After Marriage

After Marriage
Cincin



Anha juga ingin menikah…


Membina rumah tangga…


Dengan Hasan…


Tetapi buru buru pikirann tersebut ditepisnya jauh jauh. Hasan saja sepertinya biasa biasa saja kepadanya. Anha tidak mau terbawa perasaan yang berlebihan kepada Hasan.


Karena pada kenyataanya banyak wanita yang patah hati karena terlalu berharap kepada seorang pria.


Apalagi jika Hasan mengetahui bahwa sebenarnya Anha sudah pernah menikah dan teryata seorang Janda. Apakah menurutmu Hasan bisa menerima hal tersebut?


Sudahlah. Malam semakin larut. Yang ditunggu pun juga tidak mengirimnya pesan sama sekali. Mata Anha sudah terasa sangat berat.


Anha menatap layar ponselnya yang kini menampilkan layar chat dirinya dengan Hasan. Dia masih terlihat online. Tapi tidak mengiriminya pesan.


Anha semakin mengantuk, akhirnya dia jatuh terlelap dalam mimpinya dan besok dia akan menemani Sean untuk jalan jalan bersama.


***


Hasan mengusap wajanhya yang terkena guyuran air shower. Sepulang dari kantor dia memilih untuk segera mandi—sekalian mencairkan hatinya dan pikirannya yang terbakar oleh api kecemburuan.


Bagaimana bisa Anha dekat dengan anak itu.


Padahal tadi rencananya Hasan akan mengajak Anha untuk makan malam bersama, saling mengobrol dan membahas segala hal degan maksud agar hubungan mereka berdua berubah menjadi semakin membaik lagi.


Setelah pulang dari makan malam Hasanakan mengantarkannya pulang. Berpamitan kepada Mamanya dan mengambil kesan baik kepada Mamanya.


Tetapi semuanya pupus sudah.


Selesai mandi Hasan mengambil haduk yang terletak di sisi dinding kamar mandi. Berjalan pelan menuju lemari pakaiannya dan mengenakan baju.


Jika tidak sedang ada pekerjaan yang terlalu berat, biasanya Hasan lebih memilih mengisi waktu luangnya untuk sekadar menonton televisi di ruang tengah atau nongkrong bersama teman-temannya. Tetapi kali ini dia sedang malas untuk pergi ke luar.


Hasan duduk di tepian ranjang. Ia mengambil ponselnya. Mengecek beberapa email masuk maupun pesan penting yang berkaitan dengan pekerjaannya.


Hasan, kamu lagi apa?


Dimas ada benarnya, tidak seharusnya dia dekat sana dekat sini. Hasan sudah merasakan bagaimana kesalnya jika orang yang disukainya berdekatan dengan orang lain.


Maka kali ini Hasan lebih memilih menonaktifkan notifikasi dari Bella.


Sekarang, Anha adalah prioritas untuknya.


Setelah itu Hasan berkutat kembali dengann ponselnya. Dia membuka nama kontak Anha ingin rasanya mengiriminya pesan.


Kamu udah tidur belum...


Hasan menggelengkan kepala, buru buru dihapusnya pesan tersebut.


Maaf ya aku tadi aku batalin makan malamnya. Gimana kalau besok aja kita makan mala|


Ah ayolah, kenapa sekaku ini. Hasan mengerutu dalam hati dan menghapus kembali pesan tersebut. Kenapa dia selalu tidak dapat berkutik ketika menghadapi Anha?


Hanya embusan napas lelah yang keluar karena Hasan benar benar tidak tahu harus berbuat apa.


Hasan mematikan sambungan datanya karena tidak mau diganggu siapapun untuk saat ini. Moodnya sedang buruk.


Setelah itu dia membuka laci kecil yang berada di pinggiran rajangnya.


Tangannya tergerak mengambil kotak kecil beludru berwarna merah maroon dan membuka isinya.


Cincin emas yang indah dengan permata di tengahnya. Sebenarnya minggu lalu Hasan sudah membelinya untuk Anha sebagai bentuk keseriusan dirinya dan ingin mengikat komitmen dengan Anha nantinya.


Hasan tersenyum menatap cincin indah tersebut.


“Sabar, ya, An. Tunggu waktu yang tepat. Aku bakalan ngelamar kamu.”


***


IG penulis: Mayangsu_