup coffe di tangannya.
Rahang Anha agak terjatuh ke bawah. Dia tidak tahu kalau takdir sebercanda ini kepadanya.
“Oh. Hai, An,” sapa Hasan dengan senyum ramah yang terukir di bibirnya ketika mengetahui keberadaan Anha di depannya.
“Ha-hai,” kata Anha dengan sedikit terbata, Anha mencoba mengukir senyum yang dipaksakan pada kedua sudut bibirnya yang dibuat melengkung ke atas.
“Kebetulan banget kita ketemu di sini. Yuk, ke ruanganku sebentar. Aku pengin ngobrol sama kamu. Nanti sekalian kita pulang bareng, ya? Aku yang anterin sampai rumah.”
Anha ingin menolak tawaran tersebut. Namun sialnya entah mengapa rasanya Anha tidak dapat menolak sama sekali.
Karena alasan yang pertama dia sudah berjanji kepada Hasan sebelumnya akan datang ke ruangannya untuk membicarakan mengenal hubungannya dengan Bella.
Alasan kedua Anha mau menerima ajakan Hasan karena Anha juga penasaran tentang apa yang hendak Hasan katakan kepada dirinya.
Dan alasan ketiga adalah… karena gelenyar hangat yang menjalar dari tangan Hasan yang saat ini sedang menggengam erat tangan kanan Anha seolah susah sekali untuk di lepaskan. Kini Anha berjalan beriringan dengan Hasan menuju ruangannya.
Mungkin jika Anha licik sedikit seperti Dewi. Maka saat ini mungkin Anha akan berusaha sekuat tenaga untuk menggoda Hasan.
Dia akan melakukan apa pun untuk menarik perhatin Hasan agar Hasan menyukainya.
Bahkan benar juga kata Sisil tadi. Toh, janur kuning juga belum melengkung, bukan? Jadi sebetulnya tidak salah juga kalau Anha menyukai lelaki di sebelahnya itu.
Yang hendak menikah kurang satu hari saja bisa batal, kok. Apalagi yang hubungannya baru sekadar tunangan, coba?
Tetapi, Anha bukan orang yang seperti itu.
Anha memejamkan mata, kemudian menggelengkan kepalanya mengusir pikiran yang sempat terbesit tersebut.
Toh, pada kenyataanya tanpa harus repot repot menggoda Hasan supaya Hasan tertarik kepadanya pun kenyataanya Hasan sudah terpikat pesona Anha sejak awal mereka bertemu di ruangan Erwin kala itu.
***