
Tetapi ketika mengingat Hasan sudah bertunangan dengan Bella membuat hatinya terasa ngilu.
Anha berpikir. Kalau Hasan sudah memiliki kekasih kenapa juga dia mendekatinya?
"An, kamu kenapa? Bilang sama aku, An?!" kata Hasan dengan panik ketika Anha tiba tiba mengusap air matanya. Dia tidak suka melihat seorang wanita menangis.
"An, jawab aku," desak Hasan sambil memegang kedua bahu Anha.
Anha menarik napas dalam dalam karena saat ini rasanya begitu sesak sekali untuk sekadar bernapas.
"Mulai besok kita jangan ketemu lagi, ya, San."
Hasan mengeryitkan dahinya. Kenapa Anha tiba tiba mengatakan hal tersebut kepadanya padahal tadi siang Anha baik baik saja?
"Kenapa kamu tiba tiba kayak gini?" kata Hasan denga dingin. Nada bicaranya terdengar berbeda dan tidak suka. Anha kini menatap Hasan yang sedang menampilkan ekspresi dingin.
Apa dia salah bicara?
"Kenapa?" kata Hasan dingin.
Anha menelan salivanya sejenak. Anha hendak mengatakan sesuatu namun ia memilih untuk mengurungkannya. Dan hanya memilih untuk diam saja.
Punya hak apa dia untuk cemburu? Apalagi cemburu kepada tunangannya orang.
"Nggak papa." Itulah akhirnya kata-kata yang keluar dari mulut Anha membuat Hasan semakin kesal dibuatnya.
Wanita itu memang makhluk yang sulit sekali dimengerti.
"Kamu nggak punya hak nyuruh aku buat ngejauh dari kamu, An," kata Hasan sambil menatap lamat lamat manik hitam milik wanita pujaannya ini.
Anha menatap balik manik Hasan. Dia mengatakan hal tersebut dengan bersungguh sungguh. Namun setelah itu Anha memilih untuk membuang muka ke samping.
"Aku nggak mau ngerusak hubungan orang," kata Anha dengan lirih diakhiri embusan napas berat membuat Hasan semakin mengerutkan dahinya.
"Maksud kamu apa, sih? Please, An, bicara yang jelas."
Anha yang kesal karena Hasan ia kira berpura pura tidak mengerti itu kini ditatapnya dengan wajah yang kesal (karena provokasi dari Sisil yang mengatakan Hasan adalah tunangannya Bella)
"Apa Bella aja nggak cukup, sih, San!" kata Anha akhirnya berterus terang kepada Hasan.
Hasan terdiam sejenak. Masih memproses apa yang sedang Anha ucapkan tersebut. Apa hubungannya dengan Bella coba?
Anha berdecak kesal. Dia turun dari meja tersebut.
"Aku mau pulang. Aku nggak mau ganggu kamu sama tunanganmu itu. Mulai sekarang kita nggak usah kenal lagi aja. Aku bukan tipe cewek yang ngerusak hubungan orang lain, San."
Setelah mencerna ucapan Anha sesaat. Tawa Hasan pun pecah membuat wajah Anha memerah malu. Kenapa Hasan malahan tertawa terbahak seperti itu?
Tetapi Hasan bersyukur karena ia mengetahui kalau itu artinya Anha memiliki perasaan kepada dirinya. Anha benar benar lucu ketika cemburu. Bahkan tadi dia hendak menangis juga.
Ingin rasanya Hasan mencubit pipi tembam Anha ataupun menciun pipi yang menggembung tersebut. Tetapi ia tahan. Tunggu dulu. Hasan harus bersabar untuk beberapa bulan lagi. Kisaran lima sampai tujuh bulan. Dan disaat mereka sudah agak lama saling mengenal. Anha, akan disandingnya di pelaminan.
Hasan tersenyum menatap wanitanya ini.
"Nggak, kok. Buat apa aku cemburu. Emang punya hak apa aku cemburu sama kamu?" Hasan menutup mulutnya dan mencoba menahan tawanya. Tidak sopan sekali jika dia tertawa terbahak padahal Anha masih kesal.
"Udah, ya. Mulai besok kita jangan ketemu lagi. Aku nggak mau nyakitin perasan Bella," kata Anha dengan terluka sambil melangkah ke depan.
Tetapi tanpa terduga Hasan memeluk Anha dari belakang membuat Anha terdiam seketika.
"Aku nggak ada hubungan apa-apa sama Bella, kok. Aku berani sumpah demi Tuhan, An," kata Hasan sambil menopangkan dagunya pada pundak Anha. Anha terdiam tetapi berbanding tebalik dengan jantungnya yang berdetak tak karuan.
Kemudian Anha berbalik badan. Menatap mata lelaki di depannya lamat lamat. Menilai. Mencari kebenaran dari ucapan lelaki ini tadi dari manik matanya. Karena kata orang mata adalah organ tubuh yang dapat memperlihatkan kejukuran.
"Serius?" tanya Anha. Hasan mengangguk pelan dan tersenyum.
"Tapi kata temen aku kamu udah tunangan sama Bella!"
Hasan hanya tersenyum lembut.
"Kalau aku udah tuanangan sama dia. Nggak mungkin juga aku ngedeketin cewek lain, An," kata Hasan dengan bersungguh-sungguh. Dan benar saja. Anha tidak menemukan bualan dia sana.
"Jadi kamu nggak tunangan sama Bella?" tanya Anha dan Hasan menganggukan kepala.
Anha berdecak kesal. DASAR SISIL TENGIL!!!
Sekarang Anhalah yang malu sendiri karena bisa cemburu tidak jelas seperti tadi.
Kini Anha melangkah hendak kabur ke kamar mandi untuk menyembunyikan wajahnya yang merah merona karena malu.
Hasan langsung menahan lengannya.
"A-aku mau ke kamar mandi," kata Anha dengan terbata. Hasan yang tahu Anha sedang malu hanya terkekeh geli melihatnya.
"Tapi kamu nggak kabur, kan?" tanya Hasan dan Anha hanya menganguk saja sebagai jawabannya.
Setelah Hasan melepaskan tanganya Anha berjalan cepat menuju pintu keluar ruangan ini menbuat Hasan tertawa geli.
Namun ketika Anha bergerak menutup pintu tersebut.
Matanya terbelakak, napasnya seolah berhenti sesaat dan jantungnya berdetak lebih cepat ketika melihat Bella. Yang membawa satu box pizza dan coca cola ditangannya. Dan saat ini Bella juga menampilkan ekspresi tak kalah bingungnya seperti Anha.
Lalu...